Jadwal Kegiatan

Ibadah Umum - (08PM - 09PM)
Ibaadah Remaja - (09PM - 10PM)

Khotbah Minggu Tgl 13 Juni 2021 ; Amsal 12 : 24-28

Invocatio        : Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya?  Di  hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina. (Amsal 22:29)

Ogen            : Lukas 5 : 1 – 7

Khotbah        : Amsal 12 :  24-28

Thema          : kegigihan membawa berkat (kejingkaten maba ulih)

1.     Pendahuluan

Minggu ini adalah Mminggu etika kerja, dimana kita sebagai manusia sejak diciptakan maka Allah juga telah mengatakan dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu (Kej 3 : 17b), enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu (Kel 20 : 9). Dan masih banyak dalam Alkitab FirmanNya menganjurkan agar kita bekerja masih ada kesempatan diberikan-nya untuk bekerja. Bekerja keras adalah merupakan memotivasi hidup untuk masa depan yang lebih baik. Dan Rasul Paulus mengatakan kepada jemaat Tesalonika "jika seseorang tidak mau bekerja janganlah ia makan " (2 Tes 3 : 10). Bekerja untuk mendapatkan makanan dan kebutuhan hidup, dan hidup untuk bekerja. Bekerjalah dengan gigih maka kita akan mendapatkan berkat. Orang yang bekerja dengan gigih akan beroleh berkat dan berkat yang diperoleh itu dipergunakan untuk memuliakan nama Tuhan, untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan juga untuk menolong sesama agar merasakan berkat yang kita terima itu.

2.     Urian teks -> Bacaan

Tuhan Yesus setelah ia dibaptis di sungai Yordan, maka dia akan melakukan pekerjaanNya, sesuai dengan apa misi Allah ke dunia ini. Pekerjaan itu wajib dikerjakan agar misi kasih Allah terwujud di dunia ini maka dari itu sebelum dia memulai missiNya maka dia akan memilih murid-muridNya, dan bukan Dia tidak sanggup melakukan pekerjaan itu, namun untuk membentuk pilihannya agar memahami bagaimana besarnya arti dari kehadiran sesamanya di tengah-tengahnya. Maka Yesus awalnya ingin menguji keterbukaan para nelayan itu, gimana mereka sudah semalam malaman bekerja namun tidak ada mendapatkan hasil, gagal total hanya kerja letih, kerja keras namun tanpa memperoleh seekor ikan pun. Maka disini Yesus ingin menunjukkan bahwa bekerja keras itu belum tentu berhasil tanpa mendengarkan pesuruhan/perkataan Tuhan Yesus. Yesus menyuruh Simon: bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan, Simon menjawab : Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena engkau menyuruhNya, aku akan menyebarkan jala juga. Mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai robek (Lukas 5 : 5 - 6) disini kita melihat bahwa bekerja dengan mendengarkan apa yang diperintahkan Tuhan Yesus akan mendapatkan hasil yang luar biasa, bahkan hasilnya ikan-ikan yang besar bahkan jalanya hingga robek.

Di dalam kitab Amsal yang merupakan karya raja Salomo, mengingatkan kepada umat Israel dan teks ini merupakan amsal-amsal Salomo. Salomo menegaskan tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa. Bagi mereka-mereka yang dalam kehidupannya bekerja keras, berarti dia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu, maka bagi mereka akan memegang kekuasaan, artinya kerja keras itu mendapatkan keberhasilan, namun bagi pemalas mendatangkan kerja paksa artinya sepanjang hidupnya ia berhadapan dengan kegagalan, dan berkeluh kesah, dan keputusasaan. Kerja keras itu akan mendatangkan keberhasilan dan keberhasilan itu akan mendatangkan kebahagiaan dan kebahagiaan akan membuat orang lain juga ikut merasakan apa yang dihasilkan oleh mereka yang sudah menuai titik bagi orang beriman kita dituntut untuk terus bekerja keras, dan tidak ada tempat bagi si pemalas, sebab bagi pemalas tidak akan menangkap buruannya, artinya tidak akan mendatangkan keberhasilan. Dan bagi orang yang rajin akan memperoleh harta yang berharga.

3.     Renungan

Kegigihan membawa berkah, hal inilah mengingatkan kita semua agar bekerja dengan sungguh-sungguh, semasih ada kesempatan kita mengerjakan pekerjaan yang berkenan bagi Tuhan.

a.  Kita bekerja harus disiplin, sebagai manusia kalau kita mengerjakan pekerjaan tanpa disiplin mustahil kita akan berhasil, kerja karena pekerjaan tanpa menunda-nunda.

b.  Berintegritas, mengerjakan pekerjaan dengan memegang teguh prinsip moral yang baik, jangan kerjakan pekerjaan yang bukan mendatangkan kebahagiaan.

c.   Memiliki profesionalisme kerja. Mengerjakan pekerjaan dengan serius dan tanggung jawab pekerjaan itu adalah bagian dalam hidup.

d.  Dapat diandalkan, setiap pekerjaan yang kita kerjakan maka dapat diandalkan untuk mendatangkan hasil.

e.  Bertanggung jawab. Mengerjakan pekerjaan itu jangan cepat mengolah bila belum berhasil, dan teruslah kerjakan pekerjaan yang sudah dirancang dengan baik, gagal merupakan pintu sukses.

f.   Berharap untuk jauh lebih maju. Pekerjaan itu dikerjakan dengan suatu harapan ada hasil kedepan.

4.     Etos kerja menurut Jansen Sinamo

1.      Kerja adalah amanah aku/kita bekerja tulus penuh syukur.

2.      Kerja adalah Rahmat : aku/kita bekerja penuh tanggung jawab.

3.      Kerja adalah panggilan : aku/kita bekerja tutus penuh integritas

4.      Kerja adalah aktualisasi : aku/kita bekerja keras penuh semangat

5.      Kerja adalah ibadah : Aku/kita bekerja penuh kecintaan

6.      Kerja adalah seni : aku/kita pekerja penuh kreativitas

7.      Kerja adalah kehormatan : aku/kita bekerja penuh dengan keunggulan

8.      Kerja adalah pelayanan: aku/kita bekerja penuh kerendahan hati

Pdt Andarias Brahaman

Ketua Klasis Jakarta Kalimantan 

Khotbah Minggu Tgl 06 Juni 2021 ; Maskus 3 : 20-35

Invocatio    : “Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun” (Mazmur 133:1)

Bacaan       : Kejadian 50:17-21

Khotbah     : MARKUS 3:20-35

Tema          : BERSAUDARA DI DALAM TUHAN (Ersenina Erturang I Bas Tuhan)

Pendahuluan                          

Minggu sesudah Trinitatis umumnya dikenal sebagai "Minggu-minggu Biasa" (Ordinary Time Sundays). Minggu Sesudah Trinitatis ini berjumlah 25 minggu, diletakkan dalam penanggalan setelah Minggu Trinitas hingga sebelum memasuki Minggu Akhir Tahun Gereja. Tema-tema yang diangkat dalam Minggu Sesudah Trinitatis mencakup tema keseharian hidup jemaat, pergumulan hidup gereja dan dunia. Tugas-tugas pelayanan dan missi gereja di tengah dunia menjadi sentral pemberitaan di minggu-minggu ini.

Minggu ini disebut sebagai minggu UEM. Minggu yang merayakan persekutuan gereja kita yang tergabung dalam anggota UEM (United Evangelical Mission) yang berpusat di Jerman. UEM (dulu VEM) berdiri di Jerman di abad ke-18 sebagai cikal bakal RMG yang mengutus penginjil-penginjilnya ke Indonesia untuk mendirikan gereja-gereja Lutheran (mis. HKBP, HKI, GKPI, GKPS, GKE). Meskipun gereja kita GBKP beraliran Calvinis, tetapi di tahun 1962 kita juga menerima penginjil utusan UEM dan mulai bergabung dalam pelayanan UEM. Kerjasama inilah yang membangun berdirinya Zentrum GBKP, Alfa Omega, KWK, dan pelayanan-pelayanan di bidang kesehatan.

UEM bersifat global dan bekerja secara lokal di Afrika, Asia dan Jerman. Sejak berdiri hingga kini, UEM sangat peduli pada upaya penginjilan yang diikuti dengan tugas-tugas sosial. Memberi kesaksian tentang pesan perdamaian Bapa dengan semua umat manusia melalui anakNya Yesus Kristus dan bekerja untuk keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan, itulah yang menjadi misi UEM sekaligus yang menjadi spirit kita dalam menghayati minggu UEM ini.

Pembahasan Teks

Dianggap ‘tidak waras’ atau ‘aneh’ bahkan sampai difitnah karena melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan umum memang tidak menyenangkan. Apalagi kita melakukannya dengan kesadaran penuh, bahwa hal tersebut adalah tindakan yang baik dan benar. Inilah yang dialami Yesus menurut teks khotbah kita Markus 3:20-35. Ajaran Yesus selalu menimbulkan kontroversi bagi sejumlah kelompok. Pertama, keluarga Yesus yang berpikir Dia sudah terlalu lelah dan terganggu jiwaNya (ay. 21). Kedua, ahli-ahli Taurat menuduh Yesus mengusir roh-roh jahat dengan menggunakan kuasa dari “penguasa roh-roh jahat” itu, dan mereka juga menuduh Yesus, bahwa Dia “kerasukan roh jahat” (ay. 22,30). Mereka mengatakan bahwa Yesus kerasukan Beelzebul. Beelzebul dalam bahasa Yunani Βεελζεβουλ dan dalam bahasa Aram yang dihubungkan dengan bahasa Ibrani בַּעַל זְבוּב - Ba'al Zevuv yang berarti בַּעַל – Baal artinya tuan dan זְבוּב – Zevuv artinya lalat. Beelzebul secara harfiah artinya "majikan/tuan dari lalat"  dan ini merupakan ilah orang Filistin yang disembah di kota Ekron dalam Perjanjian Lama.

Bisa kita bayangkan bagaimana sulitnya situasi Yesus saat itu ketika orang-orang terpandang dalam masyarakat dan institusi agama menyatakan hal sedemikian rupa, menyampaikan fitnah yang keji. Namun, Yesus tidak gentar. Dia tahu apa yang sedang dilakukanNya. MisiNya sangat jelas, mewartakan Allah yang adalah Kasih.

Yesus menyingkapkan ketidakbenaran tuduhan para ahli Taurat itu dengan sebuah pertanyaan akal-sehat (logis): “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?” (ay. 23, lanjut sampai ay. 26). Karena kecemburuan atau sikap merasa paling benar, para ahli Taurat itu menjadi buta terhadap kebenaran. Melalui pengusiran roh-roh jahat dan penyembuhan orang-orang sakit Yesus sebenarnya sedang melakukan penghancuran Kerajaan Iblis, bukan membangunnya. Mereka seolah tidak menyadari bahwa pengusiran roh-roh jahat ini menjadi salah satu tanda datangnya Kerajaan Allah. Secara implisit Yesus sebenarnya mengatakan bahwa Dia telah datang untuk membangun Kerajaan Allah dengan pertama-tama menjarah rumah dari si “orang kuat” (ay. 27).

Yesus menegaskan bahwa dengan menuduh diriNya mengusir roh jahat dengan kuasa penghulu setan, para ahli Taurat itu telah melakukan penghujatan terhadap Roh Kudus, dan itu suatu dosa yang tidak terampuni selamanya, “Siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal” (ay. 29). Yesus sedang memperingatkan para pemimpin/pemuka agama Yahudi yang menyatakan karya penyelamatan Allah sebagai pekerjaan si Iblis. Mereka memutarbalikkan kebenaran, menolak karunia keselamatan Allah dan menempatkan orang-orang dalam posisi berisiko juga.

Di akhir perikop ini diceritakan, sementara Yesus masih terlibat dalam perdebatan dengan para ahli Taurat, ibu dan saudara-saudara Yesus datang dan memanggil Dia. Rupanya mereka telah berjalan dari Nazaret untuk membawaNya pulang agar memperoleh istirahat dan kesembuhan yang mereka kira diperlukan olehNya. Akan tetapi, Yesus menggunakan peristiwa ini sebagai kesempatan untuk menunjukkan pentingnya memiliki hubungan rohani dengan diriNya.

Lalu ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, berkata kepadaNya, “Lihat, ibu dan saudara-saudaraMu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Jesus kepada mereka, “Siapa ibuKu dan siapa saudara-saudaraKu?” IA melihat kepada orang-orang yang duduk di sekelilingNya dan berkata, “Ini ibuKu dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu” (ay. 32-35).

“Siapa ibuKu? Siapa saudara-saudaraKu?” Mengapa Yesus mengajukan pertanyaan seperti ini? Tentu saja Dia mengenal para anggota keluarganya. Namun, Dia ingin menyampaikan sebuah pesan penting, bahwa menjadi anggota keluarga Allah tidak ada urusannya dengan hubungan darah dan sepenuhnya berurusan dengan pertobatan, iman, dan ketaatan kepadaNya dari hari ke hari. Menjadi keluarga Allah itu terlihat dengan melaksanakan kehendak Allah, dan ketaatan semacam itu diawali dengan mendengar, mempercayai dan mengikuti Anak Allah. Yesus berkata kepada orang banyak di sekelilingNya, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudaraKu! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Bacaan pertama Kitab Kejadian 50:17-21 menceritakan tentang Yusuf yang menghiburkan hati saudara-saudaraNya yang pada saat itu ketakutan karena Bapa mereka Yakub sudah mati, dan saudara-saudaranya berpikir itu menjadi kesempatan bagi Yusuf untuk membalas dendam. Karena ulah saudara-saudaranya, Yusuf menderita menjadi budak dan dipenjara selama tiga belas tahun. Namun, Yusuf tidak mendendam, ia memperlakukan saudara-saudaranya dengan sangat baik. Ia meminta mereka untuk tidak takut. Bahkan, Yusuf menyatakan akan menanggung makanan dan merawat anak-anak mereka (ay. 21). Mengapa Yusuf dapat bersikap begitu pengertian dan murah hati kepada saudara-saudaranya? Karena Yusuf sadar bahwa di balik semua kejadian itu, ada rencana baik Allah, yaitu untuk memelihara suatu bangsa yang besar (ay. 20). Yusuf memahami bahwa saudara-saudaranya adalah alat Tuhan untuk membawanya datang ke Mesir (bdk. 45:5-8). Demikianlah Yusuf menghibur dan menenangkan hati saudara-saudaranya.

KESIMPULAN

Teks khotbah kita menunjukkan sikap dari keluarga dan juga musuh-musuh Yesus terhadap diriNya. Kedua kelompok ini keliru memahami Yesus, sehingga mengakibatkan kaum keluargaNya secara berlebihan mencemaskan kesehatanNya, sedangkan para musuhNya melemparkan berbagai tuduhan kejam terhadap diriNya. Walau demikian Yesus tetap dengan hati tenang dan bijaksana menghadapi semuanya. Bahkan peristiwa ini Yesus pakai sebagai kesempatan untuk memberitakan Kabar Baik. Terkhusus tentang status keillahianNya dan tentang Kerajaan Allah.

Yesus tidak bermaksud untuk tidak mengakui keluargaNya di tempat umum. Ini bukan berarti Yesus tidak menghormati dan tidak mengasihi ibuNya atau saudara-saudaraNya. Tetapi Dia mau menegaskan bahwa pribadiNya adalah milik semua orang percaya yang mau melakukan kehendak Bapa. Yesus sedang berbicara tentang konteks Kerajaan Allah.  Relasi manusia dengan Allah rusak oleh karena dosa (bdk. Kej. 3:10). Tetapi, kita semua sudah diikat dalam satu persaudaraan karena iman akan Yesus Kristus. ”Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu jauh, sudah menjadi dekat oleh darah Kristus” (Efesus 2:13).

“Dalam Yesus kita bersaudara…. sekarang dan selamanya.” Kita tentu ingat bahwa lagu ini sangat populer terutama untuk kalangan anak-anak di sekolah minggu, syairnya sama dan diulang-ulang. Lagu ini mengingatkan kita akan khotbah kita pada saat ini yang pada intinya berbicara tentang persaudaraan sejati: “Siapa pun yang melakukan Kehendak BapaKu di Sorga, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah IbuKu.” Makna persaudaraan ini melampaui ikatan-ikatan kekeluargaan, ras, budaya dan agama. Dan inilah yang kita rayakan dalam Minggu UEM.

Minggu ini kita merayakan persekutuan gereja kita yang tergabung dalam anggota UEM (United Evangelical Mission) yang berpusat di Jerman. Kebenaran firman Tuhan mengatakan bahwa bagi orang-orang  yang percaya kepada Yesus maka mereka adalah keluarga Kristus. UEM adalah satu keluarga. Walaupun kita berasal dari denominasi Gereja yang berbeda-beda, aliran dan doktrin yang berbeda, juga daerah atau negara yang berbeda, tetapi kita bersaudara di dalam Tuhan (Tema Khotbah). Kemajemukan dan perbedaan tidak membuat kita terpecah dan tidak saling mengerti, tetapi kita saling melengkapi, Kasih Kristus yang mempersatukan kita.

Kemajemukan jangan sampai membuat kita berlaku dan bersikap menjadi ahli-ahli Taurat “zaman now” yang menganggap ajaran Gereja lain salah, sesat atau paling parahnya kita anggap berasal dari roh jahat. Dan kalau pun ada perbedaan yang tidak terhindari menyebabkan terjadi konflik, mari belajar dari sikap Yusuf kepada saudara-saudaraNya, ada pengampunan dan pemahaman bahwa tindakan saudara-saudaranya juga bagian dari rancangan dahsyat Tuhan untuk mendatangkan kebaikan. Sehingga boleh tercapai seperti Firman Tuhan sampaikan dalam Mazmur 133:1 “Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.”

Menjadi berkat bagi bangsa-bangsa adalah tugas yang mulia dan sesungguhnya menjadi tugas utama gereja. Seperti yang telah dilayankan oleh UEM selama ini, gereja perlu bergumul untuk melakukan teladan Kristus yang telah ditunjukkanNya selama pelayanan di dunia ini. Gereja bukan untuk dirinya sendiri, Gereja jangan bersifak egois yang mengganggap kelompok atau golongannya yang paling benar, tetapi Gereja harus senantiasa memiliki kerinduan untuk memuliakan Allah secara bersama-sama. Gereja perlu memikirkan tentang apa yang diharapkan Allah dari Gereja demi bangsa-bangsa. Gereja perlu bertindak dalam upaya-upaya mewujudkan harmoni demi bangsa-bangsa. Gereja bertugas membawa masyarakat dunia mengenal Allah dan memuliakan Dia.

Selamat Hari Minggu.

Selamat menghidupi Minggu UEM.

Pdt. Melda Tarigan

GBKP RG. PONTIANAK

Kebaktian Pekan Doa Wari VII Tahun 2021 ; Kisah Para Rasul 10; 1-4

Invocatio      :Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa (Roma 12:12).

Khotbah        :Kisah Para Rasul 10:1-4

Tema              :Bertekun dalam doa (Ertoto la erngadi-ngadi)

A.Pendahuluan

          Doa merupakan alat kita untuk terus berkomunikasi dengan Tuhan. Dengan doa kita akan selalu intim dengan Tuhan. Doa bukan sekedar meminta apa yang kita mau dari Tuhan, tapi lebih dari itu, yaitu bagaimana kita mengerti dan memahami apa yang Tuhan inginkan, sehingga dalam doa-doa tersebut kita tidak memaksa Tuhan mengikuti kemauan kita, tetapi kita belajar mengikuti kehendak Tuhan. Melalui doa yang terus menerus, hubungan kita dengan Tuhan akan lebih mendalam. Melalui doa yang terus menerus kita benar-benar mendapatkan ketenangan hidup. Bertahan dalam doa yang terus menerus kita akan bertahan kesukaran dan tekanan hidup. Hanya dengan doa kita akan lebih menyerahkan hidup kepada Tuhan.

          Salah satu kelemahan kita adalah tidak memiliki komitmen berdoa untuk bertahan dalam jangka panjang. Kita meledak-ledak dalam berdoa, namun tidak memiliki kesabaran dalam menantikan jawaban Tuhan. Betapa seringnya kita hanya berdoa sebentar, hanya berdoa beberapa waktu, tetapi kemudian kitapun cepat merasa bosan dan kecewa kepada Tuhan. Mari kita lihat bagaimana doa Kornelius telah sampai, naik kehadirat Tuhan yang artinya doanya diperhatian dan didengar Tuhan.

 

B. Isi

Ayat 1: Kornelius adalah seorang perwira pasukan Romawi yang disebut pasukan Italia. Menurut catatan Kisah Para Rasul, Kornelius merupakan orang non Yahudi pertama yang menjadi orang Kristen. Pada waktu itu ia tinggal dikota Kaesarea, yang dikenal sebagai tempat tinggal para petinggi pemerintahan kendudukan Romawi di Israel. Kornelius dikenal sebagai peminpin yang membawahi 100 tentara yaitu sekelompok pasukan cadangan yang direkrut dari Italia.

Ayat 2: Kornelius dan seisi rumahnya adalah orang yang takut akan Allah, Dia mengenal dan menyembah Allah orang Israel, tetapi tidak menjadi orang Yahudi. Dia tetap berada sebagai keadaan non Yahudi dan keadaan hatinya yang takut akan Allah. Kelompok seperti ini walaupun sama-sama menyembah Allah Israel, tetapi orang kafir dalam pandangan orang Yahudi walaupun dia memiliki iman kepada Tuhan, Allah Israel. Tetapi Kornelius ternyata memiliki hati dan tingkah laku yang sangat saleh. Kornelius disenangi oleh orang-orang Yahudi dan diperkenankan oleh Allah. Dia seorang yang memberi banyak bantuan kepada orang miskin dan memiliki kehidupan doa yang sangat baik. Secara khusus Lukas menekankan dua aspek ini didalam kerohanian yaitu memperhatikan orang-orang miskin dan memiliki ketekunan dalam hal berdoa. Lukas mencatat tentang peminpin pasukan Romawi yang saleh (Luk.7:1-10). Orang-orang kafir yang seperti ini sangat mempermalukan orang-orang Yahudi. Kesalehan mereka melampaui kesalehan orang-orang Yahudi yang puas dengan ketaatan menjalankan taurat secara buta dan tanpa memiliki kesalehan yang sejati.

Ayat 3:Seorang malaikat diutus untuk berbicara dengan Kornelius. Malaikat itu terlihat dalam sebuah penglihatan dan dia memerintahkan Kornelius untuk mencari Petrus. Kornelius mengutus orang-orangnya untuk menemukan Petrus, dan Roh Kudus memberi tahu Petrus untuk pergi Bersama mereka.

Ayat 4:Allah mengingat Kornelius, mendengar doa-doanya dan mengetahui kesalehannya.Memang kesalehan tidak dapat membawamanusia kepada keselamatan, tetapi kesalehan juga tidak bisa dilepaskan dari syarat seseorang menjalani hidup hidup beriman yang sejati. Iman tanpa adanya kesalehan adalah iman yang palsu. Demikian juga kesalehan tanpa iman tidak akan membuat seseorang berkenan kepada Allah. Kornelius tidak mungkin dapat menjadi umat Allah jika dia tidak percaya kepada Kristus yang mati menebus dosa manusia. Kata “Allah mengingat engkau” adalah kata-kata yang indah yang disejajarkan dengan Allah mengingat umatNya Israel diperbudakan Mesisr (Kel.2:24), Allah mengingat Rahel yang merasa dirinya tidak berharga (Kej.30:22). Kornelius menjadi contohyang sangat baik tentang bagaimana Allah tidak pernah melupakan ketekunan seseorang di dalam mencari Dia dan beribadah kepada Dia.

C. Penutup

          Tema kita adalah bertekun dalam doa, hal ini berarti berdoa tanpa henti. Doa bukan sekedar meminta apa yang kita mau kepada Tuhan, tapi lebih dari itu, yaitu bagaimana kita mengerti dan memahami apa yang Tuhan inginkan, sehingga dalam doa-doa tersebut kita tidak memaksa Tuhan mengikuti kemauan kita, tetapi kita belajar mengikuti kehendak Tuhan. Doa Kornelius sampai, naik ke hadirat Tuhan, artinya doanya diperhatikan dan didengar oleh Tuhan. Hal ini dapat kita lihat dalam:1) Kesungguhan dalam berdoa. Berdoa secara sungguh-sungguh berarti fokus, ada kesatuan hati dan fikiran, jiwa dan roh disertai penghormatan yang tinggi kepada Tuhan (bnd.Yak.5:17-18).2)Motivasi berdoa kepada Tuhan.Hal ini berbicara soal apa yang menjadi motivasi dalam berdoa (bnd.Yak.4:3). Doa yang dijawab oleh Tuhan adalah yang dilakukan dengan sepenuh hati dan dengan sikap hati yang benar.

Berdoa bukan berarti pasif, berdoa justru membuat kita terbuka terhadap Tuhan akan rencanaNya dan orang lain, kita belajar untuk mengasihi mereka. Doa orang benar besar kuasanya (Yak.5:16) juga ternyata besar kerkatnya. Orang yang suka berdoa justru akan dipakai Tuhan untuk membawa pengaruh besar bagi komunitasnya. Orang yang suka berdoa justru menjadi berkat yang luar biasa bagi orang yang ditemuinya. Kesadaran akan Allah yang melebihi sesuatu, telah menggugah Kornelius dan seisi rumahnya untuk bertekun dalam doa. Dan doa-doa yang mereka naikkan telah menghubungkan mereka dengan Allah. Keterhubungan dengan Allah itulah yang membuat Kornelius dan keluarganya hidup saleh, suka memberi sedekah dan terkenal baik diantara seluruh orang Yahudi. Tuhan tidak membiarkan orang-orang yang tulus hatinya dalam mencari Tuhan. Dia tidak membiarkan orang yang tulus seperti Kornelius berada dalam keadaan tersesat dan tanpa harapan karena tidak mengenal Tuhan Yesus. Kornelius akhirnya akan bertemu dengan Kristus pada waktu yang Dia tetapkan.

Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa (Roma 12:12). Apakah keluarga kita menjadi keluarga yang bertekun dalam berdoa,? Apakah keluarga kita dikenal sebagai keluarga yang saleh?. Seharusnya keluarga kita adalah keluarga yang tekun berdoa. Biarlah kita juga memelihara ketulusan  mencari kebenaranNya, menjalani hidup yang berkenan kepadaNya, Dia akan memperhatikan dan menuntun setiap orang yang sungguh-sungguh dengan tekun dalam doa. Doa belum tentu mengubah hidup orang lain, tetapi setidaknya dengan doa dapat mengubah kehidupan kita sendiri. Jika kita lebih bertekun dalam doa, maka kita akan memiliki iman yang teguh didalam Tuhan. Setiap doa yang kita utarakan akan menumbuhkan iman. Semakin kita sering berdoa maka semakin besar iman kita kepada Tuhan. Mari kita selalu berdoa tanpa henti dalam kehidupan kita.                                               

Pdt.Rena Tetty Ginting

Gbkp Runggun Bandung Barat

Info Kontak

GBKP Klasis Jakarta - Kalimantan
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate