Jadwal Kegiatan

Ibadah Umum - (08PM - 09PM)
Ibaadah Remaja - (09PM - 10PM)

Kebaktian Pekan Keluarga Wari Ke-Pitu 2022 : Efesus 2:1-10

Invocatio : “Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik”.   

      (Kejadian 1 : 31a)

Bacaan     : Yesaya 3 : 10 – 11

Kotbah     : Efesus 2 : 1 – 10

Tema        : Mengerjakan Pekerjaan Yang Baik

1. PENDAHULUAN

Kejatuhan manusia kedalam dosa disebabkan oleh ketidakpercayaan dan ketidaktaatan manusia (Adam dan Hawa) akan apa yang Allah firmankan. Mereka memilih mempercayai tipu muslihat iblis dari pada mempercayai apa yang Allah katakan. Ketidakpercayaan (keraguan) mendatangkan ketidaktaatan (pelanggaran) dan itu adalah dosa yang membawa manusia kepada kematian rohani maupun kematian jasmani, baik pada Adam dan Hawa juga keturunannya. Dosa membawa manusia kepada keterpisahan dengan Allah. Manusia kehilangan “kemuliaan Allah” dan upah dari dosa itu adalah maut. Namun Allah tidak menginginkan anak-anakNya hidup dalam dosa dan menerima hukuman kekal. Oleh karena itu Allah memberikan kasih karuniaNya dalam diri Yesus Kristus yang melayakkan manusia kembali menerima “kemuliaan Allah” dan “janji keselamatan” dari Allah (Roma 6 : 23). Bukan itu saja, dosa mengawali kerusakan ciptaan Allah yang awalnya sungguh amat baik.

2. ISI

Surat Paulus kepada jemaat Efesus mengingatkan jemaat tentang kasih karunia yang telah Allah nyatakan dalam diri Yesus Kristus bagi setiap orang percaya. Hal ini sangat penting dipahami dan dihidupi oleh jemaat Efesus ditengah perkembangan kota Efesus, dimana pada waktu itu kota ini adalah kota yang cukup besar dan terkenal, perkembangannya begitu pesat khususnya di bidang kebudayaan dan keagamaan. Salah satu perkembangan keagamaan yang paling mempengaruhi kehidupan jemaat adalah penyembahan dewi Artemis. Kuil-kuil dewi Artemis berdiri dengan megahnya. Kehadiran Paulus dan Injil yang ia kabarkan membuat ia mendapat pertentangan dari orang-orang Efesus sehingga ia harus meninggalkan kota itu (Kis. 19 :21 – 41).  Dengan mengingatkan kembali tentang kasih karunia dari Allah, Paulus menghendaki agar jemaat hidup dalam iman dan pengharapan kepada Allah, tidak terpengaruh dengan budaya atau agama yang bertentangan dengan Injil serta tetap mampu hidup menunjukkan sikap dan karakter sebagai orang-orang yang telah diselamatkan oleh kasih karunia Allah.

Ada beberapa hal yang ditekankan Paulus dalam Efesus 2 : 1 – 10 yaitu :

1.Ayat 1 – 3 : Siapa Kita Dahulu

Dosa adalah “pelanggaran terhadap hukum atau standart yang ditetapkan Allah. Kita hidup menuruti keinginan daging dan dunia. Oleh karena dosa dan pelanggaran, kita semua sudah mati. Mati dalam artian : 1). Kematian Rohani yang ditandai dengan terputusnya/ terpisahnya hubungan denga nallah; 2). Kematian Jasmani yang ditandai dengan terpisahnya tubuh dan jiwa/roh. Dan jika kita tidak berubah maka kematian kekal akan menyertainya. Kematian kekal dimana manusia akan dibuang ke neraka, yaitu tempat siksaan yang akhirnya membawa manusia jauh dari hadirat Allah untuk selama-lamanya (Mat. 10 : 28; 25 : 41; Ibrani 10 : 31; Wahyu 14 : 11; 20 : 11 – 15).

2.Ayat 4 – 7 : Oleh Kasih Karunia Allah

Kita yang dulunya mati oleh karena dosa, kembali menerima kehidupan dalam anugerah dan kasih Allah. Kematian dan kebangkitan Kristus menjadi jaminan kehidupan dan keselamatan bagi orang percaya.  Sama seperti Kristus yang mati, kita juga mati terhadap dosa dan seperti Kristus dibangkitkan, kita juga dibangkitkan sebagai manusia baru sehingga kita menerima kehidupan yang kekal dan kemuliaan Bersama dengan Kristus di Sorga (ay. 6). Dalam kasih karunia Allah dan oleh iman kepada Yesus Kristus kita diselamatkan dari dosa dan kematian kekal.

3.Ayat 8 – 9 : Bukan Karena Hasil Usaha

Kasih Karunia adalah sesuatu yang kita terima dariAAllah bukan karena hasil usaha atau kelayakan kita untuk menerimanya. Tetapi semata-mata karena Allah begitu menyayangi kita. Allah tidak menginginkan anak-anaknya mati oleh karena dosa sehingga Allah sendiri berinisiatif untuk menyelamatkan kita dengan memberikan anakNya yang Tunggal, yaitu Yesus Kristus (Yoh. 3 : 16). Oleh karena itu tidaklah layak dan pantas jikalau ada yang memegahkan diri dalam kehidupan ini. Kita semua adalah manusia berdosa, yang berada pada titik terendah namun oleh karena kasih karunia Allah kita dilayakkanNya menerima kemuliaan.

4.Ayat 10 : Hidup Melakukan Pekerjaan  Baik

Menerima kasih karunia dengan cuma-cuma bukan berarti kita bisa hidup seenaknya, bukan berarti kita bisa terus menerus hidup dalam hawa nafsu duniawi, menuruti keinginan daging, pikiran yang Jahar dan sikap hidup yang tidak berkenan bagi Allah. Namun sebaliknya, Allah menghendaki setiap orang Kristen menyadari keberadaanNya sebagai orang yang telah diselamatkan untuk hidup dalam iman dan pengharapan kepada Allah, hidup kudus dan benar sesuai firman dan kehendakNya.

3.REFLEKSI

1. Allah telah menyatakan kasih karunianya bagi kita, oleh karena itu sudah sepantasnya dan

seharusnya kita menghargai kasih karunia itu dengan hidup dalam kehendakNya. Hidup dalam kesetiaan dan ketaatan; hidup dalam kebenaran dan kekudusan;  meninggalkan semua hal-hal yang tidak berkenan bagi Allah; hidup dalam Kristus (2 Kor. 5 : 17 “ Jadi siapa yang ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru : yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”.)

2. Kita mau hidup sebagai orang fasik atau orang benar adalah pilihan kita. Namun orang benar akan hidup Bahagia dan menikmati hasil pekerjaannya dan  orang fasik akan mendapat malapetaka dan celaka karena mereka akan diperlakukan menurut perbuatannya (Invocatio).

(orang fasik = orang yang tahu kebenaran namun tidak mau hidup dalam kebenaran, tahu hal yang baik namun tidak melakukannya; orang yang tidak mau hidup dalam “aturan” Allah.

3. Orang-orang yang telah diselamatkan oleh Allah adalah milik Allah. Sebagai milikNya, Allah

mempersiapkan dan menghendaki kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik dalamsetiap  keberadaan dan kehadiran kita (hidup bagi Allah). Kehadiran kita harus mampu menyatakan kasih       karunia Allah  bagi sesama kita, lingkungan dan bagi seluruh ciptaan. Kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan untuk melakukan perbuatan baik.

                                                                                                Pdt. Elba Pranata Barus, S.Th

                                                                            GBKP Rg Bandung Timur

 

Kebaktian Pekan Keluarga Wari Ke-Enam 2022 : Kejadian 1:26-28

Bahan Ogen                : Kolose 1:15-20

Bahan Khotbah           : Kejadian 1: 26-28

Tema                           : Diberkati Allah (Manusia) untuk merawat ciptaan-NYA

A. Pengantar Teks

Pemahaman tentang penciptaan manusia menurut gambar dan rupa Allah adalah hal yang penting, karena berdasarkan pemahaman tersebut, manusia akan menempatkan diri secara benar sebagai makhluk yang diciptakan dan akan menghormati Penciptanya sebagai Oknum yang berkuasa penuh di dalam hidupnya. Manusia adalah ciptaan yang memiliki kedudukan tertinggi dan yang memimpin kehidupan alam semesta ini, karena manusia diberikan akal budi yang melebihi makhluk ciptaan lainnya (M. Suprihadi Sastrosupono, Manusia, Alam, dan Lingkungan, 1984). Kesalahan pengertian terhadap konsep penciptaan manusia, maka manusia akan menjadikan dirinya sebagai allah terhadap dirinya sendiri dan segala sesuatu yang berada di sekitarnya. Penciptaan manusia dalam kitab Kejadian pasal 1 bahwa Allah menciptakan manusia seturut gambar dan rupa Allah menjadikan manusia berbeda dengan ciptaan lainnya yang ada di taman Eden. Menurut Lukas Awi Tristanto, dalam tulisannya “Panggilan Melestarikan Alam Ciptaan” Seiring perkembangan budayanya, manusia yang menganggap dirinya sebagai pusat alam semesta tanpa disadari menjadi dasar sebagai perusak alam lingkungan yang menjadi tempat manusia itu tinggal dan hidup. Eksploitasi dan pembangunan dilakukan guna pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan manusia, dengan mengesampingkan dampak pada lingkungan. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan kehancuran ekologi. Keinginan manusia untuk membangun hidup lebih sejahtera justru semakin merusak bumi. Dalam pekan penatalayanan hari ke-6 ini, kita akan memahami peran serta tanggung jawab manusia dalam karya ciptaan Allah.

B. Isi/Pendalaman Teks

Di dalam kejadian 1:26 “Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, kata menjadikan dalam ayat tersebut berasal dari bahasa Ibrani עשׂה’ asah yang berarti “menjadikan” atau “membuat” dengan memakai bahan. Kata tersebut berbicara mengenai tubuh manusia yang diciptakan oleh Allah dengan menggunakan bahan yaitu debu tanah, “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah” (Kej. 2:7a) dan kata ברא bara’ yang berarti “menciptakan” dengan tidak memakai bahan, dan kata tersebut mengacu kepada jiwa manusia yang diciptakan Allah tanpa memakai bahan melainkan Allah langsung menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (Kej. 2:7b). kata berikut ialah yatsar yang berarti “membentuk”, bukan bertumbuh dan bertambah-tambah (Kej. 2:7).4 Jadi dari ketiga kata tersebut dapat disimpulkan bahwa teori evolusi yang mengatakan “suatu jenis berkembang dan berubah sampai menjadi jenis baru yang lebih tinggi tingkatannya”, hal itu merupakan kekeliruan karena Allah sendiri yang telah menciptakan manusia secara langung baik dengan menggunakan bahan maupun tanpa menggunakan bahan.

Arti kata "tselem" (gambar) adalah suatu gambar yang memiliki bentuk patron. Berarti, gambar tersebut bukanlah baru dibentuk, tetapi tinggal mengikuti bentuk patronnya. contohnya, sebelum seorang menjahit baju, ia terlebih dahulu membuat patronnya. Sedangkan kata "demuth" (rupa) berarti suatu gambar yang modelnya harus sesuai dengan bentuk yang pertama. Kata tselem juga berarti sia-sia (vain), empty (kosong), image (gambar, patung, kesan, bayang-bayang), likeness (persamaan). Pengertian dasar dari kata tselem adalah to shade (melindungi, membayangi, menaungi). Dalam budaya Timur Tengah, tselem digunakan untuk menyatakan suatu bentuk pemberhalaan terhadap suatu bentuk gambar atau patung. Suatu figur yang represntatif untuk diberhalakan. Penggunaan tselem dalam PL menjelaskan tentang gambar dalam konsep penciptaan (Kej. 1:26, 27; 9:6), gambar dalam konsep yang dilahirkan manusia (Kej. 5:3), penekanan tentang siapa yang membuhuh manusia, darahnya akan tertumpah sebab Allah membuat manusia menurut gambar-Nya (Kej. 9:5), patung-patung tuangan yang menjadi berhala (Bil. 33:52), gambar binatang yang diberhala (I Sam. 6:5, 11), patung-patung sembahan (II Raja 11:18; II Taw. 23:17; Yeh. 7:20; 16:17; Amos 5:26), gambar orang (Yeh. 23:14), hidup manusia yang hampa (Mzr. 39:7). Penggunaan demut dalam PL menjelaskan tentang rupa dalam konsep ciptaan (Kej. 1:26; 5:1), rupa dalam konsep keturunan yang dihasilkan manusia (Kej. 5:3), bagan (II Raja 16:10), gambar yang mirip dengan asli, kiasan (II Taw. 4:3), penyerupaan yang menyatakan kiasan (Mzr. 58:5), seperti yang menyatakan penggambaran (Yes. 13:4), serupa yang menyatakan perbandingan yang tidak sama (Yes. 40:18), menyerupai yang menyatakan kemiripan, atau nampaknya/seperti (Yeh. 1:5, 10, 13, 16, 22, 26; 8:2; 10:1, 10, 23:15; Dan. 10:18), berbentuk seperti (Yeh. 10:21).

Manusia pada dasarnya adalah makhluk ciptaan Allah yang paling spesial, karena Allah menciptakan manusia secara langsung, Allah membentuk manusia itu dengan memakai tangan Allah sendiri (Kej.2:7) “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Tidak sama halnya dengan penciptaan makhluk lainnya, Allah menciptakan makhluk lainnya hanya dengan berfirman tanpa Allah membentuk langsung. Allah juga memberikan kuasa kepada manusia atas mahkluk ciptaan yang lain (Kej. 1:26,28), ini juga merupakan salah satu bukti bahwa manusia itu berbeda dari makhluk ciptaan yang lainnya. Hal yang paling membedakan manusia dengan makhluk ciptaan yang lainnya ialah manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. “Di dalam bahasa Ibrani tidak ada kata sambung di antara kedua ungkapan tersebut; teks Ibrani hanya berbunyi “marilah Kita menjadikan manusia menurut gambar rupa Kita.” Baik Septuaginta maupun Vulgata memasukkan kata dan sehingga beri kesan bahwa “gambar” dan “rupa” mengacu kepada dua hal yang berbeda.” Pada kenyataannya kedua kata tersebut tidak memiliki perbedaan yang begitu jauh melainkan kedua kata tersebut memiliki makna yang hampir sama, keduanya saling melengkapi satu sama lainnya. Terbukti kata tersebut dipakai bergantian di dalam penggambaran penciptaan manusia di dalam Kej. 1:27 memakai kata gambar “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakanNya,”sedangkan di dalam Kej. 5:1 di gunakan kata rupa, “dibuatNyalah dia menurut rupa Allah.” Di dalam Kej. 1:26 dan Kej. 5:3 mengandung kedua kata tersebut tetapi dengan urutan yang berbeda, ada yang kata gambar yang terlebih dahulu dan ada pula kata rupa yang terlebih dahulu. Kata Ibrani untuk gambar ialah צלם tselem yang diturunkan dari akar kata yang bermakna “mengukir” atau “memotong.” Maka kata ini bisa dipakai untuk mendeskripsikan ukiran berbentuk binatang atau manusia. Ketika diaplikasikan pada penciptaan manusia dalam Kejadian 1, kata tselem ini mengindikasikan bahwa manusia menggambarkan Allah, artinya manusia merupakan suatu representasi Allah. Kata Ibrani untuk rupa ialah דמות damuwth yang bermakna “menyerupai”. Jadi, orang bisa berkata bahwa kata damuwth di Kejadian 1 mengidentifikasikan bahwa gambar tersebut juga merupakan keserupaan, “gambar yang menyerupai Kita.” Kedua kata itu memberi tahu kita bahwa bahwa manusia mempresentasikan Allah dan menyerupai Dia dalam hal-hal tertentu.” Allah tidak menciptakan manusia dari seekor binatang, tetapi dari debu tanah. Penciptaan yang demikian dengan tegas menolak teori evolusi yang mengatakan bahwa manusia berevolusi dari binatang hingga menjadi manusia. Manusia terpisah dari binatang, tetapi menjadi bagian dari tatanan ciptaan, sehingga relasi antara manusia dengan ciptaan yang lain mendapat penekanan penting dalam Alkitab. Manusia yang diciptakan Allah memiliki dua aspek, yaitu debu tanah dan meniupkan napas hidup ke dalamnya sehingga menyebabkan manusia menjadi makhluk hidup. Ungkapan yang sama juga dikenakan kepada hewan (1:21, 24; 2:19), tetapi hewan tidak diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

C. Tinjauan Teologis

Para nabi yang dipanggil untuk melayani bangsa Israel dan Yehuda adalah Implikasi Teologis tentang Gambar Allah. Gambar Allah yang menyatakan kepribadian, Gambar menyatakan keserupaan bentuk, yang menunjukkan bahwa bentuk luar manusia mengambil bagian dari penggambaran Allah. Rupa menitikberatkan kepada kesamaan daripada tiruan, sesuatu yang mirip dalam hal-hal yang tidak diketahui melalui pancaindera. Dalam hal ini, manusia menjadi saksi kekuasaan Allah atas ciptaan dan bertindak sebagai wakil penguasa. Dengan demikian, kekuasaan manusia mencerminkan kekuasaan Allah sendiri atas ciptaan, yang melibatkan kreativitas dan tanggung jawab manusia. Gambar Allah menunjuk kepada keberadaan manusia yang berkepribadian dan bertanggung jawab di hadapan Allah, yang pantas mencerminkan Penciptanya dalam pekerjaan yang ia lakukan, serta mengenal dan mengasihi Dia dalam segala perbuatan mereka. Tubuh manusia dianggap sebagai sarana yang tepat untuk kehidupan rohani. Allah menciptakan manusia dan mengenalnya (Mzm. 139:13-16), memeliharanya (Ayub 10:12), dan menuntunnya menuju akhir hidupnya.

Gambar Allah sebagai Tanggung Jawab Orang sering beranggapan bahwa gambar kemiripan manusia dengan Penciptanya yang dinyatakan dalam gambar Allah, terletak pada karakteristik manusia yang membedakannya dari binatang, seperti rasio, kekekalan dan konsepnya, dan perasaan moral. Seperti yang dijelaskan oleh Eichrodt, bahwa keunikan manusia sebagai gambar dan rupa Allah terletak pada kesadaran diri dan kemampuannya untuk menentukan diri. Namun menurut, Yonky Karman, (Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, 2007) persoalan bagi teologi biblika adalah kategori-kategori gambar Allah itu diimpor dari luar konteks. Von Rad, menyatakan bahwa dalam kontek Timur Dekat kuno, “tselem gambar” dapat dimaksud sebagai bentuk fisik yang mewakili kehadiran seorang penguasa. Raja yang memiliki kekuasaan di luar daerahnya, dapat diwakili oleh patung dirinya sebagai representasi kehadirannya di daerah itu. Berdasarkan analogi ini, penciptaan manusia menurut gambar Allah, secara negatif menyangkal manusia sama dengan Allah. Gambar Allah bukanlah Allah. Semulia-mulia manusia, ia tetap bukan Allah hanya gambar-Nya saja, yang ternyata hanya berasal dari debu tanah (Kej. 2:7) dan kembali kepada debu (Kej. 3:7). Jika ia memanipulasi untuk dirinya berbagai bentuk ketaatan dan dedikasi orang lain yang seharusnya untuk Tuhan, maka ia mencuri kemuliaan Allah. Gambar Allah bersifat fungsional, yang mana manusia ditempatkan di bumi untuk menunjukkan kedaulatan Allah atas dunia ciptaan dengan cara menaklukkan dan berkuasa atas bumi (Kej. 28).

D. Refleksi

Bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya seharusnya digunakan secara bertanggung jawab untuk menyokong keluarga manusia. Akan tetapi, semua adalah penjaga—bukan pemilik—terhadap bumi ini dan kelimpahannya serta akan bertanggung jawab di hadapan Allah untuk apa yang mereka lakukan terhadap ciptaan-ciptaan-Nya.”(Environmental Stewardship and Conservation). GBKP dalam Garis besar pelayanan (GBP) 2021-2025 menjelaskan bahwa jemaat mengemban sebagai imamat rajani (Royal Priesthood) untuk mengambil bagian dalam bangunan tubuh Kristus melestarikan dan menjaga alam dan berkolaborasi dengan rumusan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan/ SDGs (Sustainable Development Goals). Dalam kaitannya dengan isu lingkungan, gereja memiliki peran sangat strategis dengan ‘hidup sebagai masyarakat yang mewujudkan diri dan kehidupannya sebagai ciptaan yang sudah ditebus’ (Rasmussen, 1996). Artinya, gereja dalam diri anggota tubuh Kristus dapat menghadirkan gaya hidup yang berbeda pada lingkungan sekitarnya; gaya hidup yang bersumber dan berorientasi pada kebenaran Allah dan firman-Nya. Tidak ada organisasi lain di dunia, di mana anggota-anggotanya memiliki komitmen antara satu dengan yang lain. Lebih daripada itu, tidak ada tempat lain di mana tersedia kuasa yang dapat mengubah hati manusia selain di gereja. Dengan pemahaman ini, gereja adalah sungguh jawaban Tuhan atas isu lingkungan dan perubahan iklim yang dihadapi umat manusia saat ini. Beberapa tindakan nyata yang dapat dilakukan gereja adalah: a) meluruskan dan memperdalam pemahaman anggota gereja dan masyarakat mengenai mandat Allah untuk menjaga dan memelihara ‘Taman Allah’ di dunia ini; b) mengembangkan konsep ‘gereja berkelanjutan’ dengan memastikan aset dan fasilitas gereja tidak menjadi sumber pencemaran dan polusi, efisien menggunakan energi khususnya listrik dan bahan bakar, hemat menggunakan kertas, air, dan halaman gereja digunakan untuk kegiatan produktif; c) Memastikan setiap kegiatan gereja (Natal, Paska, Kegiatan gerejawi lainnya) menggunakan makanan akrab lingkungan dan rendah emisi karbon, menggurangi penggunaan bahan tidak akrab lingkungan seperti plasik, styrofoeam, dll; d) mendukung program pemerintah daerah di mana gereja berada di bidang lingkungan hidup, misalnya penamanan pohon, pembuatan lubang biopori, menerapkan daur ulang sampah; e) bekerjasama dengan pemeluk agama lain dalam kegiatan-kegiatan lingkungan; f) partisipasi dalam perayaan-perayaan lingkungan nasional dan internasional, misalnya program Earth Hour setiap akhir Bulan Maret, merayakan hari lingkungan hidup sedunia 5 Juni sebagai pengingat ke jemaat untuk menjaga kelestarian ciptaan Tuhan.

Kebaktian Pekan Keluarga Wari Ke Lima 2022 : Matius 25:21-30

THEMA          : TUTUS IBAS NGELAI

INVOCATIO : Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi  (Kejadian 1:1)

BACAAN       : Kejadian 41: 46-49

 KHOTBAH   : Matius 25:21-30

Syalom, jemaat Tuhan yang terkasih,

 Suatu kali, ada seorang dokter muda yang diberikan kepercayaan dan kesempatan untuk membantu sebuah proses operasi. Bagi sang dokter muda, ini adalah proses operasi pertama   dimana dia  turut mengambil bagian di dalamnya. Ketika salah seorang dokter senior sedang bekerja dan menyelesaikan proses operasi tersebut, sang dokter muda pun angkat bicara dan melapor kepada dokter seniornya. Kepada dokter senior ia mengatakan bahwa dokter senior tersebut telah menggunakan 12 lembar kain kasa dalam operasi yang mereka kerjakan, tetapi ketika operasi hampir selesai dan kasa tersebut dihitung kembali, dokter muda itu hanya mendapati 11 lembar kain kasa saja. Dengan kasar dokter senior pun menjawab bahwa ia telah mengeluarkan semua kain kasa yang digunakan pada tubuh pasien. Sang dokter muda pun bersikeras kain kasa itu hilang satu, tetapi seniornya menjawab; ia akan melanjutkan tugasnya untuk menjahit dan menutup luka operasi pasien. Dengan mata menyala-nyala, dokter muda pun berkata: “Anda tidak boleh melakukannya, pikirkan nyawa pasien!” Mendengar perkataan dan kesungguhannya, dokter senior pun tersenyum  sambil mengatakan: “Engkau telah lulus ujian.” Dokter senior pun berbicara sambil mengangkat kakinya, dan ditunjukkannya kain kasa  ke-duabelas, yang dengan sengaja ia jatuhkan ke lantai. Ternyata dalam seluruh proses operasi yang mereka jalani hari itu, sang dokter senior tengah menguji sang dokter muda untuk melihat  kemajuan, serta tanggung jawab baik etis dan moral sang dokter muda sebagai seorang dokter yang dapat dipercaya.

Jemaat terkasih, lewat perumpamaan tentang talenta pada Matius 25:14-30 kita juga diajak untuk melihat siapa diri kita di hadapan Tuhan; apakah kita hamba-hambaNya yang setia, rajin dan dapat dipercaya ataukah ketika IA datang IA mendapati kita menjadi hamba-hamba yang malas dan tidak bertanggungjawab. Perikop ini dibuka dengan sebuah perbandingan yang ingin menunjukkan tentang hal Kerajaan Sorga. Kerajaan Sorga dibandingkan dengan seorang tuan yang memanggil 3 orang hambanya dan mempercayakan hartanya untuk mereka kelola                                                                                                                                                                                                                                                   dalam jumlah yang berbeda sementara sang tuan pergi ke luar negeri. Talenta sendiri sebenarnya merupakan timbangan/ ukuran yang dipakai untuk menimbang sesuatu yang berharga.  Dalam kisah ini 1 talenta adalah 6000 dinar; dimana 1 dinar adalah banyak upah yang diterima oleh seorang pekerja dalam satu hari. Bila kita konversikan kepada konteks kita; di Kupang misalnya upah minimal pekerja per hari adalah Rp. 67.000. Bila jumah tersebut dikalikan dengan 1 talenta berarti hasil yang didapat kurang lebih Rp. 402.000.000. Mengikuti perhitungan ini, berarti hamba yang menerima 2 talenta  menggandakannya menjadi 4 talenta berarti total memiliki 1,6 miliar rupiah sementara hamba yang menerima 5 talenta dan menghasilkan 5 talenta lagi total memiliki kurang lebih 4 miliar rupiah. Dari jumlah ini kita bisa melihat besarnya “modal” yang diberikan oleh sang tuan kepada para hambanya.  Sikap yang ditunjukkan para hamba itu menjadi kompas bagi kita untuk mengembangkan sikap dan nilai beriman yang Tuhan inginkan dari hidup kita. Nilai-nilai apa sajakah itu?

1. Hamba yang menerima dua talenta dan lima talenta “bersegera” melakukan tugasnya untuk mengelola talenta yang dipercayakan kepadanya tanpa menunda-nunda. Dalam kisah ini kita melihat bagaimana sang tuan tidak mempersoalkan besarnya hasil yang didapat, tetapi yang dilihatnya adalah kemauan untuk mengerjakan talenta itu. Tentu dalam mengelola talenta yang begitu besar ada banyak kendala yang ditemui,bahkan tidak menutup kemungkinan mereka bisa saja mengalami kerugian. Meski demikian  mereka tetap mengerjakan bagian yang dipercayakan kepada mereka dalam kesungguhan.  Dalam hal ini kita belajar bahwa dalam kesungguhan dan tidak menunda-nunda, pekerjaan dan pelayanan kita niscaya memberikan buah yang baik.

2. Sikap berikutnya adalah kebaikan. Para hamba yang mengerjakan bagiannya mendapatkan pujian hamba yang baik (agatos) dan setia (pistos). Dalam hal ini kita dapat melihat kebaikan dan kesetiaan mereka dalam cara mereka mengelola talenta yang ada pada mereka. Mereka bekerja dengan menyadari bahwa talenta itu sifatnya bukan hak milik, melainkan pemberian yang perlu mereka kelola; dan dengan demikian mereka bertanggungjawab kepada pemilik/ sang tuan atas pengelolaan tersebut. Bila kita hubungkan kepada thema Pekan Penatalayanan kita yakni membagikan kabar sukacita lewat seluruh ciptaan,  maka sesuai  juga dengan Invocatio, kita perlu menyadari alam semesta ini adalah milik Allah Sang Pencipta. Kita bukan pemilik, melainkan pengelola yang harus mempertanggungjawabkan seluruh sikap kita atas semesta  ini kepada Allah sang Pemilik  segalanya.

3. Sikap ketundukan kepada Tuhan yang telah memberikan talenta dan kepercayaan  kepada kita. Dalam bacaan pertama kita melihat bagaiman sikap Yusuf yang bekerja keras atas kepercayaan yang diberikan Raja Mesir (Firaun) kepadanya. Tidak jarang kita temui situasi dimana seseorang telah memperoleh suatu jabatan dan ia menjadi lupa diri dan lupa tujuan untuk apa ia ditempatkan dalam sebuah kedudukan. Tidak demikian halnya dengan Yusuf, ia tetap mengerjakan tugasnya dengan total dan kreatif. Hamba ketiga dalam perikop kita tidak mengembangkan talenta yang diberikan padanya karena didorong oleh kekerasan hati dan tidak mau tunduk kepada kedaulatan tuannya. Walaupun ia tahu apa sebenarnya yang harus ia perbuat, ia berdiam diri dan memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Karena itulah kesengajaan untuk berdiam diri dan “membekukan” talenta yang diberikan di mata sang tuan adalah kejahatan dan kemalasan. Kesengajaan untuk tidak mau bertumbuh dan mengembangkan talenta yang diberikan Tuhan adalah dosa di mata Tuhan. Injil Matius dalam pasal 25 dengan tegas sudah mengingatkan kita, untuk menantikan kedatangan Tuhan kita tidak hanya cukup berjaga-jaga (bdk ay. 1-13), tetapi juga harus mengerjakan dan melakukan hal-hal yang mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Sorga.

Jemaat yang terkasih, kita dipanggil untuk menjadi anak-anak Tuhan yang memiliki kesetiaan dalam pelayanan. Memang tidak mudah mengembangkan tiga sikap yang tersebut di atas, tetapi kita juga hendaknya tidak lupa bahwa Tuhan telah memberikan kepada kita “modal/ talenta” dan yang lebih besar dari itu yakni kepercayaan kepada kita untuk mengelola segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita. Bukan  semata-mata soal besar-kecilnya pemberian Tuhan kepada kita karena itu tergantung dari kemampuan kita menerimanya. Yang menjadi penekanan adalah bagaimana Tuhan mempercayai kita untuk mengelola dan mengembangkan pemberianNya. Sebagai anak-anak Tuhan yang menyadari segala sesuatu yang ada pada kita adalah pemberian Tuhan, maka kita perlu benar-benar mengerti akan harga sebuah kepercayaan. Tuhan tidak pernah salah memberikan/ mempercayakan sesuatu kepada kita sebab IA tahu  betul dan mengenal siapa kita.  

Dalam setiap pilihan dan perbuatan pasti ada konsekuensinya. Bagi mereka yang setia, Tuhan akan memberian pujian dan Tuhan akan mempercayakan pekerjaan yang lebih besar lagi, yakni kita ikut berbagi kebahagiaan dengan sang Tuan. Sementara konsekuensi bagi mereka yang tidak setia, Tuhan akan mengambil talenta yang sudah IA berikan dan IA akan memberikannya kepada orang lain yang mau bertanggungjawab. Dan kepada mereka yang tidak setia yang tersisa hanyalah dicampakkan dalam kegelapan yang paling gelap, disana ada ratap dan kertak gigi. Mari kita bersama memeriksa diri; apa saja yang telah diberikan Tuhan dalam hidup kita? Sudahkah kita mengerjakan dan mengelolanya dalam ketundukan kepada Tuhan dan penuh dengan kesungguhan?

Pdt. Eden P. Funu-Tarigan, S.Si (Teol)

GBKP Perpulungen Kupang

Info Kontak

GBKP Klasis Jakarta - Kalimantan
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate