Kebaktian Pekan Doa Wari VII Tahun 2021 ; Yokobus 5 : 13-18

Invocatio   : Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki” (Markus 14:36).

Khotbah     : Yakobus 5 : 13 – 18

Tema           : Hasil Berdoa (Ulih Pertoton)

1.     Pendahuluan

Orang yang sudah merasakan hasil dari doa dengan sendirinya terpanggil untuk terus giat berdoa. Sebaliknya orang yang belum merasakan manfaat dan pentingya berdoa perlu dibimbing untuk berdoa. Perlu dinasehati dan diberi dorongan motivasi untuk berdoa. Sebab kalau dibiarkan saja maka orang tersebut akan terus menerus mengandalkan kekuatan dirinya saja. Tentu saja kekuatan manusia tidak akan memadai untuk mengatasi semua tantangan dan persoalan kehidupan.

Orang Kristen yang dewasa tekun berdoa di dalam kesulitan hidup. Daripada bersungut-sungut menghadapi keadaan, lebih baik menceritakan isi hatinya kepada Allah; dan Allah mendengar dan menjawab doa-doanya. “Menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan di dalam doa” tentunya merupakan suatu tanda dari kedewasaan rohani.

2.     Pendalaman Nats

Yakobus mengingatkan jemaat “Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!” (ay. 13). Keadaan kita di dunia ini beragam, adakalanya kita bersedih dan adakalanya bergembira. Allah telah menetapkan penderitaan dan kegembiraan silih berganti, supaya kita bisa merespons dengan benar dengan sikap yang diinginkan Tuhan. Penderitaan sudah seharusnya membuat kita berdoa, sedangkan kelimpahan membuat kita bersyukur. Berdoa dan Bersyukur merupakan ibadah yang harus terus menerus kita lakukan tanpa henti dalam hidup kita. Ini tidak berarti bahwa doa hanya terbatas pada masa sulit, atau menyanyi hanya kita lakukan ketika bergembira saja. Sebaliknya, ibadah ini dilaksanakan untuk menghasilkan manfaat khusus menurut masa kehidupan yang dihadapi.

Di dalam penderitaan, tidak ada yang lebih cocok dilakukan dibanding doa. Orang yang mengalami penderitaan harus berdoa sendiri, dan juga meminta dukungan doa orang lain. Bukan hanya meminta untuk didoakan tetapi orang yang bersangkutan harus lebih bertekun dalam doa. Masa penderitaan sudah seharusnya menjadi masa untuk berdoa. Untuk tujuan inilah Allah mengizinkan penderitaan datang, supaya kita segera mencari Dia, dan supaya mereka yang pernah mengabaikan-Nya dapat dibawa kembali untuk mencari Dia.

Doa paling dapat diterima Allah ketika timbul dari roh yang merendah dan penuh penyesalan. Penderitaan biasanya memunculkan keluhan. Dan kepada siapa lagi kita harus mengeluh selain kepada Allah dalam doa? Sungguh penting untuk melatih iman serta pengharapan di tengah penderitaan. Dan doa merupakan sarana yang ditetapkan, baik untuk memperoleh maupun untuk meningkatkan kasih karunia di dalam diri kita. Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa!

Di sini terdapat petunjuk-petunjuk tertentu yang diberikan menyangkut orang-orang sakit. Kalau ada seorang yang sakit, mereka perlu memanggil para penatua jemaat yakni gembala atau hamba Tuhan dari jemaat (ay. 14-15). Menjadi kewajiban orang sakit untuk memanggil hamba-hamba Tuhan dan meminta bantuan serta doa mereka. Menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara atau di dalam tubuh Kristus bahwa ada rasa sepenanggungan dan bersama-sama mengangkat pergumulan pada Tuhan. Dan sudah menjadi kewajiban para hamba Tuhan untuk mendoakan orang sakit ketika mereka dipanggil dan diminta melakukan itu.

Ada pertanyaan yang perlu dijawab pada bagian Firman Tuhan yang mengatakan, “… mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan”. Sebab ada orang tertentu yang memutlakkan penggunaan “minyak urapan” hingga menciptakan peluang bisnis baru yaitu bisnis minyak urapan. Padahal yang mutlak itu mendoakan, tentang penggunaan minyak dalam pengertian pengobatan. Bahwa Firman Tuhan tidak melarang pengobatan medis atau mengupayakan pengobatan medis bagi jemaat yang sakit, semuanya dapat dilakukan dalam nama Tuhan atau di dalam pengharapan pada Tuhan. Orang Katolik Roma memakai upacara ini sebagai sebuah sakramen, yang disebut sakramen orang sakit atau minyak suci. Mereka menjalankan sakramen ini tidak untuk menyembuhkan orang sakit, seperti yang dahulu digunakan para rasul, tetapi untuk mengurapi orang yang sudah hampir mengembuskan nafas terakhir. Pengolesan yang dilakukan rasul dimaksudkan untuk menyembuhkan penyakit, sedangkan sakramen perminyakan di gereja Katolik dengan tujuan menghapus dosa yang masih tersisa, dan memampukan jiwa (seperti yang mereka percayai) melawan kuasa-kuasa di udara dengan lebih baik. Bagaimanapun, lebih baik meninggalkan kebiasaan pengolesan dengan minyak ini daripada mengubah tujuannya sehingga cukup bertolak belakang dengan yang dibicarakan di Kitab Suci. Bagaimanapun, ada satu hal yang harus dicermati di sini, bahwa keselamatan si sakit tidak dikatakan terjadi berkat mengolesnya dengan minyak, tetapi dengan doa: doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu, dan seterusnya (ay. 15). Intinya mendoakan orang sakit untuk meneguhkan imannya, baik untuk memperoleh kesembuhan maupun mempersiapkan dirinya menghadap Tuhan.

Doa bagi orang sakit harus dimulai dari dan disertai iman yang hidup. Harus terdapat iman, baik di dalam diri orang yang mendoakan maupun yang didoakan. Ketika seseorang sakit, bukanlah doa yang dingin dan kaku yang memberikan hasil, melainkan doa dengan iman.

Orang Kristen diajarkan untuk saling mengaku dosa dan saling mendoakan (ay. 16). Beberapa ahli tafsir Kitab Suci menghubungkan hal ini dengan ayat 14. Seperti ketika orang sakit memanggil hamba Tuhan untuk mendoakannya, mereka juga harus mengakui dosa mereka kepada para hamba Tuhan itu. Namun, pengakuan yang dianjurkan di sini adalah supaya orang Kristen saling mengakui dosanya kepada sesamanya, dan bukan kepada hamba Tuhan saja. Ketika orang telah saling menyakiti, perbuatan ketidakadilan itu harus diakui kepada mereka yang telah disakiti itu. Terkadang, ada baiknya kita mengakui kesalahan kepada hamba Tuhan yang bijaksana atau sahabat yang mau berdoa bagi kita, supaya ia dapat membantu kita memohon belas kasihan dan pengampunan dari Allah. Namun, janganlah kita berpikir bahwa Yakobus menyuruh kita menceritakan semua kesalahan yang ada pada diri kita atau sesama kita. Sudah cukup apabila kita menyampaikan pengakuan supaya bisa berdamai dengan mereka yang bermasalah dengan kita, atau untuk memperoleh penjelasan bagi hati nurani dan membuat perasaan kita tenang serta tenteram. Sejauh itulah kita harus siap mengakui kesalahan kita. Kadang-kadang ada baiknya juga bagi orang Kristen untuk saling mengungkapkan kelemahan dan pelanggaran mereka, sepanjang sudah terjalin keakraban serta persahabatan di antara mereka, sehingga mereka dapat saling membantu melalui doa-doa mereka untuk memperoleh pengampunan bagi dosa-dosa mereka dan kekuatan untuk melawan dosa-dosa itu. Orang-orang yang saling mengakui kesalahan, sudah seharusnya berdoa bersama dan saling mendoakan. Ayat 13 menyuruh orang untuk berdoa bagi diri sendiri, Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Ayat 14 menyuruh orang untuk memohon doa para hamba Tuhan, sedangkan ayat 16 menyuruh anggota jemaat Kristen untuk saling mendoakan. Dengan demikian kita lihat di sini berbagai jenis doa (yaitu doa dari hamba Tuhan, doa bersama-sama, dan doa pribadi) yang disarankan.

Keuntungan dan manfaat besar dari doa dinyatakan dan dibuktikan, Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya, entah didoakan bagi diri sendiri atau bagi orang lain. Lihatlah contoh dari Elia (ay. 17-18). Orang yang berdoa haruslah orang yang benar. Bukan benar dalam arti sempurna (sebab Elia yang di sini dijadikan teladan bagi kita, bukanlah orang yang sempurna). Ia tidak mencintai ataupun menyetujui kejahatan jenis apa pun. Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar (Mzm. 66:18). Selanjutnya, doa itu sendiri haruslah merupakan doa yang sungguh-sungguh dan dinaikkan secara khusus. Doa itu harus merupakan luapan hati kepada Allah, dan dialirkan dari iman yang tulus. Doa semacam itu sangatlah bermanfaat. Bermanfaat bagi diri kita sendiri, mungkin juga berguna bagi teman-teman kita, dan yang pasti, diterima oleh Allah. Sungguh baik apabila memiliki sahabat yang doa-doanya diterima oleh Allah. Di sini, kuasa doa dibuktikan melalui keberhasilan Elia. Peristiwa ini dapat menguatkan hati kita, bahkan dalam perkara-perkara yang biasa, apabila kita mengingat bahwa Elia adalah manusia biasa sama seperti kita. Dia orang baik yang bersemangat dan sangat hebat, tetapi dia juga memiliki kelemahannya sendiri, dan harus berhadapan dengan masalah-masalah rasa takut dan kekhawatiran sama seperti orang lain. Saat berdoa, janganlah kita memandang jasa manusia, tetapi kasih karunia Allah. Hanya dalam hal inilah kita harus meneladani Elia, yaitu bahwa ia berdoa dengan sungguh-sungguh. Atau, sesuai naskah aslinya, di dalam doa ia berdoa. Belumlah cukup untuk sekadar mengucapkan doa, tetapi kita juga harus berdoa dalam doa. Pikiran kita harus terpusat, kerinduan kita harus teguh dan tekun, dan semua anugerah yang telah kita terima kita manfaatkan. Apabila kita berdoa seperti itu, maka kita akan berhasil di dalam doa. Elia berdoa, supaya hujan jangan turun, dan Allah mendengar permohonannya dalam menghadapi bangsa penyembah berhala yang menganiaya umat-Nya, sehingga hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan, dan seterusnya. Dengan demikian bisa dilihat bahwa doa merupakan kunci yang mampu membuka dan menutup langit. Orang Kristen harus giat dan bersungguh-sungguh dalam doa. Jika melalui doa Elia dapat melakukan hal-hal yang begitu hebat dan luar biasa, maka doa-doa orang benar pasti tidak akan kembali dengan sia-sia. Kalaupun tidak terjadi mujizat dalam jawaban Allah atas doa-doa kita, masih terdapat kasih karunia yang besar.

3.  Pointer Aplikasi

Banyak hal yang bisa kita hasilkan melalui doa sebab kita menghubungkan diri dengan Tuhan sumber pertolongan hidup kita. Dengan berdoa bisa saja Tuhan mengangkat beban kita seketika. Namun bisa saja Tuhan tetap membiarkan kita dengan beban kita tetapi Tuhan memberi kekuatan untuk menanggungnya. Tuhan juga bisa menunjukkan kasih karunia-Nya dalam pergumulan yang kita hadapi. Tuhan menyadarkan kita bahwa betapa besar kasih karunia dengan memberi pengalaman melalui berbagai pergumulan kehidupan.

Berdoa bukan asal berdoa tetapi perlu sikap yang benar di hadapan Tuhan. Kita berdoa dan memohon dengan rendah hati dan tidak memaksa, kita berkata “kalau bisa…”, tapi walaupun tidak bisa “aku tetap percaya dan menerima apapun keputusan Tuhan” sebab Tuhan yang tahu yang terbaik bagi hidup kita. Sebab kita memahami kehendak Tuhan pasti terjadi dalam hidup kita. Dan apa jadinya hidup kita bila kehendak kita yang terjadi bukan kehendak Allah? Kita harus menyesuaikan diri dengan kehendak Allah.

Kita perlu berada dalam hubungan yang benar dengan Tuhan. Dengan kita bertekun dalam doa maka kita menyatakan kebergantungan kita pada Tuhan, kita menyatakan “kami butuh Engkau Tuhan”. Juga sikap hidup yang benar adalah mengutamakan Tuhan, tidak ada hal lain yang lebih penting daripada Tuhan.

Kuasa doa adalah kuasa yang terbesar di dunia. “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (5:16). Tetapi dalam situasi yang berat kadang kala sulit bagi kita mengungkapkan doa yang benar atau memahami kehendak Tuhan dalam penderitaan kita. Untung saja Roh Kudus menolong kita untuk berdoa. Roma 8:26 “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan”.

Setelah doa kita dikabulkan atau setelah penderitaan berlalu ingat untuk mengucap syukur pada Tuhan. Sebab kita mengetahui bahwa bukan dengan kekuatan kita sendiri maka kita terlepas dari pergumulan hidup. Pertolongan Tuhan yang terbesar dan terutama dalam hidup kita. Maka ada gunanya Tuhan mengizinkan penderitaan terjadi dalam hidup kita, supaya mata kita melihat pertolongan Tuhan yang luar biasa. Setelah itu kita memuji kebesaran kasih Tuhan yang boleh kita rasakan. Amin.

Pdt. Sura Purba Saputra, M.Th

GBKP Runggun Harapan Indah

Kebaktian Pekan Doa Wari V Tahun 2021 ; 1 Raja-raja 3 : 1-9

INVOCATIO : Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga , tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah  dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Fil.4:6)

KHOTBAH   : 1 Raja-Raja 3:1-9

THEMA          : ERTOTO GUNA PENTAR

Syalom, saudara yang terkasih,

Ada sebuah buku dengan judul menarik yang ditulis oleh salah seorang public figur di negara kita. Buku tersebut diberi judul GANTI HATI. Buku ini dituliskan oleh Dahkan Iskan dan berisi mengenai pengalaman sakit yang dia alami. Pada tahun 2007, menurut diagosa dokter, dia mengalami penyakit yang disebut sirosis hati. Menurut dokter, yang bisa dilakukan utuk mengatasi penyakit ini adalah dengan melaksanakan operasi transplantasi hati. Dengan kata lain, karena organ hati mengalami pengerasan dan penurunan fungsi pada tubuh jadi hati tersebut harus dibuang dan digantikan dengan hati yang baru. Tentu tindakan operasi ini memiliki resiko tinggi dan juga biaya yang luar biasa. Tentu demi kesehatan, setiap orang pasti akan melakukan segala tindakan yang dapat ditempuh. Hikmah dari pengalaman ini menurut Dahlan Iskan adalah dia jadi memiliki cara pandang baru terhadap banyak hal dalam hidup ini. Jemaat yang terkasih, sesuai dengan tema kita, untuk beroleh hikmat dan kepintaran tidak sama seperti operasi hati yang menggantikan hati lama dengan hati yang baru. Saat ini kita dihadapkan dengan berbagai kepungan tantangan dan bencana yang membuat kita perlu memandang segala sesuatu dengan sudut pandang yang baru pula. Bila kita hanya mengandalkan pengetahuan kita, mungkin kita akan “patah” saat diperhadapkan dengan tantangan zaman ini. Menurut firman Tuhan, kita memerlukan hati yang baru, yang diisi dengan hikmat dan kebijaksanaan yang datang dari Tuhan. Entah dari sisi manapun kita memandang kehidupan ini, kita perlu hikmat dan kepintaran agar tidak salah dalam mengambil pilihan-pilihan hidup. Dalam berbagai tantangan kehidupan, kita perlu menjadi pribadi yang berhikmat agar kita tetap melihat kehidupan ini dalam bingkai iman dan pengharapan kepada Tuhan.

Bagaimana caranya agar kita menjadi orang-orang yang berhikmat dan bijaksana?  Yang pertama: Tuhan memberikan hikmat kepada kita ketika kita menyadari bekas dan jejak perbuatan Tuhan bagi kita. I Raj.3:6 jelas mengatakan kepintaran dan pengetahuan kita tidak cukup sebab tak ada sesuatu pun yang boleh terjadi tanpa tangan Tuhan berperan disana. Salomo pun jelas-jelas mengatakan: karena Tuhan telah menunjukkan kasih setia dan memberi jaminan kepada Daud sehingga ia dapat menggantikan ayahnya sebagai raja. Jadi Salomo mengakui ada Tuhan dibalik keberhasilannya. Salomo sangat sadar jabatan yang dia peroleh bukan semata-mata karena dia anak raja yang berhak mendapatkan takhta. Inilah saatnya kita pun mengaku pengetahuan dan keberhasilan kita bukan terjadi karena kita sendiri tetapi karena Tuhan campur tangan didalamnya. Kita boleh punya segudang pengalaman dan prestasi yg dibutuhkan manusia, tetapi jika Tuhan tidak berkenan tidak ada satu perbuatan tangan kita yang jadi.

Yang kedua; Tuhan mengalirkan hikmatNya kepada orang yang sadar diri di hadapan Tuhan. Dalam I raj.3: 7 Salomo sendiri mengakui bahwa dia masih muda dan belum berpengalaman. Ada kerendahan hati saat dia mengakui kekurangannya serta meminta Tuhan untuk menolongnya. Orang yang sadar diri di hadapan Tuhan akan mengakui kelemahannya lalu mengulurkan tangannya kepada Tuhan dengan tangan yang terbuka supaya Tuhan yang mengisi dan memenuhinya. Tidak ada orang yang meminta dengan gestur tangan yang mengancam/menggenggam kecuali  dia seorang preman. Biasanya ketika seseorang meminta sesuatu, tentu dia melakukannya dengan gestur  tangan terbuka yang artinya kosong dan ada sesuatu yang dapat diletakkan disana. Saat kita meminta hikmat Tuhan dengan tangan terbuka serta mengakui keterbatasan kita, niscaya hikmat dan kepintaran itu akan dialirkan dalam kehidupan kita.

 Yang ketiga; hikmat diberikan kepada mereka yang mengakui betapa rumitnya hidup ini dengan semua kompleksitas yang ada di dalamnya. I raj 3:8-9 Salomo menyadari tantangan yang akan dia hadapi dalam masa mendatang. Salomo ada ditengah bangsa yang besar,  dan kelak  pasti akan sangat sulit mengaturnya. Dia tahu persis karakter bangsanya yang memiliki predikat tegar tengkuk-keras kepala. Oleh karena itu hikmat dan kebijaksanaan diberikan kepada mereka yang menyadari apa yang mereka punyai selama ini tidaklah cukup untuk mengatasi semua tantangan yang harus dihadapi.  Bukankah demikian juga yang terjadi dalam hidup kita. Kadang kita berpikir kita untung, malah yang terjadi kita buntung. Kita yakin ini keputusan yang baik, ternyata dalam sekejap mata berbalik menjadi keputusan yang buruk. Bukankah situasi ini lalu menjadi ajakan Tuhan untuk kita mendekatkan diri kepada Dia?

Jemaat Tuhan yang terkasih, Salomo dalam hal ini mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan meminta di dalam doanya agar Tuhan memberikan hati yang bijaksana, pengetahuan untuk mengolah dan menimbang segala perkara yang terjadi agar pada akhirnya keadilan dan kebaikan terwujud saat dia memimpin bangsanya. Dan ketika dia berdoa dan meminta, Tuhan menjawab doanya dan memberikan hikmat itu kepada Salomo. Kita diingatkan bahwa penting bagi kita untuk dekat dengan Tuhan agar kita berhikmat. Hikmat itu ada dalam hubungan yang relasional. Semakin dekat dengan Tuhan, berarti kita akan semakin bijak dan berhikmat. Semakin jauh dari Tuhan, saat kita berpuas diri  lalu mengatakan: berdoa nggak berdoa sama saja kok… disitu kita patut berhati-hati sebab; dimana ada kesombongan kehancuran akan segera datang.

Biarlah kesaksian hidup Salomo yang menjadi teguran keras bagi kita semua. Di awal pemerintahannya, dia adalah sosok yang sangat bergantung pada Tuhan dan ia begitu terkenal dengan hikmatnya sebagai pemimpin dan raja. Tetapi semakin hari,  dia semakin menjauh dari Tuhan. Akibatnya dia tidak dapat mengontrol diri sendiri (istri banyak, gundik banyak), tidak dapat mengatur istrinya, tidak dapat mengajar anak-anaknya, sehingga diakhir kekuasaannya kerajaannya terpecah, perang terus menerus dan banyak darah yang tertumpah. Jemaat Tuhan, dekatkanlah diri kita kepada Tuhan, mintalah dalam doa kita hati yang berhikmat untuk menimbang segala perkara yang terjadi dalam hidup kita yang lalu atau yang akan datang. Alami pertolongan dan kasihNya niscaya kita beroleh kehidupan serta sejahtera yang melampaui akal pikiran kita. Tuhan memberkati kita sekalian.

Pdt. Eden P. Funu-Tarigan, S.Si (Teol)

GBKP Perpulungen Kupang

Kebaktian Pekan Doa Wari IV Tahun 2021 ; Kisah Para Rasul 2 : 43-47

Invocatio      : Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban  bakaran di atas mezbah itu. (Kejadian 8:20)

Khotbah        : Kisah Para Rasul 2:43-47        

Tema              : Tetap Menyembah dan Saling Mengasihi (Tetap Ersembah Ras SIkelengen)

1. PENDAHULUAN

Sebagai makhluk social, manusia tidak dapat lepas dari orang lain. Dalam rangka memenuhi kebutuhan ini, orang-orang bergabung untuk membentuk suatu komunitas. Biasanya, komunitas terbentuk karena latar belakang dan tujuan yang sama. Begitu pula yang terjadi pada jemaat mula-mula. Mereka membangun persekutuan sebagai sesama orang yang mengaku percaya kepada Kristus. Di dalam persekutuan itulah mereka tumbuh bersama dan membangun dalam iman dan kasih.

2. PENDALAMAN NATS, APLIKASI & PENUTUP

Dalam ayat-ayat ini kita mendapati firman Allah sebagai sarana untuk memulai dan melanjutkan pekerjaan anugerah yang baik dalam hati banyak orang, sebab Roh Tuhan bekerja dengannya. Marilah kita lihat cara kerjanya.

Mereka tetap menjaga dengan baik ketetapan-ketetapan yang kudus, dan memberikan segala contoh kesalehan dan ibadah secara berlimpah, sebab Kekristenan, jika kuasanya diakui, akan mencondongkan jiwa untuk bersekutu dengan Allah dalam segala cara yang sudah ditunjuk-Nya bagi kita untuk menemui-Nya, dan yang di dalamnya Ia berjanji untuk menemui kita.

Mereka tekun dan setia mengikuti pemberitaan firman. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, dan tidak pernah mengingkari atau meninggalkannya. Atau, seperti yang bisa dibaca, mereka bertekun dalam ajaran atau perintah rasul-rasul. Dengan baptisan mereka dimuridkan untuk diajar, dan mereka bersedia diajar. Perhatikanlah, orang-orang yang sudah menyerahkan nama mereka kepada Kristus harus dengan kesadaran hati nurani mendengarkan firman-Nya. Sebab dengan berbuat demikian kita memberikan kehormatan kepada Dia, dan membangun diri kita di atas dasar iman kita yang paling suci.

Mereka menjaga persekutuan orang-orang kudus. Mereka bertekun dalam persekutuan (ay.42), dan dengan sehati berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah (ay.46). Mereka tidak saja mengasihi satu sama lain, tetapi juga banyak bergaul satu sama lain. Mereka sering bersama-sama. Ketika mereka menarik diri dari angkatan yang jahat itu, mereka tidak lantas menjadi para pertapa, tetapi sangat akrab satu dengan yang lain, dan memanfaatkan segala kesempatan untuk saling bertemu. Di mana kita melihat satu murid, kita akan melihat lebih banyak murid lain, seperti sekawanan burung. Lihatlah bagaimana orang-orang Kristen ini saling mengasihi. Mereka saling peduli, saling berbela rasa, dan dengan sepenuh hati mendukung kepentingan satu sama lain. Mereka bersekutu dalam ibadah. Mereka bertemu dalam Bait Allah: di sanalah tempat mereka bertemu. Sebab persekutuan bersama Allah adalah persekutuan terbaik yang dapat kita miliki satu sama lain (1Yoh. 1:3). Amatilah:

(a) Mereka setiap hari ada di Bait Allah, bukan hanya pada hari-hari Sabat dan hari-hari raya, melainkan juga pada hari-hari lain, setiap hari. Menyembah Allah haruslah menjadi pekerjaan kita sehari-hari, dan, bila ada kesempatan, semakin sering dilakukan secara umum, semakin baik. Allah mengasihi pintu-pintu gerbang Sion, begitu pula seharusnya kita.

(b) Mereka sehati. Bukan hanya tidak ada pertengkaran atau perselisihan, melainkan justru ada kasih suci yang melimpah di antara mereka. Dan mereka dengan sepenuh hati bergabung dalam ibadah-ibadah bersama. Meskipun mereka bertemu dengan orang-orang Yahudi di pelataran Bait Allah, orang-orang Kristen membentuk kumpulan sendiri, dan sehati sejiwa dalam melakukan ibadah mereka sendiri.

Mereka sering kali berkumpul untuk melaksanakan ketetapan perjamuan Tuhan. Mereka terus memecahkan roti, untuk merayakan kenangan akan kematian Guru mereka itu, seperti orang-orang yang tidak malu mengakui hubungan mereka dengan, dan kebergantungan mereka kepada, Kristus dan Dia yang disalibkan. Mereka tidak bisa melupakan kematian Kristus, tetapi sebaliknya, mereka tetap menjaga kenangan akan kematian-Nya itu, dan menjadikannya sebagai kegiatan mereka yang tetap, karena hal itu sudah ditetapkan Kristus, untuk diteruskan kepada angkatan-angkatan jemaat yang berikutnya. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing. Mereka memandangnya tidak pantas merayakan perjamuan Tuhan di Bait Allah, sebab ini adalah ketetapan khas Kristen, dan oleh sebab itu mereka menjalankan ketetapan itu di rumah-rumah pribadi, memilih rumah-rumah milik orang yang sudah menjadi Kristen, yang dianggap nyaman, dan yang menjadi pangkalan utama di lingkungan setempat. Dan mereka pergi dari tempat-tempat ibadah kecil atau kapel-kapel keluarga ini, yakni rumah-rumah yang berfungsi sebagai tempat ibadah, dan di sana mereka merayakan perjamuan Tuhan dengan orang-orang yang biasa bertemu untuk menyembah Allah.

Mereka terus berdoa. Setelah Roh dicurahkan, seperti juga sebelumnya, sewaktu mereka menantikan Dia, mereka tak putus-putus berdoa. Sebab doa tidak akan pernah tergantikan sampai nanti tertelan dalam puji-pujian yang kekal. Memecahkan roti dilakukan di antara bekerja dan berdoa, sebab memecahkan roti ini merujuk pada keduanya, dan membantu kedua-duanya. Perjamuan Tuhan adalah khotbah bagi mata, dan peneguhan firman Allah bagi kita. Dan perjamuan Tuhan adalah dorongan bagi doa-doa kita, serta ungkapan yang khidmat akan pengangkatan jiwa kita ke hadirat Allah.

Mereka berlimpah dalam mengucap syukur, terus memuji Allah (ay.47). Memuji Allah harus mendapat bagian dalam setiap doa, dan tidak boleh dikesampingkan. Orang-orang yang sudah menerima karunia Roh Kudus akan banyak memuji-muji Allah.

Mereka mengasihi dan sangat berbaik hati satu terhadap yang lain. Kasih mereka sama terkenalnya seperti kesalehan mereka. Juga, bersatunya mereka dalam upacara-upacara ketetapan suci membuat hati mereka terajut satu sama lain, dan membuat mereka saling mengasihi.

Mereka sering mengadakan pertemuan-pertemuan kristiani (ay.44): Semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu. Bukan beribu-ribu orang yang ada di satu tempat (ini tidak mungkin dilakukan), melainkan, sebagaimana Dr. Lightfoot menjelaskannya, mereka tetap bersama-sama dalam beberapa kumpulan atau jemaat, sesuai dengan bahasa, bangsa, atau ikatan-ikatan lain, yang membawa dan menjaga mereka tetap bersama-sama. Dan dengan bergabung seperti itu, karena dipisahkan dari orang-orang yang tidak percaya, dan karena berdasarkan pengakuan iman dan kewajiban-kewajiban agama yang sama, mereka dikatakan bersama-sama. Mereka berkumpul bersama-sama, dan dengan begitu mengungkapkan serta meningkatkan kasih mereka satu terhadap yang lain.

Segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Mungkin mereka makan di meja makan yang sama (seperti orang-orang Sparta pada zaman dulu), supaya bisa akrab, tenang, dan bebas berbincang-bincang. Mereka makan bersama-sama, sehingga orang-orang yang mempunyai banyak bisa mendapat lebih sedikit, dan dengan demikian dijauhkan dari godaan kelimpahan. Dan orang-orang yang mempunyai sedikit bisa mendapat lebih banyak, dan dengan demikian dijauhkan dari godaan kelaparan dan kemiskinan. Atau, ada perhatian yang sedemikian rupa satu terhadap yang lain, dan kesiapan yang begitu rupa untuk membantu satu sama lain bila dibutuhkan, sehingga dapat dikatakan, segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, sesuai dengan hukum persahabatan. Yang satu tidak kekurangan apa yang dimiliki yang lain, sebab ia sendiri bisa memilikinya jika ia minta.

Mereka sangat bergembira, dan sangat murah hati dalam menggunakan apa yang mereka miliki. Selain hari-hari raya mereka yang sakral (dengan memecahkan roti di rumah masing-masing) agama mereka banyak terlihat dalam perjamuan makan bersama-sama. Mereka makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati. Mereka membawa serta penghiburan-penghiburan dari meja Allah ke meja mereka sendiri, yang mempunyai dua dampak baik atas mereka:

(1) Kebersamaan itu membuat hati mereka merasa sangat senang, dan membesarkan hati mereka dengan sukacita yang kudus. Mereka makan roti dengan sukaria, dan minum anggur mereka dengan hati yang senang, karena tahu bahwa Allah berkenan akan perbuatan mereka. Orang lain tidak akan memiliki alasan untuk bergembira seperti yang dimiliki orang-orang Kristen yang baik. Sungguh sayang memang, tetapi hanya orang-orang Kristen yang bisa memiliki hati yang bergembira demikian.

(2) Kebersamaan itu membuat mereka sangat murah hati kepada saudara-saudara mereka yang miskin, dan membesarkan hati mereka di dalam perbuatan amal. Mereka makan bersama-sama dengan tulus hati, en aphelotēti kardias– dengan murah hati. Menurut sebagian orang: mereka tidak makan makanan mereka sendiri, tetapi sebaliknya, mengundang orang miskin untuk makan di meja mereka, tidak dengan menggerutu, tetapi dengan hati yang begitu bebas lepas. Perhatikanlah, sudah selayaknya orang-orang Kristen membuka hati dan tangan mereka, dan dalam setiap pekerjaan baik menabur dengan berlimpah. Allah sudah menabur kepada kita secara berlimpah, walaupun kondisi kita kurang baik, seperti saat sekarang masa-masa pandemik Covid-19. Jadi Dia juga berharap untuk menuai dengan berlimpah dari kita.

Mereka menggalang dana untuk amal (ay.45,46): Mereka menjual harta milik mereka. Sebagian orang menjual tanah dan rumah mereka, sebagian yang lain menjual hewan ternak dan perlengkapan rumah mereka, dan menyumbangkan uang kepada saudara-saudara mereka, sesuai dengan keperluan masing-masing. Ini bukan untuk menghancurkan harta milik (seperti yang dikatakan Tuan Baxter), melainkan untuk menghancurkan sifat mementingkan diri sendiri. Dalam hal ini, ada kemungkinan, mereka mempunyai pandangan pada perintah yang diberikan Kristus kepada si orang kaya itu, sebagai ujian bagi ketulusannya, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin. Bukan berarti bahwa ini dimaksudkan sebagai contoh untuk dijadikan aturan yang tetap dan mengikat, seolah-olah semua orang Kristen di segala tempat dan masa harus menjual harta benda mereka dan menyerahkan semua uangnya untuk berderma. Sebab surat-surat Rasul Paulus, setelah ini, sering kali berbicara tentang pembedaan antara yang kaya dan yang miskin, dan Kristus sudah berkata bahwa orang-orang miskin selalu ada pada kita, dan akan selalu ada, dan orang kaya harus selalu berbuat baik kepada mereka dengan memberikan sebagian dari hasil-hasil serta keuntungan-keuntungan mereka. Hal ini tidak bisa mereka lakukan, seandainya mereka harus menjualnya, dan memberikan semuanya sekaligus. Tetapi perkara yang ada di sini adalah perkara yang luar biasa, sebab:

(a) Mereka tidak terikat kewajiban apa pun dari perintah ilahi untuk melakukan ini, seperti yang tampak dari apa yang dikatakan Petrus kepada Ananias (5:4): Bukankah itu tetap dalam kuasamu? Tetapi perbuatan ini merupakan contoh yang patut dipuji tentang bagaimana mereka sudah diangkat mengatasi dunia, sudah memandang rendah dunia, memiliki keyakinan akan dunia lain, mengasihi saudara-saudara mereka, berbelas kasihan terhadap kaum miskin, dan memiliki semangat yang besar untuk menyebarkan Kekristenan, serta memupuknya dalam masa pertumbuhannya. Para rasul meninggalkan semuanya untuk mengikuti Kristus, dan harus memberi diri mereka sepenuhnya pada firman dan doa, dan sesuatu harus dilakukan untuk memeliharanya. Jadi, tindakan murah hati yang luar biasa ini harus dicegah supaya tidak menjadi perbuatan royal seperti yang dilakukan bangsa Israel di padang gurun untuk membangun kemah suci (Kel. 36:5-6). Pedoman kita adalah, memberi sebagaimana Allah sudah memberkati kita. Namun, dalam keadaan luar biasa seperti ini, yang harus mendapat pujian adalah orang-orang yang memberi melampaui kemampuan mereka (2Kor. 8:3).

(b) Yang melakukan perbuatan murah hati ini adalah orang-orang Yahudi, dan orang-orang yang percaya Kristus harus percaya bahwa bangsa Yahudi saat itu tidak lama lagi akan dihancurkan dan mereka tidak akan lagi memiliki harta benda apa-apa, dan karena keyakinan akan hal ini, mereka menjual harta benda mereka untuk melayani Kristus dan jemaat-Nya saat itu.

Allah mengakui mereka, dan memberi mereka tanda-tanda hadirat-Nya bersama mereka (ay.43): Rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda yang beragam, yang meneguhkan ajaran mereka, dan secara tak terbantahkan membuktikan bahwa semua itu berasal dari Allah. Orang-orang yang dapat mengerjakan mujizat-mujizat bisa saja memelihara diri sendiri dan kaum miskin yang ada bersama mereka dengan mujizat, seperti Kristus memberi makan ribuan orang dengan makanan yang sedikit. Pemeliharaan itu bisa terjadi melalui mujizat anugerah (dengan menggerakkan orang-orang untuk menjual harta benda mereka), atau melalui suatu karya mujizat, dan cara mana yang terjadi, kedua-duanya sama-sama membawa kemuliaan bagi Allah.

Tetapi Tuhan tidak hanya memberi mereka kuasa untuk mengerjakan mujizat-mujizat. Itu bukanlah satu-satunya perbuatan yang dilakukan-Nya bagi mereka: Ia juga tiap-tiap hari menambah jumlah mereka. Firman di dalam mulut mereka melakukan keajaiban-keajaiban, dan Allah memberkati usaha-usaha mereka untuk menambahkan jumlah orang-orang percaya. Perhatikanlah, adalah pekerjaan Allah untuk menambahkan jiwa-jiwa ke dalam jemaat. Dan adalah suatu penghiburan besar bagi hamba-hamba Tuhan dan juga orang-orang Kristen untuk melihatnya.

Orang banyak tersentuh olehnya. Orang-orang yang berada di luar, yaitu mereka yang berdiri dan menonton.

Mereka takut pada rasul-rasul itu, dan menaruh hormat terhadap mereka (ay.43): Ketakutanlah mereka semua, maksudnya, orang banyak yang melihat mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang diperbuat oleh para rasul itu. Mereka takut jika para rasul tidak dihormati sebagaimana mestinya maka mereka akan membawa kehancuran ke atas bangsa mereka. Orang kebanyakan menaruh hormat kepada mereka, seperti Herodes takut kepada Yohanes. Meskipun mereka tidak mempunyai semarak lahiriah untuk membuat orang menghormati mereka secara lahiriah, seperti jubah panjang ahli-ahli Taurat membuat mereka menerima penghormatan di pasar, namun mereka mempunyai karunia-karunia rohani yang berlimpah yang benar-benar terhormat, yang menggerakkan orang untuk menaruh hormat terhadap mereka di dalam batin. Jiwa orang-orang yang secara menakjubkan tersentuh oleh khotbah dan kehidupan mereka yang menakjubkan.

Menurut Invocatio : Kejadian 8:20. Kita bisa melihat bagaimana ungkapan syukur Nuh atas kebaikan Allah kepadanya, yang melengkapi belas kasihan bagi pembebasannya. Ia mendirikan mezbah. Sampai saat ini ia tidak berbuat apa pun tanpa petunjuk-petunjuk dan perintah-perintah khusus dari Allah. Ia diberi panggilan khusus untuk masuk ke dalam bahtera, dan panggilan lain lagi keluar darinya. Tetapi, karena mezbah dan korban bakaran sudah merupakan ketetapan ilahi dan ibadah, ia tidak menunggu perintah khusus seperti itu untuk mengungkapkan rasa syukurnya. Orang-orang yang sudah menerima belas kasihan dari Allah haruslah menjadi yang terdepan dalam mengucap syukur, dan melakukannya bukan dengan paksa, tetapi dengan sukarela. Allah berkenan pada persembahan-persembahan yang dinaikkan dengan kehendak bebas, dan pada puji-pujian yang menanti-nantikan Dia.

Mereka menyukai rasul-rasul itu (ay.47). Meskipun kita mempunyai alasan untuk berpikir bahwa ada orang-orang yang merendahkan mereka dan membenci mereka (kita yakin bahwa orang-orang Farisi dan imam-imam kepala berbuat begitu), namun bagian yang jauh lebih besar dari rakyat biasa bersikap baik terhadap mereka. Mereka disukai semua orang. Kristus dengan begitu kejam diperhadapkan kepada, dan diinjak-injak oleh, gerombolan massa, yang berseru, salibkanlah Dia, salibkanlah Dia, sehingga orang akan menyangka bahwa ajaran-Nya dan para pengikut-Nya tidak akan pernah mungkin diperhatikan oleh orang banyak lagi. Namun, di sini kita mendapati mereka disukai semua orang, yang dengannya tampak bahwa ketika mereka ingin menghukum mati Kristus, mereka seperti dihasut oleh para imam yang licik itu. Namun sekarang mereka sudah sadar, sudah kembali berpikir waras. Perhatikanlah, kesalehan dan kasih yang tidak disembunyi-sembunyikan akan mengundang hormat. Dan kegembiraan dalam melayani Allah akan membuat agama menjadi menarik bagi orang-orang yang tidak memeluknya. Sebagian orang membacanya seperti ini, mereka mengasihi semua orang – charin echontes pros holon ton laon. Mereka tidak membatasi kasih mereka hanya kepada orang-orang dari kalangan mereka sendiri, tetapi kasih mereka itu umum dan luas. Inilah yang membuat mereka sangat dipuji.

Orang banyak menggabungkan diri dengan jemaat itu. Ada saja orang yang setiap hari masuk, meskipun tidak sebanyak seperti hari pertama. Dan orang-orang yang masuk itu memang merupakan orang-orang yang harus diselamatkan. Perhatikanlah, orang-orang yang dimaksudkan Allah untuk menerima keselamatan kekal akan berhasil dibawa kepada Kristus pada satu atau lain waktu. Dan, orang-orang yang dibawa kepada Kristus berarti ditambahkan kepada jemaat dalam kovenan yang kudus melalui baptisan, dan dalam persekutuan orang kudus. Ini jugalah yang menjadi gaya hidup kita sebagai orang Kristen, untuk mencari jiwa dan menunjukkan kasih selagi Tuhan Yesus masih memberikan kesempatan kepada kita. Amin.

Pdt. Abdi Edinta Sebayang, M.Th

GBKP Runggun Graha Harapan

Info Kontak

GBKP Klasis Jakarta - Kalimantan
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate