Kebaktian Pekan Keluarga Wari Ke pitu 2021 : Pilipi 4:8-9

Invocatio  :“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya  mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat.5:16)

Bacaan       : Pengkhotbah 12: 13-14

Kotbah       : Pilipi 4:8-9

Tema         : Keluarga Yang Baik ( Jabu Si Mehuli)

Tiba saatnya  kita masuk kepada pekan kebaktian keluarga yang terakhir tahun ini. Mulai dari hari 1-6, kita sudah banyak mendengarkan Firman Tuhan yang memperlihatkan dengan jelas bagaimana pentingnya peran keluarga dalam perubahan hidup berjemaat. Walaupun keluarga adalah komunitas sosial terkecil, tetap dalam gereja peranan keluarga sangatlah penting, karena kehidupan berjemaat itu dimulai dari keluarga yang takut yang Tuhan dan Jemaat yang baik dimulai dari keluarga yang baik.

Teks

Bagian renungan pekan kebaktian keluarga yang terakhir merupakan bagian dari “Nasihat-nasihat  terakhir” yang ditulis Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi. Hal ini dimulai dari nasihat yang diberikan kepada Euodia dan Sintikhe, supaya sehati dan sepikir dalam Tuhan. Rupanya ada ketidak sepahaman antara mereka dalam kehidupan mereka sebagai jemaat. Lebih jauh Rasul Paulus tidak mencari siapa yang benar dan salah, yang akan memerlukan waktu dan bisa membawa jemaat ke arah perpecahan, ia juga tidak mengatakan saling meminta maaf, menahan emosi, mengampuni tetapi Paulus mengatakan “supaya mereka sehati-sepikir”, apalagi mereka  adalah orang-orang “berjuang  dngan aku, (Plp. 4:3)”, jadi sebagai orang percaya pasti mau menyisihkan kepentingan pandangan pribadi untuk menempatkan Tuhan diatas  segala kepentingan. Dalam konteks inilah Paulus dalam ay.8-9, memberikan sebuah rangkuman atas nasehatnya di Flp.4:2-7.

Ada 7 kata sifat yang sebaiknya dipikirkan orang percaya dalam ayat 8:

- Semua yang  “benar” (Yun: Aletheia)

- Semua yang  “mulia” (Yun: Semna)

- Semua yang  “adil” (Yun: Dikais, yang menunjuk pada apa yang sesuai dengan aturan)

- Semua yang “suci” (Yun: Hagna)

- Semua yang “manis” (Yun: Prosphilia, hal yang menimbulkan kasih)

- Semua yang sedap didengar (Yun: Euphema, hal-hal yang layak untuk didengar oleh Allah)

-Semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji (mutu yang sangat baik dan mendatangkan kesaksian yang baik)

“Jadi akhirnya”, dengan memikirkan hal-hal diatas berarti orang percaya menempatkan pikiran dan fokus kepada Allah dan pengajaranNYA. Karea pola pemikiran yang positif adalah pola utama cara berpikir orang yang percaya kepada Tuhan.

Setelah Paulus, mengajak untuk memiliki pikiran yang positif, maka lanjutannya adalah melakukan perbuatan yang positif. Hal ini bukan teori saja, karena Rasul Paulus pun sendiri sedang (Present) dan sudah (Past) melakukannya. Dan ayat 9 ditutup denganhasil dan janji ”Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu”, (bnd:Mat.28:20..dan ajarlah mereka melakukan segala yang telah Ku perintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Dengan katalain, penyertaan Tuhan, akan mampu kita rasakan hanya dengan memikirkan dan melakukan hal yang baik). Hal itu juga yang dipertegas dalam Mat. 5:16, hendaklah bercahaya dengan memperlihatkan  perbuatanmu yang baik, dan orang lain akhirnya memuliakan Allah. Dan juga pembacaan yang pertama Pengkhotbah 12: 13-14, sekalipun hidup dipenuhi dengan kesia-siaan yang akan segera berakhir tetapi hidup harus memiliki makna. Takut akan Tuhan, ketaatan kepada perintah-perintah-Nya membawa tujuan dan kepuasaan yang tidak dapat ditemukann melalui apapun.

Aplikasi

1.Keluarga yang baik adalah keluarga yang visoner dan misioner dengan memikirkan yang baik, melakukan  yang baik.

2.Keluarga Visioner selalu mampu melihat peluang yang ada di depan dan selalu belajar mengenal potensi diri. Keluarga Visioner akan selalu memperbaharui diri dengan menerapkan 7 kata sifat yang harus ada dalm hidup orang percaya, siap melayani dan mau bermitra dengan orang lain. Tahun pelayanan “generasi menjadi berkat” akan segera berakhir dan kita akan menyonsong tahun pelayanan “ Kreatif merawat Lingkungan”. Tentu untuk menyukesekan tahun pelayanan juga dimulai dari keluarga, setiap anggota keluarga diharapkan menjadi misioner2 yang mendengar dan melakukan. Tentu kesadaran bahwa Allah yang pencipta (kreator), mengharapkan partisipasi aktif kita sebagai ko-kreator untuk  menjaga dan merawat lingkungan yang ada disekitar kita, sebagai ciptaan yang segambar dan serupa dengan Allah.

1.Keluarga tidak boleh berhenti meningkatkan daya kreatifitasnya menuju komunitas yang kreatif, kalau dulu kita mendengar slogan “buang sampah pada tempatnya”, maka sekarang kita mendengar  “sebelum buang sampah, jangan lupa pilih dan pilah dulu”,atau  mungkin ada kretifitas-kreatifitas lainnya, yang belum pernah ada tetapi bisa kita pikirkan maka marilah kita lakukan. Karena keluarhga yang baik adalah keluarga yang  sudah dan akan selalu mendengar dan melakukan, visioner dan misioner.

Pdt. Sri Pinta Br Ginting, S.Th

GBKP Rg.Cileungsi

Kebaktian Pekan Keluarga Wari Keenam 2021 : Matius 2:1-12

Invocatio : “Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel” (Mikha 5:2).

Ogen       :  Yesaya 7 : 13 – 16

Kotbah    :  Matius  2 : 1 – 12

Tema       :“Keluarga Yang Memberi Persembahan”

(Jabu Si Maba Persembahen)

 Pendahuluan

       Shalom ras mejuahjuah man banta kerina. Kita patut bersyukur karena Tuhan telah meghantar kita ke hari ke enam ibadah Pekan Keluarga GBKP tahun 2021 ini. Puji syukur pada Tuhan kita Yesus Kristus yang memberiken waktu dan kesempatan kepada kita dan keluarga beribadah pada padaNya. Tema umum kita dalam Pekan Keluarga kali ini yaitu, “Keluarga Yang Baik.”  Menjadi keluarga yang baik adalah impian, idaman dan harapan setiap insan terlebih anak-anak Tuhan. Keluarga yang baik alangkah baik dan indahnya. Keluarga yang baik dan benar adalah alamat dan tujuan segala berkat-berkat yang sudah disiapkan dan disediakan Tuhan (bdk. Mazmur 133).

       Isi/ Penjelasan

       Berbicara tentang keluarga yang baik itu luas sekali. Keluarga yang baik bisa ditinjau dari segi pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, pergaulan sosial masyarakat, dan lain sebagainya. Karena itu perlu pembatasan atau dibatas pembahasan perihal keluraga yang baik ini. Kita mau melihat dan mengukur keluarga yang baik yang dimaksudkan dari teks dan tema kita. Keluarga yang baik yaitu keluarga yang  beradvent dan bernatal. Keluarga yang beradvent dan bernatal artinya keluarga/ rumahtangga yang tetap sedia dan siap menanti kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus. Baik kedatanganNya kali kedua maupun peringatana kedatanganNya melalui Natal dan ibadah Natal. Sekalipun di tengah pandemi covid 19 kita tetap siap sedia, tetap menanti dan bersiap menanti kedatanganNya. 

      Dalam beradvent dan berNatal di tahun ini, keluarga yang baik adalah keluarga yang membawa dan memberi persembahan kepada Tuhan. Orang/ para Majus menjadi contoh dalam hal memberi persembahan kepada Tuhan. Orang Majus yang nota bene bukan Yahudi telah datang jauh-jauh dari Irak (Babilon) ke Betlehem untuk menyembah Yesus Kristus Sang Juruselamat yang telah lahir. Mereka tidak mempersoalkan perjalanan yang jauh, sukar dan berbahaya. Mereka tidak hitung-hitungan dengan waktu dan materi mereka. Ketika mereka berjumpa dan melihatNya, mereka sangat bersukacita. Lalu menyembahNya dan memberi persembahan yang terbaik dan berharga kepada Tuhan Yesus yaitu: emas, kemenyan dan mur. Inilah landasan bagi kita dan keluarga kita dalam membawa dan memberi persembahan kepada Tuhan.

      Tuhan Yesuslah yang telah membuat kita menjadi keluarga yang baik dan dibenarkan. KedatanganNya dan beriman kepadaNya membuat kita menjadi baik kembali. Yesus Kristus adalah Anak Allah. Yesus adalah Juruselamat manusia berdosa. Yesus adalah kegenapan Mesias yang dinubuatkan dalam dalam Perjanjian Lama, secara khusus dalam Mikha 5:2 (invocatio) dan Imanuel (Allah beserta kita) dalam Yesaya 7:13-16 sebagai bacaan. Iman kita kepada Tuhan Yesus membuat kita dan keluarga kita menjadi baik. Karena itu sebagai ucapan syukur kita kepada Allah yang membuat kita baik di dalam Yesus Kristus yaitu membawa dan memberi persembahan. Kita yang jahat, berdosa dan buruk oleh karena dosa telah menjadi baik dengan jalan menebus kita. 

      Aplikasi dan penutup

·         Kita akan segera memasuki Minggu-Minggu Advent dan selanjutnya Natal. Minggu Advent dan Natal mengingatkan kita untuk terus bersiap dan siap sedia menyambut kedatangan kembali Tuhan kita Yesus Kristus. Kita tidak tahu kapan waktu kedatanganNya karena itulah kita harus bersiap dan mempersiapkan diri setiapa saat. Keluarga yang baik adalah keluarga yang selalu siap dan mempersiapkan diri menyongsong kedatanganNya. Jangan lengah dan jangan kendor. Setiap hari adalah waktu bersiap bagi kita dan keluarga.

·         Tema: “Keluarga Yang Memberi Persembahan.” Salah satu wujud dan bentuk kita bersiap dan mempersiapkan diri yaitu membawa dan memberi persembahan kepada Tuhan kita. Keluarga yang baik dan benar adalah keluarga memberi persembahan kepada Allah. Persembahan adalah ucapan syukur atas kebaikanNya yang telah menyelamatkan kita melalui kedatanganNya. Persembahan adalah buah iman atas keselamatan yang telah dianugerahkan kepada kita. Orang Majus sebagai contoh dan teladan dalam memberi persembahan kepada Tuhan. Sebaliknya, raja Herodes adalah contoh jahat dan buruk. Alih-alih memberi persembahan, dia malah bermaksud membunuh bayi Yesus Sang Mesias Juruselamat. Herodes takut ada saingan.

·         Kita dan keluarga kita menjadi baik adalah karena kebaikanNya. KebaikanNya menjadikan kita dan keluarga kita baik. Kita yang sebelumnya buruk, berdosa dan jahat telah dibuatNya menjadi baik oleh kedatangan Yesus Kristus dan iman kepadaNya. Kita yang sebelumnya seteru Allah telah dijadikanNya anak-anakNya melalui dan di dalam Yesus Kristus. Karena itulah kita mengucap syukur melalui persembahan kita.

·         Persembahan yang hidup, yang kudus, yang berkenan kepada Allah adalah mempersembahkan tubuh kita. Itu yang dikatakan dalam Roma 12:1. Mempersembahkan tubuh kita kepada Allah adalah ibadah kita yang sejati. Tuhan tidak hanya meminta persembahan syukur, persembahan perpuluhan, persembahan Pesta Panen kita tetapi terlebih persembahan tubuh/ diri kita. Persembahkan diri kita, waktu, pikiran, tenaga dan talenta kita kepada Tuhan Yesus Mesias dan Juruselamat kita.

·         Sudahkah kita dan keluarga kita memberikan persembahan kepada Tuhan Allah kita? Memberi persembahan kepada Tuhan memerlukan didikan dan latihan. Ajar dan didiklah anak-anak kita untuk memberi persembahan kepada Tuhan (bdk. Amsal 22:6; Ef. 6:4). Memberi materi terlebih hidup dan diri. Marilah kita dan keluarga kita memberi persembahan tubuh kita kepada Allah sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan/ baik kepadaNya. Buatlah memberi (persembahan) menjadi kebiasaan/ karakter keluarga kita, Amin.

Pdt. Juris Tarigan, MTh; 

GBKP Rg Bogor

Kebaktian Pekan Keluarga Wari Kelima 2021 : Johanes 4:21-30

Budaya Jabu (Perubahen Kesemalen/ Kebiasaan)

Invocatio      :“Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam, hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Jakub 1:21

Ogen            : Imamat 13:1-11

Kotbah         : Johanes 4:21-30

Tema            : Payo Ibas Paksana (Sesuai-Benar Pada Saatnya)

1.Yesus memilih melintasi Samaria (perjalanan dari Yudea ke Galilea dalam keharusan ay. 4 mungkin berhubungan dengan ay. 1 karena ancaman orang Farisi meski lebih banyak memilih karena keharusan “ilahi” yaitu menggenapi rencana Allah dalam diri Yesus). Ada dua jalan yang bisa ditempuh dari Yudea ke Galilea. Jalan yang melalui daerah orang bukan Yahudi di tepi timur sungai Yordan, yang lebih jauh, jalan yang lebih dekat dan yang paling banyak dilalui adalah lewat Samaria, sekalipun ada permusuhan antara orang Yahudi dan orang Samaria. Ayat. 4 mengisyaratkan bahwa jalan lewat Samaria dipilih karena ada kepentingan tertentu. Mungkin Yohanes mengatakan secara tidak langsung bahwa ada alasan ilahi berkaitan dengan Yesus, bahwa disana juga sedang ditunjukkan kemanusiaan Yesus dimana dia juga mengalami kelelahan (ay. 6 “sangat letih oleh perjalanan”).

Tempat peristiwa ini disebutkan di Sikhar (Tell Askar- Asakar Modern atau Sikhem Kuno). Di sebuah sumur (disebutkan Sumur Yakub meski di PL tidak disebutkan). Penunjuk waktunya, tengah hari, waktu terpanas dari sebuah hari, merupakan bagian gambaran latar belakang narasi itu. Tidak dijelaskan dengan detail tentang kehadiran perempuan Samaria tersebut. Tetapi saat dia datang, para murid Yesus sedang ke kota untuk membeli makanan. Yesus meminta minum kepada perempuan tersebut adalah sesuatu yang tidak wajar pada waktu itu. E. Leideg mengatakan bahwa “pastinya tidak ada orang Yahudi yang masih waras akan melakukan hal itu meskipun ia dalam keadaan hampir mati kehausan.” Alasannya di ay. 9 bahwa “...orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.” Menunjuk kepada permusuhan yang berakar dalam dan bahkan kejijikan yang orang-orang Yahudi rasakan terhadap orang Samaria (Bdk. 2 Raj. 17:33-dst; Yoh. 4:48- perkawinan campur dsb).  Mereka juga menyembah Allah di Gunung Gerizim, mereka menolak Yerusalem sebagai tempat beribadah. Juga ada konflik politik antara orang Yahudi dan Samaria selama berabad-abad.

2.Para murid yang konservatif. Murid-murid-Nya tidak memahami arti dari apa yang sedang terjadi. murid-murid-Nya sendiri merasa heran ketika mereka melihat Yesus bercakap-cakap dengan seorang perempuan (4:27).

3.Berdamai dari dendam yang mandek. Baik dari pihak murid-murid Yesus (mewakili Yahudi) dan juga orang Samaria (diwakili perempuan Samaria). Dari pihak Yahudi (diwakili oleh para murid) merasa bahwa Samaria itu sebagai kafir, sedang Samaria (diwakili perempuan Samaria) tidak mengakui keberadaan Yerusalem. Yesus membuka “jalan buntu” tersebut. Sehingga keselamatan juga menjangkau orang Samaria.

4.Anggapan rendah dari orang lain tidak menghentikan Yesus melalukan kebaikan. Bayangkan ketika kita mau melakukan sesuatu yang baik bagi seseorang dan saat itu juga kita dianggap rendah olehnya, maka kemungkinan besar secara manusia kita akan mengurungkan niat melakukan kebaikan tersebut. Tetapi tidak dengan Yesus. Ketika perempuan Samaria tersebut memandingkan Yesus dengan Yakub maka sebenarnya dia sedang memandang Yesus lebih rendah. Ia membuat penilaian yang salah terhadap Yesus. Ia tidak bisa membayangkan orang lain bisa lebih besar daripada Yakub yang terhormat. Yesus tetap “bersedia disalahpahami” yang kemudian membawa kepada penjelasan-penjelasan yang lebih lanjut.

Perempuan Samaria ini dibawa oleh Yesus dalam percakapan yang intim dan penuh dengan keseriusan. Yesus membuka diriNya untuk dikenal. Ertina, labo la mungkin sitandai Dibata e.  Melalui penyembahan kita dapat mengenal Dia. Perempuan Samaria ini memiliki tingkat pengenalan Akan Allah:

a.Yesus adalah seorang Yahudi (asa usul Yesus, ayat 9, 2)

b.Yesus adalah Tuhan (Lord atau Master) artinya Tuan, ayat 11,

c.Yesus adalah seorang nabi, ayat 19, dan

d.Yesus adalah Mesias, ayat 25.

5.Yoh. 4:22 “Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.” Kata menyembah tidak lagi asing bagi kita. Semua manusia diciptakan dengan roh yang menyembah, apapun latar belakangnya, apapun kepercayaannya. Akan hal ini, mari kita lihat percakapan antara Yesus dengan seorang perempuan dari Samaria yang bertemu di sebuah sumur di kota Sikhar (Yohanes 4:1-42). Setelah Yesus menyampaikan mengenai Air Hidup, pembicaraan kemudian sampai kepada perihal menyembah. Wanita Samaria berkata: "Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." (ay 20). Apakah penyembahan yang benar bergantung pada suatu tempat atau lokasi tertentu? Di Yerusalem kah, atau di gunung Gerizim, dimana nenek moyang bangsa Samaria menyembah? Apakah tempat, tradisi bahkan upacara agama menjamin sebuah penyembahan yang benar, dan para penyembah harus kesana agar menjadi benar? Paradigma seperti itulah yang ada pada perempuan Samaria, dan masih banyak pula orang yang percaya akan hal itu sampai hari ini, bahkan di kalangan orang percaya.

6.Kiblat orang percaya. Yesus mengoreksi apa yang menjadi kepercayaan atau pemahaman banyak orang. Yesus menyampaikan sebuah gebrakan dalam konsep penyembahan, bahwa tempat penyembahan bukanlah di Yersualem, di gunung atau lokasi tertentu manapun, melainkan dimana kita memiliki kerinduan mencari Tuhan. Dan penyembah yang benar adalah mereka yang menyembah Bapa dalam dua hal, yaitu roh dan kebenaran. Penekanan lebih lanjut, bahwa siapapun yang menyembah Dia haruslah menyembahNya dalam roh dan kebenaran. Yesaya 29:13-14 "apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN..." Itu artinya, Tuhan akan selalu ada kapan saja kita mencari Dia. Tuhan selalu hadir setiap kali kita membutuhkanNya. Tidak ada kiblat tertentu harus di Yerusalem ataupun di Gunung Gerizim, sehingga perdebatan mengenai perbedaan tempat sama sekali tidak perlu. Ibadah dalam Perjanjian Baru tidak mengutamakan tempat geografis yang menjadi kiblat. Kitab Ibrani 12:2  "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus", inilah kiblat kita sekarang yang bersifat rohani.

Orang Samaria membatasi dirinya pada kitab Pentateukh (Kejadin seh Ulangen) saja. Perempuan itu menyinggung tentang datangnya Mesias yang mungkin dilandaskan dari kitab Pentateukh-nya yaitu Ulangan 18:15-18 yang diterima oleh orang Samaria sebagai Kitab Suci mereka, yaitu tentang hadirnya nabi yang paling unggul. Yesus dengan pasti  dan tegas mengatakan dengan kalimat Ilahian dalam ayat 26 "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau". Yesus Kristus menyatakan bahwa Dia-lah Kiblat itu!.

7.Perubahan cara beribadah. Mengenal Tuhan tidak sekedar dalam ibadah Minggu tetapi keseharian keluarga (mengenal Tuhan melalui kehidupan sehari-hari dalam keluarga-membangun “gereja” keluarga). Mengenal Allah (nandai Dibata), labo banci silakoken bagi meneliti ilmu pasti, erkiteken Dibata nge si mpetandaken diri man banta arah wahyu khusus (Yesus Kristus ras Pustaka Sibadia) ras wahyu umum (alam semesta). Nandai Dibata labo banci instan, Dibata mpetandaken diriNa banci saja secara progresif ertina tahap demi tahap. Labo lit sada pe defenisi si sempurna kerna ise kin Dibata, labo lit sada pe bahasa doni enda singasup membahasaken ise kin Dibata alu serta. Nandai Dibata labo terjeng logika saja, tapi pe seh ku pusuh janah silakoken ibas kinata kegeluhenta tep-tep wari.

8.Menemukan Tuhan lewat perjumpaan pribadi- Mengenal Dia dengan kebiasaan yang baru. Pada saat yang sama, terlihat jelas hasil dari berita Injil yang disampaikan pada perempuan mantan pendosa itu, dimana dia telah diperbaharui, ia meninggalkan tempayannya itu karena ia telah memiliki air hidup, dan ia langsung menyampaikan berita rohani kepada orang-orang lain dari kota itu dan bersaksi tentang pengalamannya yang menggetarkan tentang perjumpaannya dengan Kristus. Ayat 30 tampak jelas orang-orang lain yang mendengar terkesan, dan pergi bersama perempuan itu pergi ke sumur Yakub dan berjumpa dengan Yesus. Dan hasil yang luar biasa adalah Yoh. 4:42 “dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia." Disana terjadi perjumpaan pribadi lewat pengalaman berjumpa.

9.Berani bersaksi. Mengalami tidak membuat kita diam. Adakah orang percaya tidak berani bersaksi? Atau bahkan orang percaya yang malu bersaksi? Perempuan Samaria ini memiliki keberanian untuk bersaksi kepada orang-orang tentang Yesus (La atena terjeng ngadi bas ia berita e, emaka ipesehna, amin pe kemungkinen besar ia itulak, tapi lanai e ngambati ia erberita), Sang Mesias, Juruselamat (Ay. 28-30). Dari kesaksian perempuan Samaria tersebut semakin banyak orang yang percaya kepada Yesus (Ay. 39-42). Meskipun menurut hukum, kesaksiannya bisa saja tidak diakui (selain karena perempuan juga karena kehidupannya).

Ada banyak keluarga-keluarga yang tidak berani bersaksi. Bahkan ada banyak di antara jemaat dewasa yang tidak mau menjadi tuan rumah dalam PJJ-PA karena ketidakberanian bersaksi- berbagi pengalaman rohani. Tentu hal ini harus berubah.

Perjumpaan adalah perjumpaan rohani. Betapa luar biasanya Yesus ketika ide tentang minum sebagai kebutuhan jasmani Dia ubah menjadi percakapan tentang anugerah Allah- Air Hidup. Ada banyak moment yang bisa kita gunakan saat ini untuk memberitakan anugerah Allah. Mari kita gunakan kesempatan itu, ketika berkumpul dengan keluarga, kita tidak hanya membicarakan hal-hal duniawi, tetapi bisa juga hal-hal rohani meski pertemuan bukan pertemuan formal-rohani.

10.Lokasi ke sasaran penyembahan. Mengutamakan lokasi atau mengutamakan kepada siapa kita menyembah? Dia yang adalah Roh, kehadiran-Nya tidak terbatas pada satu tempat tertentu. Sebagian syair KEE 187: 2. “Adi dua, telu kalak gia.  Tutus pulung ibas gelarNa.  Reh me Ia ku tengah-tengahna.  Sabab e nggo ipadankenNa” menunjukkan bahwa kehadiran Tuhan tidak terbatas tempat.

11.Menyembah Yang Benar, dengan cara yang benar dan di tempat yang benar. Menyembah Dia dengan kebiasaan yang baru serta pengenalan yang baru.

Pdt. Dasma Sejahtera Turnip,

GBKP Rg. Palangka Raya.

Info Kontak

GBKP Klasis Jakarta - Kalimantan
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate