Jadwal Kegiatan

Ibadah Umum - (08PM - 09PM)
Ibaadah Remaja - (09PM - 10PM)

Khotbah Natal 25 Desember 2021 : Lukas 2:1-7

Invocatio      : "Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal 

                      kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.” (1 Yoh. 5:11)

Bacaan         : Jesaya 62:6-12 (Antiphonal)

Khotbah       : Lukas 2: 1-7 (Tunggal)

Tema           : Yesus Telah Lahir (Jesus Enggo Tubuh)

PENDAHULUAN

Injil Lukas menjelaskan bahwa Allah dalam Karya penyelamatanNya bekerja didalam sejarah Dunia, dan memakai siapa saja yang dipilihNya untuk menjadi bagian dalam karya KeselamatanNya bagi dunia.  Bagi penulis Injil Lukas, Natal merupakan peristiwa Sejarah melalui kehadiran Allah sebagai manusia sejati untuk menyelamatkan manusia. Dia menyatakan diriNya sebagai Allah yang berinkarnasi di dalam diri Yesus Kristus, yang lahir di kandang domba di kota Betlehem. Karya Keselamatan Allah yang luar biasa itu justru diwujudkan dengan beragam kontradiksi, mulai dari peristiwa kelahiran Yesus yang penuh dengan kesederhanaan,  Allah yang hadir ke dunia, lahir sebagai manusia di sebuah kandang yang kotor & hina. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang tercatat dalam sejarah dunia, pada zaman Kaisar Agustus di Kekaisaran Romawi ( Luk. 2 : 1 )

PENDALAMAN TEKS

Allah dapat memakai siapa saja untuk menggenapi rencana Karya KeselamatanNya (ay. 1-2)

Peristiwa kelahiran Yesus dalam Injil Lukas diceritakan oleh Lukas dengan ringkas dan sederhana dan memulainya dari perintah sensus yang dikeluarkan oleh Kaisar Agustus yang menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia” (ayat 1 ). Lukas menempatkan kelahiran Yesus dalam sejarah dunia, yaitu pada zaman Kekaisaran Romawi yang dikenal pada zaman itu meliputi seluruh dunia diperintah oleh Kaisar Agustus, yang nama lengkapnya ialah Julius Caesar Octavianus, memerintah tahun 30 BC sampai tahun 14 Masehi. Kaisar Agustus dihormati sebagai Kaisar yang agung dan mulia, dianggap sebagai juruselamat, pembawa berkat dan kemakmuran bagi Romawi. Di jaman itu pulalah Yesus lahir sebagai Juruslamat dunia. Jika Kaisar Agustus dianggap sebagai juruselamat bagi orang Romawi, tapi keselamatan yang diberikannya hanya sebatas berkat duniawi &  kemakmuran & itu pun terbatas hanya bagi orang-orang Romawi saja, sebaliknya Yesus adalah Juruselamat dunia, yang membawa keselamatan bagi dunia, tidak hanya menjamin kehidupan yang sementara di dunia tapi sekaligus menjamin kehidupan yang kekal di surga sebagaimana teks Invocatio kita 1 Yoh. 5:11.

Dengan adanya sensus ini Yusuf dan Maria harus pergi ke Betlehem (ay 3-5) sehingga akhirnya Yesus lahir di Betlehem (ay 6-7), hal ini menggenapi nubuat nabi Mikha dalam Mikha 5:1 yang berbunyi: "Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala".

Tanpa ia sadari, kaisar Agustus melakukan sesuatu yang menyebabkan tergenapinya nubuat Firman Tuhan. Ini bukan sebuah kebetulan, tetapi Tuhan dapat memakai siapa saja untuk menggenapi RencanaNya!

Allah memakai Kaisar Agustus, juga Maria & Yusuf dalam skenario Karya keselamatan yang sudah dinubuatkan oleh para nabi, juga oleh Jesaya sebagaimana Bacaan Alkitab kita, Jesaya 62:6-12, bahwa Keselamatan akan datang atas bangsaNya, keselamatan atas Yerusalem akan dinyatakan.

Menjadi alat Karya Tuhan, menuntut ketaatan walau harus harus melewati berbagai tantangan (ay 3-5):

Sensus ini mengharuskan setiap orang untuk mendaftarkan diri di kotanya sendiri

(ay 3).

Yusuf adalah keturunan Daud (1:27 2:4), demikian juga dengan Maria (1:32,69). Yesus memang harus muncul / lahir dari keturunan Daud (bdk. Yes 11:1 Yer 23:5-6 Mat 1:1,6 Luk 3:31 Ro 1:1-3 2Tim 2:8). Jarak Nazaret ke Betlehem sekitar 80-90 mil. Ini jelas merupakan penderitaan, khususnya untuk Maria yang sudah hamil tua. Mereka taat kepada pemerintah sekaligus juga berserah dan tunduk pada

kehendak & pemilihan Tuhan atas mereka, walau dalam ketaatan dan kepatuhan mereka, bukanlah jalan yang mulus tetapi jalan yang penuh perjuangan & tantangan yang mereka hadapi !

Yesus Lahir di kandang Yang Hina agar bisa dijangkau & dijumpai siapa saja (ay. 6-7)

Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan. Kenapa Allah yang mewujud dalam rupa manusia harus lahir di kandang hewan? Sesungguhnya, Allah sanggup menyediakan tempat yang sangat layak bagi kelahiran Yesus, sang Putra Natal, tapi justru membiarkan diri-Nya hadir di tempat yang paling hina. Itulah Kabar Baik dari peristiwa Natal, walau penuh dengan kontradiksi: Bayangkan ... Allah yang menjadi manusia, Raja di atas segala raja datang bukan dengan kebesaran & kemuliaan tapi dengan kerendahan hati bahkan kehinaan, bukan di Yerusalem, ibu kota kerajaan, tapi di Betlehem, sebuah kota kecil yang tak masuk hitungan,  bukan di istana megah tapi di kandang hina, bukan dengan jubah mewah tapi dengan kain lampin, bukan di singgasana tapi di dalam palungan.

APLIKASI

Allah sanggup memakai siapa saja untuk melaksanakan dan menggenapi rencanaNya, bahkan orang yang tidak mengenalNya sekalipun. Sebagai orang-orang yang sudah mengenal & mengalami kebaikan Tuhan, harusnya kita lebih siap dan bersedia lagi dipakai oleh Tuhan untuk pekerjaan dan karyaNya yang besar bagi dunia ini.

 Menjadi alat Karya Tuhan yang ajaib tidak menjamin perjalanan hidup yang kita lalui akan mudah dan mulus, tapi sebagaimana Yusuf dan Maria, sekalipun mengalami banyak tantangan & pergumulan dalam mewujudnyatakan Karya Allah melalui diri mereka,  mereka tetap taat dan tunduk, menjalani semua skenario Karya dan rencana Allah dalam hidup mereka.

Yesus datang untuk semua orang, tak pandang bulu, miskin atau kaya, bangsawan atau rakyat jelata, tidak ada orang yang terlalu hina untuk datang kepada Yesus. Ada banyak orang, mungkin hingga hari ini, yang tidak berani menghampiri dan menjumpai Tuhan, merasa diri sangat tidak layak karena selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya, menganggap dirinya seorang yang hina dan pendosa. Dan kemudian menghakimi dirinya sendiri bahwa Tuhan pasti tidak mau lagi berjumpa dengan-Nya. Natal adalah solidaritas Allah kepada manusia, Allah yang solider kepada orang-orang yang tak diperhitungkan, tersisih dan termarjinalkan, maka seharusnya dalam perayaan Natal nyata bentuk solidaritas kepada sesama. Natal mengajak kita menyatakan cinta kepada semua orang, terutama yang kecil, lemah dan tak berdaya. Natal meruntuhkan perbedaan jarak, sebab Natal adalah hadiah Allah bagi segenap umat manusia. Refleksi & perenungan : Seberapa banyak prosentase biaya Natal di runggun kita yang diperuntukkan sebagai wujud & bentuk solidaritas bagi sesama?

PENUTUP

Natal yang kita rayakan menegaskan kembali kepada kita, bahwa Allah sungguh-sungguh peduli, solider kepada kita dan Dia hadir mempertaruhkan segala sesuatu, termasuk diriNya, untuk mewujudkan “kesukaan bagi dunia”. Oleh karena itu, sungguh sebuah ironi, ketika Natal hanya menjadi “kesukaan bagi kita”, ketika Natal yang kita rayakan hanya memperlihatkan semakin jelasnya kesenjangan sosial antara yang “berpunya” dengan yang tidak berpunya. Sungguh sebuah ironi & kesalahan besar jika hanya di dalam gereja kita melantunkan pujian: “Hai dunia gembiralah”, sementara di sekitar gereja kita, ada orang yang meratap dan mengais-ngais “tempat sampah” gereja yang penuh dengan kotak-kotak makanan sisa perayaan Natal. Rayakan Yesus yang Telah Lahir, dengan mengembalikan Natal sesuai dengan hakikatnya, menghadirkan kesukaan bagi semua, menghadirkan Kasih dan solidaritas Allah bagi sesama. SELAMAT NATAL, Tuhan Memberkati !

Pdt. Jenny Eva Karosekali

GBKP Rg. Harapan Indah

Khotbah Malam Natal Tgl 24 Desember 2021 : Mazmur 147: 1-11

Invocatio             : IA akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah yang Mahatinggi.

                             Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya tahta Daud, Bapa leluhur-Nya ( Luk 1 : 32)

Ogen                    : Matius 1 : 18-23  ( Tunggal )

Kotbah                : Mazmur 147 : 1-11 ( Responsoria )

Tema                   : IpepalemNa Pusuh Si Getem

Judul Khotbah    : Penyertaan Allah di tengah tragedi Waba

Pendahuluan

Sejak tahun 2019 sampai 2021 adalah tahun yang berat bagi manusia di dunia ini,dengan adanya Wabah Covid 19.  Tak sedikit orang yang kehilangan anggota keluarga, orang yang sakit merasakan kesepian karena tak boleh dikunjungi dan tidak boleh ditemani, banyak orang yang kehilangan pekerjaan, banyak rumah tangga yang hancur,banyak anak yang mengalami kekerasan dan masalah masalah lainnya. Perubahan yang begitu besar memunculkan tragedi pada kehidupan manusia. Dalam siaran live pemakaman pasien- pasien covid , kita dapat menyaksikan bagaimana keluarga hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, dimakamkan dengan peti yang dipacking sedemikian rupa. Keluarga yang terpapar juga hanya disapa dengan jarak 1 meter. Begitu cepatnya perubahan hidup terjadi sehingga tak sedikit yang mengalami gangguan kesehatan mental, gangguan kecemasan karena dijauhi oleh tetangga maupun keluarga, ketakutan, dan kekuatiran.  Pertanyaannya, Dimanakah Allah saat manusia mengalami pandemi covid 19 ini? Apa peran Allah ditengah Wabah?

Firman Allah di Malam Natal ini  diambil dari  Mazmur 147 : 1-11 adalah mazmur ajakan untuk memuji Tuhan atas kuasa dan pemeliharaanNya dalam kehidupan umatNya. Mengapa kita harus memuji Tuhan bukankah kita sedang berduka? Mengapa harus memuji Tuhan saat kita patah hati karena tragedy hidup? Mengapa harus memuji Tuhan jika kita kehilangan orang yang kita cintai? Mengapa harus memuji Tuhan jika kita mengalami kebangkrutan? Mengapa harus memuji Tuhan jika kita mengalami kegagalan dalam rumah Tangga? Mengapa harus memuji Tuhan jika kita mengalami perubahan ekonomi yang drastis? Dimanakah Allah saat hati ini Patah?

ISI

Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang Jauh, Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang hanya duduk di tahta kebesaran Nya tanpa mau perduli dengan derita ciptaanNya. Allah yang kita sembah adalah Allah yang bekerja dari Alpha hingga Omega. Bukankah hal itu yang kita baca dari Alkitab. Alkitab pertama-tama adalah buku iman yang berisi tentang kesaksian iman akan karya keselamatan Allah. Awalnya diwariskan secara lisan, kisah kesaksian ini kemudian dituliskan. Kisah-kisah ini dituliskan dalam Kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Ibrani, Aram, dan YunaniKitab-kitab tersebut ditulis dengan berbagai macam gaya sastra oleh sejumlah penulis yang tidak kita kenal. Penulisan tersebut terjadi dalam jangka waktu sekitar satu millenium, sekitar 2000-3000 tahun yang lalu, yang zaman dan kebudayaannya tidak kita kenal dengan baik saat ini. Maka pandanglah Alkitab bukan sebagai satu buku/kitab saja, namun sebagai suatu perpustakaan dari buku-buku kuno yang masih tetap bermakna bagi orang zaman sekarang.Penulis Alkitab yang pertama kali disebutkan adalah Musa. Ia hidup sekitar tahun 1400-an sM atau 1200-an sM : “Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel” (Kel 34:27). Pada masa Daud bertakhta sebagai raja, para pejabat istana mulai mencatat sejarah bangsa Yahudi – termasuk kisah-kisah yang telah diwariskan secara turun temurun. Hal ini semakin berkembang pada zaman pemerintahan Salomo.

Dari awal penciptaan langit, bumi dan isinya, Allah terus bekerja. Dalam kisah kisah Alkitab, dari Abraham sampai kisah Para Rasul dan murid muridNya Allah terus bekerja memulihkan hati terluka. Allah mendengar erangan Israel  yang menjadi Budak  Mesir. Allah mendengar mereka mengerang, lalu ia mengingat  kepada perjanjiannya dengan Abraham. Maka Allah melihat orang Israel itu dan Allah memperhatikan mereka ( Keluaran 2:23, 25) Lalu Allah Mengutus Musa membebaskan Israel dari perbudakan. Lalu Paskah menjadi momentum perayaan Karya Allah bagi bangsa Israel.

Demikian pula Yesus diutus karena banyak hati yang patah dan terbelenggu karena Dosa. “Karena begitu besar kasih Allah kepada dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)

Jika kita membaca kembali 17 : 1- 11, doa Yesus pada Bapa tentang pengikutnya akan tampak betapa KasihNya bagi manusia. Akan terlihat bahwa Allah akan menyertai CiptaanNYA dan yang Percaya PadaNya selama lamanya.

 Lalu Ia menengadah ke langit k  dan berkata: "Bapa, telah tiba saatnya; l  permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. m  17:2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, n  demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal o  kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. p  17:3 Inilah hidup yang kekal 2  itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, q  satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. r  17:4 Aku telah mempermuliakan s  Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. t  17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku u  pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu v  sebelum dunia ada. w  17:6 Aku telah menyatakan nama-Mu x  kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku y  dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu 3 17:7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. 17:8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku z  telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, a  dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. b  17:9 Aku berdoa

untuk mereka. c  Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, d  sebab mereka adalah milik-Mu 17:10 dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, e  dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. 17:11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, f  tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. g  Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu h  sama seperti Kita. i

Kini waktunya, kita masing masing menelaah, mengingat KasihNYA dalam kehidupan kita.

Kita sepakat bahwa Allah hadir dalam duka, Allah hadir dalam Suka kita, Allah Hadir dalam setiap musim kita lalui. Namun seringkali kita focus pada persoalan? Mengapa kita harus memuji Allah saat hati kita patah? Mazmur 147 : 1-11 adalah Testimoni Daud atas Karya Allah dalam hidupnya. Pelajaran penting yaitu :

Bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan  indah dan layaklah memuji muji itu

Kita dididik dengan paradigma Problematika oriented sejak kecil sampai tua. Disekolah yang menjadi Langkah pertama adalah “ latar belakang masalah” Kita Khotbah juga akan diawali dengan masalah. Sehingga melihat kehidupan sosial kita selalu dengan masalah menekankan kelemahan, problematika. David Cooperidier mengembangkan paradigma Pendidikan Potential Oriented yang ditulis Pak Banawiratma dalam buku Apreciative Inquiry. Kita diminta melihat potensi, keindahan. Jauh sebelum itu Mazmur sudah mengajarkan bermazmur atas kebaikan Allah baik. Bermazmur ditengah kesesakan penting untuk berjarak dari masalah dan melihat kembali keindahan hidup yang Tuhan berikan

Ia membangun Yerusalem dan  mengumpulkan dan menyembuhkan orang yang patah hati. Pekerjaan Bapa adalah pekerjaan yang bersifat konstruktif. Pekerjaan yang membangun, memelihara, mengumpulkan dan menyembuhkan. Berkaitan dengan pelayanan terhadap komunitas, tidak mudah melayani banyak orang yang beragam. Namun menjadi Kristen atau pengikut Kristus berarti berani siap untuk hidup bersama banyak orang dan saling berbagi. Saling menguatkan, saling memulihkan dan membangun Komunitas yang bersifat dan berkarakter Kristus.

Dia yang menutupi langit  dengan awan, Dia yang memberi makan hewan, anak anak burung gagak yang memanggil. Allah yang Maha kuasa juga Allah yang sangat perduli kepada entitas terkecil dari ciptaanNYA. Dalam kelompok selalu ada yang minoritas atau merasa minoritas,  tidak dianggap, di kucilkan, dibuang. Allahlah yang menjadi Tiang Doa kita. Allah mendengar doa doa. Akan percuma jika kita bercerita pada manusia tanpa menceritakan pada TUHAN. Doa doa kita menjadi media katarsis kita, membuang emosi negative sembari Doa menjadi undangan agar Allah bekerja membuat keadaan kita lebih baik.

Tuhan menegakkan kembali orang tertindas tetapi merendahkan orang orang fasik sampai kebumi. Ia tidak suka kepada kegagahan Kuda, Ia tidak senang pada Kaki Laki-Laki.

Bagi kita yang percaya akan Ajaran Kristus, Bagi kita yang meneladani Yesus Kristus akan memahami ayat diatas. Apakah Allah membenci Laki-Laki? Jadi apa yang dimaksud? Kegagahan menjadi kata penting dalam ayat diatas. Seekor kuda menjadi symbol kekuatan atau kegagahan. Demikian bagi seorang laki laki wibawa atau kegagahan penting sekali, mengingat peran sosialnya dalam budaya Patriarkhi. Tapi jika kita kembali pada penyaliban Yesus, dimana kegagahannya ketika ia di vonis bersalah pada perbuatan yang tidak dilakukannya? Dimana kegagahan Yesus ketika ia di ludahi? Dimana Kegagahan Yesus ketika Ia di telanjangi? Dimana kegagahannya ketika ia dimaki? Dimana Kegagahannya ketika ia ditukar dengan Penjahat yang sebenarnya? Dimana kegagahannya Ketika Murid yang sudah ia beri makan dan pengetahuan meninggalkanNya, menyangkalNya bahkan menjualNya. Dimana kegagahannya?

Tuhan senang kepada orang orang yang takut akan Dia, Tuhan Senang  kepada orang orang  yang berharap  akan kasih SetiaNYA. Apakah Tuhan ingin muridnya menjadi lembek dan lemah? Tidak. Tapi Tuhan menginginkan CiptaanNya menyadari mereka hanyalah Ciptaan. Bahkan Yesus yang adalah AnakNYA senantiasa berdoa kepadaNYA. Bahkan Yesus yang adalah Firman Allah senantiasa berkomunikasi dengan Allah dalam menjalani hidup sebagai manusia. Mengapa kita yang hanya ciptaanNYA (yang disebut Andar Ismail sebagai manusia rapuh.) mengapa melupakanNYA?

Akhirnya dimalam natal ini, marilah kita merenungkan kembali kehadiran Yesus sebagai bukti KasihNYA ALLAH bagi CiptaanNYA. Malaikat Tuhan memberikan penjelasan kepada Yusuf Dia adalah Yesus, nama Yunani “ Yehoshua, atau Yoshua, yang artinya” Tuhan menyelamatkan” . Marilah kita Serukan bahwa YESUSLAH PENYELAMATKU PENYEMBUH HATI YANG TERLUKA!

Pdt. Sastrami Tarigan, S.Th

Khotbah Minggu Tgl 19 Desember 2021 : Yesaya 7:10-16

Invocatio :"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan      Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.” (Mat. 1. 23)

Bacaan   : Roma 15. 7-13 (antiphonal)

Khotbah : Yesaya 7. 10-16 (tunggal)

Tema     : Dibata Ras Kita/Allah Beserta Kita

A.PENDAHULUAN

Minggu ini kita memasuki Minggu Advent IV, Minggu Advent yang terakhir sebelum kita menyambut kelahiran Yesus Kristus Juruselamat kita. Kedatangan

B.PENDAHULUAN

Minggu ini kita memasuki Minggu Advent IV, Minggu Advent yang terakhir sebelum kita menyambut kelahiran Yesus Kristus Juruselamat kita. Kedatangan Mesias, Juruselamat yang dinanti-natikan oleh setiap umat Percaya. Dan Minggu-Minggu Advent merupakan kesempatan bagi kita untuk sungguh-sungguh mempersiapkan hati dan hidup kita untuk menyambut Natal.

Latar belakang konteks nats khotbah kita ialah ketika Ahas raja Yehuda dikuasai ketakutan besar karena  Rezim raja Aram dengan Pekah bin Remalya raja Israel, maju ke Yerusalem untuk berperang melawan kota itu. ketika diberitahukan kepada keluarga Daud (Ahas) bahwa Aram telah berkemah di wilayah Efraim, maka hati Ahas dan hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin (Yes. 7.1-2)

Karena hal itu Tuhan mengutus nabi Yesaya kepada Ahas supaya tidak takut terhadap mereka. Bahkan Tuhan menyebut Aram dan Israel ialah dua puntung api yang berasap. Artinya kedua bangsa itu tidak merupakan bahaya yang harus ditakuti walaupun ada apinya tetapi tidak dapat membakar atau menghanguskan. Yang penting ialah mereka harus mempercayai Tuhan, mempercayai firmanNya dan melakukan tetap seperti yang difirmankan Tuhan.

Karena itu dengan tegas Tuhan berfirman melalui nabi Yesaya: “Jika kamu tidak percaya, sungguh kamu tidak teguh jaya” Jadi intinya ialah harus percaya dengan sungguh kepada firman Tuhan.

C.PENDALAMAN TEKS

1.Tuhan sungguh-sungguh mau menolong umat Yehuda.

TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: "Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas." Dengan ini Tuhan mau meyakinkan Ahas bahwa Allah sungguh-sungguh memperhatikan kesesakan dan ketakutan Ahas dan Allah mau menolong dan melepaskannya. Bahkan Tuhan akan memberikan kemenangan kepadanya melawan kedua raja itu, melawan kedua bangsa itu.

Ahas kurang (tidak) percaya kepada Tuhan

Tetapi Ahas menjawab: "Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN." Sepertinya perkataan Ahas sangat bijak, namun itu dikatakannya bukan karena dia tidak mau mencobai Tuhan, namun karena tidak percaya kepada kekuatan dan kuasa Tuhan untuk memberikan kemenangan kepada bangsa Yehuda. Dari mana kita tahu, karena kita tahu kemudian Ahas lebih senang meminta pertolongan bangsa Asyur dalam melakukan peperangan, perlawanan kepada bangsa Aram dan Samaria (lih. 2 Raja 16. 5-18)

Tuhan sendiri yang memberikan suatu pertanda.

Lalu berkatalah nabi Yesaya: "Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Tuhan lelah melihat sikap Ahas, karena tidak percaya. Pada hal Allah sungguh-sungguh mau menolong dan melepaskannya dari raja Aram dan Israel.

Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong.

Firman ini sungguh-sungguh nubuat tentang kelahiran Yesus. Yesus yang akan lahir dari seorang perempuan muda (almah) yang dapat berarti “perawan” atau “wanita muda yang belum menikah”. Jadi penggenapan nubuat firman ini ialah ketika Maria seorang perawan yang masih bertunangan dengan Yusuf, mengandung bukan karena hubungan suami isteri tetapi karena kuasa dan karya Roh Kudus. Dan IA dinamakan “Imanuel” artinya Allah beserta kita.

Dan apa yang dinubuatkan tentang kedua bangsa itu yaitu sebelum anak itu (Yesus) tahu yang jahat dan memilih yang baik, sebelum Dia menjadi dewasa maka 65 tahun kemudian Efraim (Israel) dikalahkan oleh Asyur.

APLIKASI

Allah beserta kita

Yesus yang akan kita peringati kelahiranNya dalam Natal disebut Imanuel. Allah beserta kita. Dia hadir di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Untuk apa, jelas untuk menyertai kita dalam perjalanan kehidupan kita dan untuk menyelamatkan kita. Yesus beserta kita, untuk memberikan harapan kepada kita. Yesus adalah rahmat terbesar dalam kehidupan manusia. Karena Dia hadir dalam kehidupan kita memberi harapan baru kepada setiap kita. benar dalam kehidupan di dunia kita menemui banyak kesulitan dan pergumulan namun Allah beserta kita sampai kepada kita diberikan pengharapan akan kehidupan yang kekal (bd. Bacaan). Karena itu kita patut bersukacita, kita patut bergembira menyambut kelahiran Yesus yang adalah Imanuel. Allah beserta kita

Allah Hadir dalam hidup kita

Allah telah menunjukkan kasihNya dan hadir dalam hidup kita, untuk menyertai dan menolong kita serta memberi harapan baru kepada kita. Biarlah setiap kita yang telah menerima Alah yang hadir dalam kehidupan kita, menjadikan kita juga senantiasa peduli kepada sesama kita dan bersedia hadir untuk menyatakan kehadiran Allah dalam hidup mereka. Dan hal itu kita nyatakan melalui perbuatan baik, kasih dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.

PENUTUP

Natal yang akan kita sambut menegaskan kembali kepada kita, bahwa Allah sungguh-sungguh peduli kepada kita dan Dia hadir, Imanuel untuk menyelamatkan kita.

Pdt. Sahabat Peranginangin, M.Th

Info Kontak

GBKP Klasis Jakarta - Kalimantan
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate