Minggu 20 September 2020 : 2 Samuel 13 : 23 - 29

MINGGU PERDAMAIAN

Invocatio      : Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya (Mazmur 34 : 15)

Ogen            : 2 Samuel 13 : 23 – 29 

Khotbah       : 1 Petrus 3 : 8 – 17       

Tema           : MELAKUKAN PERDAMAIAN DENGAN SEGENAP HATI

Kata Pengantar

Tuhan manciptakan manusia sebagai makhluk soasial (tidak baik manusia seorang diri saja (bd. kej. 2K18) Sebagai makhluk sosial salah satu faktor pendukung mendapatkan hidup damai sejahtera adalah dengan menjaga relasi yang baik terhadap sesamanya.

Kejatuhan manusia kedalam dosa , tuntutan hidup semakin berat  menggeser penilaian manusia terhadap sesamanya, bukan lagi sebagai sahabat dan mitra untuk membangun kehidupan yang baik, tetapi berubah menjadi “pesaing” utnuk mengejar  kehidupan yang “terbaik”, muncullah istilah “persaingan semakin ketat”.

Awal munculnya permusuhan dan pertentangan bersumber dari hati “merasa terganggu” terhadap kehadiran orang lain yang dianggap penghambat  pencapaian obsesinya dan iri terhadap keberhasilan (pencapaian) ornag lain. Situasi  ini mengubah hakekat manusia sebagai i makhluk sosial  menjadi “serigala” atas sesamanya.

Persaingan melahirkan “perang”, mulai dari perang dingin,  perang mulut perang pisik. Bermunculanlah permusuhan-permusuhan,  di lingkungan masyarakat, pekerjaan, keluarga sampai musuh dalam selimut.  Damai menjadi barang yang langka, hanya dalam mimpi dan angan-angan serta menjadi buah bibir saja. Dalam pepernagan dan pertengkaran semuanya kalah karena  seperti  kata pepatah  “menang jadi arang kalah menjadi abu”  sama-sama gosong terbakar.  Seperti yang dikatakan Paulus dalam suratnya ke kota Galatia di Pasal 5:15 “Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan”

Semua insan merindukan suasana damai, karena suasana damai faktor pendukung membuat kita berpikir dengan jernih, bekerja dengan aman dan tenang. Suasana damai membuat kita bisa menikmati hasil jerih payah kita dengan sempurna. Dan seperti yang di katakan dalam Mazmur 133 sungguh alangkah baiknya jika kita hidup rukun  hidup bersama, kesanalah Tuhan memerintahkan berkat kehidupan untuk selama-lamanya.

Apa yang harus kita lakukan untuk meciptakan hidup damai  dan rukun ? mari kita dengarkan apa kata Firman Tuhan di hari Minggu Perdamaian ini

Pendalaman Naskah Firman Tuhan

Ay.8-9 Hidup Baru Dalam Tuhan

“Dimana tanah dipijak di situ langit di junjung”  adalah pribahasa yang mengingatkan kita supaya dapat beradaptasi dengan lingkungan. Orang yang cepat beradaptasi dengan lingkngan diaman dia hidup adalah salah satu kunci mendapatkan kebahagiaan. (kita bisa bersaksi tentang pengalaman kita,  sbg cth tentang covid 19). Ada perbedaan tatanan kehidupan sebelum dan sesudah kehadiran Yesus  di tengah-tengah tatanan kehidupan  orang Israel sebagai umat pilhan Tuhan. Sebelum Yesus datang, hukum hidup mereka  adalah :mata  ganti mata, gigi ganti gigi” perhitungan “keadilan itu berdasarkan nilai “mate-matika”. Kehadiran Yesus membawa tatanan hidup yang baru yaitu hukum kasih, membalas kejahatan dengan kebaikan.  Perhitungan dosa bukan di mulai pada saat melakukan, tetapi  dari sejak memikirkannya.

Sebagai orang Kristen kita harus menghidupi apa yang diajarkan oleh Yesus, orang Israel harus beradaptasi dengan pengajaran yang baru ini jika dia mau hidup  damai dan selamat dari maut. Tatanan hidup yang baru ini. Ayat ini bagian dari judul perikop “tingkah Laku  Kristen”, yaitu :

·         Seia sekata è proses dari :penyatuan pandangan (presepsi/paradigma), sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan karena perbedaan yang ada pada manusia. Perbedaan pendidikan, wawasan, keinginan, posisi  dan keadaan utnuk memandang sesuatu. Tidak jarang dalam usaha penyatuan presepsi ini justru melahirkan pertengkaran, istilah orang karo : “langa ndai arih langa rubat”. Menuju seia sekata, butuh kedewasaan, menghargai pendapat orang lain, tidak mengangap kita lebih dari orang, tidak memikirkan kepentingna pribadi (bd. Flp. 2:2-5)

·         Seperasaan è  Kemampuan seseorang  mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain karena  adanya kesamaan kepentingan.  Dalam dunia Pastoral kita sebut kemampuan  untuk berempati, merasakan apa yang  dirasakan orang lain atau menempatkan diri di pihak orang lain. Istilah orang karo “ rukur rawin jemba”   yang lahir dari pikiran bahwa  : “Kam Kap Aku Aku Kap Kam” yang membuahkan  “tawandu tawaku, suindu suiku” (bdk kehidupan jemaat mula-mula “Kis. 4:32)

·         Mengasihi è kasih menutupi banyak dosa

·         Penyanyang è tidak tega untuk menyakiti atau mengorbankan

·         Rendah Hati è sebuah standart hidup “netral”, tidak merasa rendah diri dalam kekurangan dan tidak congkak dalam kelebihan. Mau menolong yang lemah dan tidak malu minta tolong pada yang  lebih dari dirinya

·         Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan atau caci maki dengan caci maki  tetapi sebaliknya memberkati

Ay. 10-12 Motivasi Melakukan Kebaiakan

Kita sudah sering dengar sitilah  hukum “Tabur-tuai”  disni juga Petrus mengingatkan semua umat Kristen untuk menjaga sikap. Hukum  “aksi dan reaksi  atau sering kita sebut dengan istilah sebab dan akibat” pasti terjadi dalam hidup ini.  Petrus mengatakan siapa yang mencintai hidup , mau melihat hari –hari yang baik harus mejaga lidahnya terhadap yang jahat  dan bibirnya terhadap ucapan yang menipu.

Kita sering mendengar sitilah “memang lidah tak bertulang”  lembut mudah di putar-putar, tetapi lebih tajam dari pedang. Di kitab Amsal banyak sekali berbicara tentang lidah, misalnya 12:18; 15:4;18:21

Ornag yang mencintai hidup dan mau melihat hari-hari yang baik dia harus mencari perdamaian dan mendapatkannya. Usaha mendapatkan damia itu memang mau tidak mau harus lahir dari diri sendiri yang mencintatai perdamaian. Orang yang cinta damai harus berhikmat melihta situasi dan waktu,  sabar menungu waktu yang tepat dan berani berkorban demi perdamaian itu sendiri, bahkan berani dikatakan salah jika memang itu yang membuat damai. Orang yang cinta damai tidak akan mau merusak kedamaian itu sendiri artinya  dia tidak  mau bertengkar untuk mendapatkan damai, karena pertengkaran   adalah perusak damai  itu sendiri.

Orang yang cinta damai berani dikatakan salah demi perdamaian itu sendiri, karena kita percaya “mata Tuhan tertuju pada yang benar dan telinga Tuhan pada orang yang minta tolong, dan mata Tuhan akan menentang orang yang berbuat jahat.  Mungkin di mata orang kita kalah dan salah tetapi bagi Tuhan semuanya tidak terselubung. Petrus mengingatkan kita untuk tidak menciptakan perang (pertengkaran) ketika kita mau memperjuangkan kebenaran untuk sebuah perdamaian. Lebih baik mengalah  jika itu membuat kita bisa berdamai, suasdana damai akan membuat pikiran  jernih, biarlah pikiran jernih itu membuat orang dapat melihat kebaikan hati kita.

Ay. 13-17 Harga Yang Harus Di Bayar Untuk Sebuah Perdamaian

Sebagaimana Yesus datang ke dunia untuk mendamaikan “manusia dengan Tuhan” oleh karena pembrontakan manusia. Yesus membayar harga yang sangat mahal yaitu darah dan nyawa.

Di ayat ini Petrus  mau menatakan bahwa secara logika “kalau kita berbuat baik maka tidak akan ada orang yang berbuat jahat pada kita” sehingga Petrus mengajarkan bagaimana kita menjaga lidah, bibir perilaku kehidupan. Tetapi dia juga mengingatkan bahwa itu tidak menjamin karena memang dunia ini sudah sungguh amat jahat (bd, Efesus 5:16). Melalui ayat ini Petrus menguatkan jemaat agar tetap “menguduskan Kristus dalam hatinya” artinya  memelihara dan melakukan apa yang diajarkan oleh Yesus, sehingga walaupun orang mencari-cari kesalahan, memfitnah atau  menuduh kita orang yang tidak benar mereka akan malu, karena apa yang dituduhkan itu tidak dapat di buktikan. Petrus mengatakan bahwa lebih baik menderita karena berbuat baik daripada menderita karena berbuat jahat.

Untuk memperjuangkan perdamaian harus dengan segenap hati, kebulatan hati untuk menciptakan perdamaian, membuat kita dengan nyaman mehahan gejolak ego dan perasaan . Kita tidak menderita walau sering dilecehkan, dikatakan salah, lemah dan bodoh. Menguduskan Kristus dalam hati membuat kita terus mampu menjaga hati dan sikap sama seperti Yesus yang penuh dengan kasih mampu mengatakan “ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.

Pointer Aplikasi

1.    Damai adalah suasana yang diharapkan semua insan

2.    Jaga hati , perkataan dan perbuatan. Kendalikan diri agar tidak terobsesi mengejar damai untuk diri sendiri,  tetapi merusak rasa damai pada orang lain seperti yang di lakukan Amnon pada Tamar (2 samuel 23-29)

3.    Jauhilah kejahatan karena itu benih perpecahan dan perusak kedamaian, Kejarlah yang baik dengan segenap hati melakukan perdamaian (Invocatio)

4.    Lakukanlah perdamaian dengan segenap hati (tema), meneladani Yesus dengan kasih dan rela berkorban demi perdamaian itu sendiri.

Pdt Saul Ginting

GBKP Runggun Bekasi

Minggu 09 September 2020 : 2 Timotius 2 : 1-5

Invocatio  :“Pada tahun ke delapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia,

ia mulai mencari Allah Daud, bapa leluhurnya” (2 Tawarikh 34: 3a)

Bacaan         : Mazmur 119: 9-16

Khotbah       : 2 Timotius 2: 1-5

Tema            : JADILAH LASKAR KRISTUS YANG SETIA

Pengantar

Kita mengenal peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.Ini mengajarkan kita jangan menginginkan hasil yang instan tanpa berusaha dan bertahan di masa sulit. Tapi nampaknya rumusan hidup generasi muda saat ini sudah kehilangan nilai-nilai perjuangan. Hidup serba cepat dan serba mudah agaknya mempengaruhi minat berjuang generasi muda. Mudah sekali meninggalkan sesuatu di saat tidak lagi merasa nyaman. Merasa tidak nyaman di sekolah, minta pindah sekolah. Tidak nyaman di pekerjaan, terburu-buru resign. Tidak nyaman di rumah, pergi. Tidak nyaman di gereja, pindah ke gereja lain. Kecenderungannya, saat generasi muda dihadapkan dengan situasi sulit, mereka bukannya berusaha memperbaiki itu, tapi malah menghindari atau meninggalkannya. Kita lihat berapa banyak PERMATA GBKP yang meninggalkan gereja karena alasan kurang modern, tidak bertumbuh, dan sebagainya. Padahal sejarahnya, pada 12 September 1948 PERMATA dibentuk sebagai suatu wadah perjuangan, terlihat dari kepanjangannya yang pertama PERSATUAN MEMAJUKAN DAN MEMPERTAHANKAN AGAMA sebelum diubah menjadi PERSADAN MAN ANAK GEREJANTA.

ISI

Surat 2 Tim adalah surat Rasul Paulus kepada Timotius, orang muda yang dipercayakan melayani di jemaat. Pada masa itu situasi jemaat Kristen perdana belum stabil. Para pemimpin jemaat terancam dihukum dan dipenjara oleh pemerintah Romawi. Jemaat juga dibingungkan oleh pengajaran-pengajaran yang berbeda dengan Injil Yesus Kristus yang disampaikan Paulus dan rekan-rekannya.Berada di posisi Timotius saat itu tidak mudah. Paulus berpesan agar Timotius kuat, menjadi seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus, dan berani menanggung penderitaan demi Kristus.

Ayat 1: JADILAH KUAT. Kalimat lengkapnya, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus. Artinyabukan karena kehebatan manusia, tetapi penguatan dari Tuhan yang membuat Timotius kuat. Ini mengingatkan kita agar meminta kekuatan dari Tuhan karena sejatinya manusia tanpa Tuhan pasti lemah. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13)

Ayat 2: TERUSKAN PENGAJARAN BAIK. Walaupun banyak pengajaran yang tidak sesuai, Timotius harus tetap setia memberitakan pengajaran yang benar yang telah ia terima dari Paulus. Juga ia diminta untuk bijak memilah karena tidak semua orang bisa menerima yang benar. Timotius harus bisa menyampaikannya pada orang yang dapat dipercayai dan bisa diandalkan untuk mengajarkannya pada orang lain. Agar pengajaran yang benar tidak berhenti pada 1-2 orang saja.

Ayat 3-4: IKUTLAH MENDERITA SEBAGAI PRAJURIT YANG BAIK. Seorang prajurit yang baik patuh, disiplin, dan siap siaga menghadapi segala situasi. Bahkan seorang prajurit siap menderita dan siap mati dalam peperangan. Tidak memusingkan diri dengan soal-soal penghidupannya, tetapi fokus untuk menjadi berkenan di hadapan komandan, tanpa bantahan dan alasan. Timotius (dan semua orang percaya) tidak dipersiapkan menjadi prajurit untuk peperangan fisik melainkan peperangan rohani (bdk Efesus 6: 12). Militansi dalam hal rohanilah yang saat ini perlu dibangun dalam diri orang percaya.

Ayat 5: TAAT. Seperti seorang olahragawan, menjadi juara apabilaikut peraturan olahraga yang ada. Usaha keras dan berlatih tekun harus diikuti dengan ketaatan. Karena sehebat apapun atlit kalau melanggar aturan bisa kena diskualifikasi. Karena itu ketaatan pada aturan juga poin yang penting dalam hidup.

Aplikasi

Keterpanggilan untuk ikut menderita bukan hal yang mudah untuk saat ini. Siapa yang mau join dalam sebuah komunitas untuk bersama-sama menderita? Kalau janjinya seperti ini jangankan orang muda, orang tua pun tidak tertarik untuk bergabung di dalamnya. Karena saat ini yang orang cari adalah kenyamanan, kesuksesan, kalau bisa tanpa kerja keras bisa memperoleh banyak uang. Dan banyak sekali orang yang termakan janji-janji palsu ini, sehingga korban penipuan online semakin banyak. Persoalannya, fenomena ini juga terjadi di gereja. Banyak orang Kristen lebih suka mendengar khotbah-khotbah berkat daripada khotbah yang mengingatkannya bahwa mengikut Kristus berarti siap pikul salib. Yang ingin mereka dengarkan bukanlah kebenaran Firman Tuhan yang bisa mengubahkan hidup, melainkan perkataan-perkataan yang enak didengar dan membenarkan perbuatan mereka, terlebih lagi janji-janji berkat yang melimpah. Maka Firman Tuhan di minggu ini mengingatkan kita:

1.     Panggilan untuk ikut menderita kita pahami sebagai sebuah militansi beriman kepada Yesus Kristus. Mengikut Dia dan menjadi saksi-Nya bukan hanya dimasa-masa yang mudah, tetapi juga di masa sulit. Saat gereja kita, GBKP, dianggap kurang bersahabat dengan generasi muda, mari kita bangun bersama-sama. Benahi yang kurang di gereja kita, jangan tinggalkan GBKP. Termasuk di masa pandemi, apakah saat gereja membatasi pertemuan kita tetap berusaha mencari cara agar bisa bersekutu (secara virtual), atau kita jadi tidak beribadah dengan dalih kurang mendapat makna dari ibadah online?PERMATA diharapkan untuk terus bertumbuh di dalam GBKP. Laskar Kristus yang setia tentu tidak hanya berhenti pada dirinya sendiri, namun mengajak orang lain untuk setia dalam peribadatan, apapun bentuknya (virtual maupun tatap muka).

2.     Seperti prajurit yang baik fokus bagaimana agar ia berkenan kepada komandannya, orang percaya harus fokus agar ia berkenan kepada Tuhan. Lebih banyak meluangkan energi untuk mencari dan melakukan yang Tuhan kehendaki daripada meminta agar Tuhan mengikuti kehendak kita.Mengejar hidup yang berkenan kepada Tuhan menjadi tujuan utama kita, melebihi perkara-perkara yang lain. Bacaan Mazmur 119: 9-16 adalah bentuk kecintaan pemazmur akan firman Tuhan. Untuk mempertahankan kelakuan bersih, harus dijaga sesuai firman Tuhan. Orang yang fokus hidupnya adalah hidup berkenan pada Tuhan, kesenangannya ialah: mencari Tuhan, menyimpan janji Tuhan dalam hati, menceritakan hukum-hukum Tuhan, bergembira atas peringatan Tuhan, merenungkan titah Tuhan, mengamati jalan-jalanNya, bergemar dalam ketetapanNya dan tidak akan melupakan firmanNya.

3.     Menjaga identitas sebagai prajurit Kristus atau laskar Kristus. Banggalah terlahir dalam keluarga yang mengikut Kristus, tetapi lebih bangga saat hidup sebagai pengikut-pengikut Kristus yang sejati. Identitas sebagai laskar Kristus bukan bergantung dari yang tertulis dalam biodata kita, tetapi kehidupan yang sungguh-sungguh mencerminkan persekutuan dengan Kristus. Kebaktian, PA, PJJ, Saat Teduh, bukan rutinitas tetapi menjadi cara membangun hubungan dengan Tuhan. Jangan menomorduakan semua ini tetapi jadikan top priority kita. Suka akan firman Tuhan membuat kita tidak suka perbuatan dosa. PERMATA GBKP laskar Kristus, jauh dari Narkoba, miras, free sex, judi, dan penyakit masyarakat lainnya. Justru PERMATA diharapkan menjadi laskar Kristus, yang siap memerangi semua ini.

Pdt. Yohana Samuelin M. Ginting

Rg  GBKP Samarinda 

Minggu, 06 September 2020 ; Yohanes 2 : 1-12

Invocatio    : “Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan      ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.” (1 Kor. 5 : 8)

Bacaan       :  Ayub  42 : 7 – 11  

Khotbah     :  Yohanes  2 : 1 – 12 

Tema         :  “Yesus Membenahi/ Menerangi Adat”

 Pendahuluan

Saudara-saudari yang terkasih, ada satu pepatah mengatakan, “Lain lubuk lain ikannya, lain tempat lain kebiasaannya.” Kebiasaan adalah bagian dari adat atau budaya setempat. Setiap suku/ etnis mempunyai adat atau budaya masing-masing. Kita suku/ orang Karo mempunyai adat budaya kita sendiri. Orang Jawa dan orang Sunda juga mempunyai adat budayanya. Demikian juga orang Israel atau orang Yahudi dalam teks kita mempunyai adatnya sendiri. Minggu ini adalah Minggu Budaya II di gereja kita. Bisa jadi kita bertanya dalam hati. Mengapa sampai 2 kali dilaksanakan Minggu budaya di Gereja kita? Jawaban saya pribadi yaitu karena Gereja kita memandang budaya begitu penting dalam hidup dan kehidupan kita. Karena adat dan budaya tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Mulai dari lahir, bahkan sebelum lahirpun sampai meninggal, kita punya adatnya. Karena penting sekali budaya ini diterangi oleh firman Tuhan. Budaya tentu saja punya kekurangan dan kelemahan. Budaya tidaklah sempurna. Yg sempurna hanya Tuhan Yesus. Karena itu budaya perlu dibenahi dan diterangi.    

ISI

Yesus diundang ke pesta yang mengalami kekurangan anggur (ayat 1-5)

      Sama seperti kita orang Karo, orang Yahudi juga melangsungkan pesta perkawinan. Inilah yg terjadi di Kana yang di Galilea. Maria ibu Yesus, Yesus dan murid-muridNya diundang ke pesta itu. Yesus bersama murid-muridNya datang ke pesta tersebut. Yesus ada di adat Yahudi tersebut. Awalnya pesta berjalan baik dan lancar. Tiba-tiba terjadi masalah tetapi belum semua tahu masalahnya. Yg tahu persis adalah orang-orang tertentu saja seperti petugas konsumsi, Maria dan Yesus tentunya karena Dia adalah Mesias, Anak Allah, Juruselamat. Maria memberitahu Yesus akan situasi masalah pesta. Terjadi percakapan antara Yesus dan ibuNya Maria. Bukan berarti Yesus tidak sopan kepada Mara. Juga bukan bermaksud menghina Maria dengan mengatakan, “Mau apakah engkau dari padaKu?” Disini Yesus mulai menyatakan siapa Dia sebenarnya. Dia bukanlah sekedar anak Maria. Justru Ia adalah Tuhannya Maria. Yesus tahu akan saat dan waktunya yg tepat untuk beraksi.  

      Diundang ke sebuah pesta adat misalnya perkawinan sudah biasa bagi kita. Bahkan sebelum Covid 19 terjadi bisa 2 atau 3 undangan adat yang kita terima dalam satu hari. Kita hadir dengan sukacita dan kita ada dalam acara adat yg dilaksanakan. Ketika kita diundang marilah menghargai undangan tersebut. Kita menghargainya dengan mengadirinya dengan baik . ketika kita diundang berarti kita diperlukan oleh yg melaksanakan pesta. Marilah kita menunjukkan bagian dan peran kita sesuai dengan undangan yg diterima. Berikan yg terbaik yg bisa kita lakukan bagi yg berpesta. Jangan pandang bulu alias pilih kasih dalam mendatangi yg berpesta. Lihat apa yg kurang di pesta, bukan melihat kekurangan atau kelemahan pesta. Lalu berbuat sesuatu untuk membenahinya. 

Yesus mengubah air menjadi anggur (ayat 6-10) 

     Yesus menyuruh para pelayan pesta untuk mengisi tempayan-tempayan yg adalah tempat air untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi. Isi total air yg dibutuhkan kira-kira 450-690 liter. Para pelayan tidak berbantah dan tidak melayan perintah Yesus. Mereka dengan taat melaksanakannya seperti arahan Maria. Apa saja yg disuruh Yesus mereka lakukan, merekea laksanaka dengan baik. Dan terjadilah mujizat. Air diubah Yesus menjadi anggur yang sangat baik/ anggur terbaik. Pemimpin pesta tidak tahu apa yg telah terjadi. Tetapi para pelayan yang mencedok dan menghantar air yg telah berubah anggur itu tahu. Maka selamatlah pesta dari rasa malu, cibiran dan aib. Semua karena mujizat yg telah dibuat Yesus.         

     Adat yg kita atau orang lain lakukan bisa jadi menghadapi masalah. Ada banyak factor yg bisa terjadi yg tidak disangka dan diduga. Walau sudah dipersiapkan dengan matang dan didoakan bisa saja terjadi hal yg tidak diharapkan. Tema kita mengatakan, “Yesus Menerangi, Membenahi Adat.” Yesus datang bukan menolak adat, pesta di Kana. Dia juga tidak meniadakan adat. Dia datang menerangi, membenahi dan menyelamatkan adat, pesta di Kana. Sebagai orang percaya, marilah teladani Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mengubah yg tidak baik menjadi baik kembali. Tuhan Yesus datang menjadi pemecah masalah. Masalah menjadi tidak masalah bersama Yesus. Lihat apa yg bisa kita lakukan terhadap pesta adat yg kita hadiri. Lihat dan temukanlah apa yg perlu diterangi dan dibenahi di acara adat-adat kita. Karena adat, pesta dan budaya kita produk lama dan terlebih buatan manusia, pastilah ada kekurangan dan kelemahan. Sebaik dan sebagus-bagusnya budaya yg ada pasti ada  cacat celanya. Apalagi dibuat oleh manusia yg sudah jatuh ke dalam dosa. Inilah tugas kita sebagai orang percaya untuk menerangi dan membenahinya untuk melayani manusia. Adat ada untuk melayani manusia. Adat adalah alat untuk melayani. Adat untuk manusia, bukan manusia untuk adat. Karena itu adat itu sejatinya untuk mensejahtrakan, membahagiakan dan memuliakan manusia. Adat tidak boleh membebani dan memberati kita. Ketika adat dilaksanakan untuk pamer, menunjukkan gengsi, kesombongan dan ketinggian hati, di situ adat harus diterangi dan dibenahi. Ketika adat bertele-tele, mengorbankan waktu orang banyak itu juga harus diterangi dan dibenahi. Lihatlah bagaimana Ayub melakukan pesta/ adatnya setelah kepulihannya (Ayug 42:7-11). Adat yg  dilaksanakan intinya atau utamanya untuk berempati dan  simpati atas segala malapateka yg dialami Ayub. Lalu menyelamati Ayub dan memberikan dukungan moril dan materil (doa dan dana). Terlebih di zaman IT atau digital ini, saatnya menerangi dan membenahi adat-adat kita. Saatnya berpesta, melaksanakan adat dengan kemurnian dan kebenaran (bdk. 1 Kor. 5:8). Sebagai anak-anak Tuhan, marilah agar kehadiran kita di dalam pesta dan di adat menjadi pengubah positif. Biarlah kehadiran kita membenahi, bukan justru merecoki. Memberi nilai tambah; bukan memberi nilai kurang. Menerangi; bukannya menggelapi. Meneduhkan; bukan malah memanaskan. Menyelamatkan; bukannya mencekakan. Menyukakan; bukannya mendukakan. Membersihkan; bukan justru mengotori. Memberi; bukannya mengambil. Menenangkan; bukan jadi menegangkan. Menyelesaikan; bukannya membuntukan. Memberi kebaikan; bukannya membawa keburukan.       

Tanda untuk menyatakan kemuliaan agar percaya Yesus (ayat 11-12)

            Air berubah menjadi anggur di Kana yg di Galilea adalah tanda ajaib (mujizat) pertama yg dilakukan Yesus. Ada 7 mujizat yg Yesus perbuat dalam pasal 2-12. Tanda-tanda mujizat tersebut tidak asal dibuat Yesus. Ada maksud dan tujuan Yesus membuat tanda mujizat. Tanda-tanda mujizat yg dibuat Yesus adalah untuk menyatakan kemuliaanNya. Mujizat dibuatNya agar orang percaya kepadaNya, bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan supaya oleh imannya ia memperoleh hidup dalam namaNya (bdk. 20:31). Setalah melihat tanda ajaib air menjadi anggur ini, murid-muridNya percaya kepadaNya.       

Banyak orang Kristen meminta dan berharap agar terjadi mujizat dalam hidupNya. Mujizat kesembuhan, mujizat mendapat anak/ keturunan, mujizat dalam usaha dan pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya. Sah, tidak salah dan boleh-boleh saja. Tetapi marilah tidak hanya sampai melihat terjadi mujizat. Tetapi lihatlah kemuliaan Tuhan di balik muzijat yg terjadi baik terhadap diri kita maupun di luar diri kita. selanjutnya biarlah kemuliaan yg kita lihat membawa kita semakin beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus. Biarlah kita semakin melihat kemuliaanNya dan semakin dimampukan untuk memuliakanNya.

Penutup/ kesimpulan

       Covid 19 mengubah semua segi dan aspek kehidupan kita manusia. Bukan hanya segi kesehatan, pekerjaan dan pendidikan anak-anak kita saja. Tetapi juga termasuk cara bergereja dan beradat kita. Kita harus melihat semua hal, semua aspek hidup kita secara baru. Dan kita harus mendefinisikan ulang cara dan prilaku kita. AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru) dengan prilaku baru di tatanan kehidupan baru (New Normal Life) tidak bisa tidak. Ini menjadi suatu keharusan dan mutlak. Kita hanya bisa melihat normal lama (Old normal). Normal lama sepertinya tinggal kenangan atau memori saja. Selama ini acara adat kita  berjalan lancar dan normal seperti: Mbaba Belol Selambar, Nganting Manuk, Kerja Erdemu Bayu, pemasu-masun perjabun, Persadan Tendi, Mesur-mesuri, Peridin Sibadia man anak kitik, Motong buk anak kitik, Mbuka kunci dst. Sekarang semua harus kita pikirkan ulang dan susun ulang. Saatnya normal baru (New Normal) mulai. Termasuk dengan semua adat dan budaya kita. Adat dan budaya kita harus berubah dan menyesuaikan. Dalam hal ini marilah kehadiran kita adalah kehadiran yg menerangi dan membenahi adat kita. Biarlah adat kita untuk melayani kita. Adat yg kita laksanakan untuk meninggikan dan memuliakan Tuhan Yesus. Amin.

Pdt. Juris Tarigan, MTh; 

GBKP RG Depok – LA

Info Kontak

GBKP Klasis Jakarta - Kalimantan
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate