Minggu 05 Janauri 2020 ; Yohanes 1 : 14-18

 Introitus: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bakwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” ( Roma 10:9)

Bacaan         : Mazmur 147:12-20

Khotbah       : Yohanes 1:14-18

Thema        : Kasih Karunia Dan Kebenaran Di Dalam Yesus Kristus

I.             Pendahuluan

James Irwin, astronot Amerika Serikat dengan Apollo 15 tahun 1971 berhasil mendarat di Bulan selama 67 hari. Saat dia berada di ruang angkasa, James Irwin mengalami peristiwa keagungan dan kemuliaan Allah yang belum pernah ia rasakan. Muncullah refleksi teologis, yaitu kesadaran yang mencelikkan mata rohaninya akan makna inkarnasi Kristus. James Irwin juga menyatakan peristiwa itu membuatnya menjadi berarti; apalagi saat umat manusia di Bumi menghayati kedatangan dan lawatan Allah melalui inkarnasi Kristus ke dunia. Oleh karena itu, seharusnya umat manusia dalam hidup sehari-hari mengalami kasih karunia dan kemuliaan Allah melalui inkarnasi Kristus. Di dalam inkarnasi Kristus: Allah beserta kita. Yesus Kristus adalah sang Immanuel. Dengan demikian, kedatangan Allah dalam inkarnasi Kristus bertujuan untuk memulihkan kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Inkarnasi Kristus adalah manifestasi kasih karunia Allah sehingga Allah berkenan memilih umat manusia menjadi warga Kerajaan Allah.

II.           Isi

Sang Firman itu telah menjadi daging dan berdiam di antara kita. Kata yang dipakai untuk “diam” adalah “mendirikan kemah”. Ini adalah gambaran yang indah sekali karena mengingatkan kita kepada Kemah Suci di padang gurun (Kel. 25:8-9). Kemah Suci itu adalah lambang penyertaan Tuhan bagi Israel di padang gurun. Tuhan menyertai umatNya dan “berkemah” bersama dengan mereka. Israel mungkin hanyalah bangsa budak yang melayani Mesir. Tetapi setelah Tuhan menyatakan diri kepada mereka, identitas mereka berubah. Mereka bukan lagi budak Mesir, melainkan umat dari Allah yang Mahakuasa. Umat dari Allah yang telah menaklukkan semua dewa-dewi Mesir dan menjadikan Israel anak sulungNya, serta yang senantiasa menyertai Israel di dalam perjalanan mereka melalui Kemah SuciNya di tengah-tengah Israel.

Mengapakah Kristus rela datang ke dunia? Dia tidak datang untuk dunia ini. Dia datang untuk menyertai umatNya. Dia mau berdiam bersama dengan umatNya. Seluruh Injil Yohanes memberikan fokus yang indah pada kasih Yesus Kristus, Sang Firman, bagi umatNya yang diwakili oleh para murid. Para murid adalah gereja Tuhan, dan kasih Kristus kepada mereka adalah kasih yang sama yang diberikan bagi gerejaNya, yaitu kita semua yang percaya kepadaNya. Sama seperti Kemah Suci didirikan di padang gurun, demikian juga Kristus berkemah/berdiam di “padang gurun”, bersama dengan gereja Tuhan di bumi. Di bumi Dia berdiam bersama dengan murid-muridNya, dan kasih yang Dia curahkan bagi murid-muridNya adalah kasih yang sama besarnya dengan yang Dia curahkan bagi kita, gerejaNya, yang hidup di zaman ini.

Jika Kemah Suci di padang gurun senantiasa penuh dengan cahaya kemuliaan Tuhan, maka Kristus, Sang Firman pun, penuh dengan cahaya kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa. Cahaya kemuliaan apakah yang Kristus pancarkan? Cahaya kemuliaan Kristus sebagai Anak Tunggal Bapa bukanlah cahaya kemuliaan yang menyilaukan mata, meskipun itu juga bagian dari pernyataan kemuliaan Allah. Cahaya kemuliaan Kristus yang paling menonjol ketika Dia hidup di bumi adalah kasih karunia dan kebenaranNya. Apakah yang dimaksudkan dengan “kasih karunia” dan “kebenaran”? Dua kata ini tidak bisa dipisahkan dan merujuk kepada sifat Tuhan yang mengingat dan menjalankan perjanjianNya. Kesetiaan Allah kepada perjanjianNya itulah yang digambarkan dengan “kasih setia” dan “kebenaran” sebagaimana dinyatakan olehNya sendiri di dalam Keluaran 34:6-7. Di dalam terjemahan bahasa Indonesia, Keluaran 34:6 menyatakan bahwa Allah berlimpah “kasih” (khesed) dan “setia” (emeth) di mana kedua kata ini dapat juga diterjemahkan “kasih karunia” (khesed) dan “kebenaran” (emeth). Inilah yang dijelaskan di dalam bahasa Yunani di ayat 14, “kharis” (kasih karunia) dan “aletheia” (kebenaran). Kasih setia dan kebenaran Allah berarti Dia dengan tepat akan menjalankan perjanjianNya. Dengan penuh kasih sayang akan menjalankan janjiNya bagi umatNya, tetapi juga dengan keadilan Dia akan menghakimi umatNya berdasarkan perjanjianNya. Kristuslah penggenapan dari kesetiaan Allah di dalam perjanjianNya ini. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Sang Firman ini menyatakan kemuliaan Allah di dalam kesetiaanNya kepada perjanjianNya.

Kesaksian Yohanes 1:14 menyatakan: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan  kita telah melihat kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”. Makna pernyataan “Firman itu telah menjadi manusia” seharusnya diterjemahkan menjadi “Firman ituu telah menjadi daging”. Sang Firman Allah yang kekal dan ilahi, yaitu Dia yang telah menciptakan alam semesta dan di dalam diriNya memiliki sumber hidup pada satu titik waktu dalam sejarah manusia berkenan menjadi manusia dengan segala keutuhan manusiawiNya. Dalam inkarnasi Kristus, Sang Firman Allah yang kekal memasuki interval ruang dan waktu, serta sungguh-sungguh menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Ini berarti dalam diri Yesus, Sang Firman bukan tampak seperti manusia, atau seakan-akan hadir memperlihatkan diriNya dalam kebertubuhan manusia tetapi Dia sungguh-sungguh menjadi manusia dengan tubuh-jiwa-roh sebagai manusia Yesus dari Nazaret. Tubuh kemanusiaan Yesus bukanlah tubuh yang semu sebagaimana dipahami oleh doketisme. Dalam ajaran doketisme pada prinsipnya menolak kemanusiaan Yesus. Kemanusiaan dan kebertubuhan Yesus menurut doketisme hanyalah semu. Namun tidaklah demikian menurut kesaksian Injil Yohanes keberadaan Yesus sebagai manusia. Yesus mengalami kodrat manusiawi yang dapat mengalami situasi lelah, haus, makan, dorongan emosi kasih, menangis, dan perasaan masygul. Surat Ibrani dengan jelas memberi kesaksian yang serupa, yaitu: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berdosa”. Karena itu makna “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita” menegaskan bahwa di dalam Yesus Kristus Allah mendirikan pemerintahanNya di tengah-tengah kehidupan dan sejarah umat manusia. Kerajaan Allah yang semula transenden dan sorgawi kini dalam inkarnasi Yesus terwujud nyata dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Karena Sang Firman Allah sungguh-sungguh menjadi manusia, maka kita dapat melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Di dalam inkarnasi Sang Firman Allah menjadi manusia Yesus, Ia menghadirkan “karya penyataan”. Melalui kehidupan dan karya Kristus, umat manusia dapat menemukan kehidupan, terang, anugerah, kebenaran, bahkan diri Allah sendiri. Sebab di Yohanes 1:18 Yesus menyatakan: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya”. Ungkapan “Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya” menunjuk relasi personal yang eksklusif dan intim tiada taranya antara Yesus dengan Allah. Karena itu hanya Yesus yang sanggup menyatakan kedirian Allah yang sesungguhnya. Yesus adalah manifestasi diri Allah yang adalah Sang Bapa di dalam keberadaan diriNya sebagai Anak Allah. Melalui inkarnasi Sang Firman menjadi manusia berarti melalui kehidupan dan karya penebusan Kristus, kodrat kemanusiaan dipulihkan. Kodrat kemanusiaan yang semula telah jatuh dalam dosa dan telah kehilangan kemuliaan sebagai gambar dan rupa Allah, kini di dalam Kristus dipulihkan.

III.         Refleksi

Pencelikan mata rohani akan Kristus merupakan awal dari ziarah iman yang sesungguhnya  ditahun 2020 ini. Karena melalui pencelikan mata rohani kita dimampukan untuk memaknai kekayaan kasih karunia Allah. Sebelum dicelikkan, sebenarnya kita telah dilimpahi oleh kasih karunia Allah. Namun, saat itu kita tidak mampu merasakan dan mengalaminya. Itu sebabnya, kita tidak mampu mengucap syukur, bersukacita, dan beriman. Kita akan melihat realita hidup dengan sikap pandang yang pesimis, suram, dan tanpa harapan. Penilaian-penilaian kita didasarkan pada luka-luka batin masa lalu atau pengalaman-pengalaman traumatis yang bersumber dari dosa secara struktural dan personal. Dosa struktural timbul karena kita dibentuk dan dibangun dalam masyarakat yang sakit dan berdosa. Dosa personal timbul karena kita dikendalikan oleh kuasa dosa dalam diri kita. Dosa struktural dan dosa personal membuat kita menjadi buta secara rohani, sehingga kita hidup dalam kegelapan dan menolak kasih karunia Allah. Oleh karena itu, kekristenan tanpa pencelikan mata rohani akan menjadi kekristenan yang buta. Kita tahu tentang keselamatan, tetapi tidak mampu mengalami anugerah Allah. Kita dapat memberi pelayanan, tetapi tanpa kegembiraan dan ucapan syukur. Hal ini karena kita membangun iman bukan berdasarkan kasih karunia Allah, melainkan dengan pengertian kita sendiri. Menyambut karya keselamatan Allah dalam inkarnasi Kristus berarti kita membuang pengertian duniawi tentang Allah untuk diganti dengan kasih karuniaNya. Hati kita menjadi media bagi Kristus untuk “menginkarnasikan” (menjelmakan) diriNya, sehingga firmanNya menjadi daging dalam kepribadian kita. Itu sebabnya, kehidupan kita mengalami pencerahan iman dan pembaruan hidup.

Menurut legenda Yahudi, ketika Allah bermaksud menciptakan manusia, para malaikat memberikan pandangannya masing-masing. Malaikat Keadilan berkata, “Jangan ciptakan manusia, Tuhan, karena mereka akan bertindak jahat kepada semuanya, menindas satu sama lain”. “Benar, ya Allah, jangan ciptakan mereka,” sambung Malaikat Kebenaran, “karena mereka pasti akan berdusta, melecehkan kebenaran, dan bahkan mencoba menipu Allah”. Malaikat Kekududan mendukung pendapat kedua rekannya, “benar, mereka pasti akan hidup sesat dan menghina kesucianMu, ya Allah”. Kemudian, majulah Malaikat Cinta Kasih dan berkata, “Ciptakanlah mereka, ya Allah, karena ketika mereka berdosa, aku akan datang pada mereka dan mewartakan cinta kasihMu, agar mereka berbalik kepadaMu”.

Sejak dunia dan manusia tercipta, sejarah selalu dipenuhi dan diwarnai dengan kasih Allah. Cinta kasih adalah jati diri Allah paling utama yang selalu hadir dalam hidup manusia, sekali-kali dalam kenyataannya, manusia selalu menghina dan melecehkan keadilan, kebenaran, dan kekudusan Allah. Itu sebabnya Yohanes menulis, “Allah adalah kasih” (1 Yoh. 4:8,16). Allah bukan hanya bersifat pengasih, tetapi Allah adalah kasih.

Mengapa pribadi Yesus menjadi begitu penting dalam keyakinan kita akan Allah yang adalah kasih? Tidak lain karena Yesus adalah bukti terbesar kasih Allah. Yesus adalah penjelmaan isi hati Allah yang terdalam. Allah kita adalah Allah empati. Empati berarti menyeberangi jurang. Suka orang lain menjadi suka kita; dukanya menjadi duka kita. Allah kita adalah Allah yang berempati dengan manusia, karena Dia bergerak menyeberangi jurang yang lebar dan dalam antara manusia dan Allah. Dia turun ke dunia dan bukan hanya menjadi sama dengan manusia. Filipi 2:1-11 menjelaskan gambaran Allah yang merendahkan diri turun ke bumi. Allah yang empatis.

Pdt. Andreas Pranata S. Meliala, S.Th

GBKP Rg. Cibinong 

 

Minggu 29 Desember 2019 ; Mazmur 77 : 6 -16

 

Invocatio      :  Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub Sebagai  penolong, yang harapannya pada Tuhan, Allahnya (Mzm. 146:5)

Bacaan         : I Timotius 1:12-17

Khotbah       : Mazmur 77:6-16

Tema            : Mengingat Besarnya Kasih Setia Tuhan

A.   Pendahuluan

Minggu ini menjadi minggu terakhir dalam tahun 2019 ini. Mengajak kita untuk mengingat, merasakan bagaimana kebenaran Firman Tuhan dalam hidup kita mengenai besarnya kasih setia Tuhan. Tuhan mengasihi dan menyayangi ciptaanNya. Segala yang telah diciptakanNya sungguh sangat berharga dihadapanNya. Kehidupan dalam alam semesta ini sudah lebih dari cukup menceritakan keberadaan, kekuasaan, pemeliharaan dan pengasihan Tuhan yang menjadikan segala sesuatunya. Terlebih kepada kita manusia ciptaanNya begitu mulia diantara ciptaan Tuhan yang lainnya, sampai Tuhan harus hadir ditengah-tengah kehidupan kita melalui Tuhan kita Yesus Kristus untuk menyatakan kasihNya yang besar. Namun demikian tetap saja manusia masih banyak yang meragukan kuasa Allah dalam hidupnya bahkan yang tidakmempercayai keberadaan Allah yang menjadikan kehidupan ini. Ketika manusia itu masih saja kuatir atas hidupnya, mencari kebutuhannya dengan cara-cara kecurangan bahkan dengan kejahatan, menggantungkan nasib hidupnya kepada berhala dan dukun-dukun. Ada beberapa hal yang boleh kita renungkan melalui nas khotbah ini: 

B.    Isi

Mazmur ini melukiskan seorang dalam kesulitan besar yang berseru kepada Allah, tetapi tidak dapat menemukan bukti bahwa Dia memberikan tanggapan (ayat Mazm 77:8-10). Orang percaya yang setia kadang-kadang mendapati dirinya dalam situasi yang sama. Apabila demikian, mereka harus bertindak seperti pemazmur: tetap berseru kepada Allah siang dan malam (ayat Mazm 77:2-3) sambil mengingat perbuatan-perbuatan kasih-Nya pada masa lalu. Dalam kelimpahan penyataan Allah dalam diri Anak-Nya, kita diyakinkan bahwa "Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia" (Rom 8:32).Dalam mazmur ini ratapan dan puji-pujian bercampur-baur. Ayat-ayat pembuka (2-10) merupakan ratapan satu individu, yang mungkin mewakili bangsa yang sedang menderita. Ayat-ayat yang kemudian (11-21) merupakan kata-kata pujian yang melengkapi bagian pembukaan.

6-10. Mencari Jawaban.

Dan rohku mencari-cari. Dia diliputi kekhawatiran dan kegelisahan sehingga tidak dapat tidur.Dia menghitung hari-hari yang telah lalu, bukan menghitung domba. Akhirnya, dia mengajukan pertanyaan yang membingungkan dan menyusahkan dirinya.Dia tidak bisa mengerti, mengapa Allah yang berbelas kasihan, serta penuh kasih sayang, tetap diam dan tidak bertindak.

11-16. Jawabannya Dalam Sejarah.

Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan. Dengan mengingat perbuatan-perbuatan ajaib Allah pada masa lalu, harapan pemazmur bangkit.Allah membuktikan, bahwa Dialah yang melakukan perbuatan-perbuatan mulia; Dia telah mempertunjukkan kekuatan-Nya dan

telah menebus bani Israel. Di sini tersirat permohonan, agar Allah melakukan hal itu lagi sekarang

Mengingat kebaikan Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan kita adalah hal yang baik dan perlu supaya keraguan dan keputusasaan dalam menghadapi pergumulan hidup berubah menjadi pengharapan kepada Allah yang hidup.

Mazmur ini memberitahu kita bahwa pergumulan orang percaya waktu itu sangat berat. Yedutun, seorang pelayan Tuhan dari suku Lewi, menyimpulkan bahwa tangan kanan Tuhan Yang Mahatinggi berubah (77:11), artinya pergumulan terasa semakin berat seolah-olah Tuhan tidak lagi menghiraukan pergumulan orang percaya saat itu. Dia memakai pergumulan dan kesusahan sebagai kaca mata untuk melihat Allah (77:2-11). Hasilnya, kesusahan membuat Allah terasa jauh (77: 2). Kesusahan membuat mengenang Allah terasa memilukan (77:3). Gambaran yang ideal tentang Allah terasa sangat mengecewakan bila dibandingkan dengan pergumulan yang dihadapi manusia. Kesusahan membuat Tuhan terasa seperti menolak dan tidak bermurah hati (77:8). Kesusahan membuat janji Tuhan terasa seperti tidak berlaku (77:9). Kesusahan membuat Allah nampak seperti melupakan janji-Nya (77:10).

Sekalipun demikian, dalam 77:12-21, Yedutun memakai kebaikan Tuhan sebagai kacamata untuk melihat kesusahannya. Hasilnya, dengan mengingat kebaikan Tuhan di masa lalu, dia mengaku bahwa Allah itu sangat besar dan berkuasa. Saat Yedutun mengalami pergumulan, Allah tidak berubah. Kebaikan Tuhan membuat Yedutun percaya bahwa Allah akan menuntun umat-Nya keluar dari kesusahan seperti di zaman Musa dan Harun (77:21). Kuatkanlah dan teguhkanlah hati Anda. Lihatlah kebaikan Tuhan agar kita bisa memiliki pengharapan saat menantikan Tuhan. 

"Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu."  Mazmur 36:8

C.   Aplikasi

Kutipan sebuah lagu Rohani yang menceritakan bagaimana Kuasa Tuhan yang melebihi dari segalanya.

KASIH SETIA-MU YANG KURASAKAN
LEBIH TINGGI DARI LANGIT BIRU
KEBAIKAN-MU YANG T'LAH KAU NYATAKAN
LEBIH DALAM DARI LAUTAN

BERKAT-MU YANG TELAH KUTERIMA
SEMPAT MEMBUATKU TERPESONA
APA YANG TAK PERNAH KUPIKIRKAN
ITU YANG KAU SEDIAKAN BAGIKU

SIAPAKAH AKU INI TUHAN
JADI BIJI MATA-MU
DENGAN APAKAH KUBALAS TUHAN
S’LAIN PUJI DAN SEMBAH KAU

Dalam perjalanan hidup kita di penghujung tahun ini, banyak hal yang kita rasakan untuk mengingat kasih setia Tuhan yang begitu besar. Apa yang kita miliki dan kita nikmati saat ini harus benar-benar kita sadari adalah berkat Tuhan bagi hidup kita.Oleh sebab itu sangat berbahaya jika kita berkata bahwa semua hal dalam hidup kita adalah karena kita pintar, kita mampu atau karena kita berprestasi.

Apa yang kita miliki saat ini semata-mata karena Tuhan mau menunjukkan kasih setiaNya bagi kita. Oleh sebab itu janganlah kita terjebak untuk membanggakan semua yang kita miliki.Membanggakan sesuatu yang lahiriah adalah hal yang tidak diperkenankan oleh Tuhan, sebab sekali waktu Dia bisa mengambil semua itu dari kita dalam sekejap mata.Adalah lebih benar jika kita berbangga karena mendapatkan kasih karunia Tuhan dalam hidup kita, jika hendak berbangga berbanggalah karena Tuhan.Daud dalam sebuah mazmur nyanyian mengatakan "Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau."

Pertanyaannya apakah kita masih menghargai Tuhan dalam setiap hidup kita? Apakah kita menyadari bahwa semua adalah berkat Tuhan bagi kita? Jika kita tahu dan sadar tentu kita akan belajar dan terus belajar untuk menjadi orang kristen yang rendah hati.Takut Tuhan yang dimaksud di atas adalah untuk menyimpulkan semua pernyataan sebelumnya, bahwa menyadari berkat Tuhan, menghargai Tuhan, dan hidup rendah hati harus timbul dari sikap yang takut akan Tuhan.Orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan adalah orang yang takut akan Dia sehingga orang tersebut akan menjadi pribadi yang rendah hati dan mau menghargai Tuhan.

Ingatlah semua yang kita miliki adalah berkat kasih setia Tuhan yang kita alami dalam hidup kita. Seperti yang tertulis dalam Firman Tuhan Yohanes 15:5b “ Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” Amin.

Pdt Anton Kemit



 

 

Minggu 24 Desember 2019 ; Matius 1 : 18-23

Invocation  : Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri

sebagai panji-panji sebagai bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.

Bacaan       : 1Timotius 3:14-16

Khotbah     : Matius 1:18-23

Tema        : Penggenapan janji Allah

PENDAHULUAN

Jika seseorang pernah berjanji kepada kita dan dia menepati janjinya. Hal itu tentu sangat membahagiakan kita.  TUhan sudah berjanji akan menyelamatkan  kita manusia dari belenggu dosa. Rancangan TUhan ini jauh sebelum Yesus lahir ke dunia. Janji akan keselamatan dunia dan manusia dari dosa sudah Tuhan janjikan mulai dari masa pemanggilan Abraham, dan ditekankan kembali oleh nabi-nabi seperti nabi Yesaya dan nabi Mikha. Dan akhirnya Allah menggenapi janjiNya dengan kedatangan Yesus Kristus ke dunia ini.

ISI

Injil Matius memperkenalkan Yesus sebagai penggenapan pengharapan Israel yang dinubuatkan. Injil Matius mulai dengan daftar silsilah yang merunut garis keturunan Yesus melalui garis Yusuf sebagai kebiasaan Yahudi pada saat itu. Matius ditulis untuk bangsa Yahudi yang sedang menanti-nantikan kedatangan Mesias mereka, yang menurut PL akan dilahirkan dari satu keluarga tertentu.  Dan penulisan silsilah di pasal 1  ingin memperlihatkan bahwa Yesus adalah  keturunan Abraham dan Daud. Walaupun  Yesus bukan anak Yusuf secara biologis tetapi Yusuf tetap ayah Yesus secara hukum. Jadi silsilah itu membuktikan kepada orang Yahudi bahwa Yesus mempunyai silsilah yang tepat sehingga memenuhi syarat sebagai Mesias.

Dalam prikop ini dijelaskan bahwa pada waktu Maria ibuNya bertunangan dengan Yusuf , Maria sudah mengandung dari Roh Kudus. Tentu Yusuf sebagai tunangan Maria bergumul ketika mengetahui tunangannya sudah mengandung. Tapi karena Yusuf seorang yang tulus hatinya dan tidak mau mencemarkan nama tunangannya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.  Memang dalam injil Matius lebih diperlihatkan akan pergumulan Yusuf,  berbeda dengan Lukas yang lebih memperlihatkan pergumulan Maria.

Dalam pergumulan yang besar itu, malaikat Tuhan nampak dalam mimpinya dan berkata “Yusuf anak Daud jangan takut mengambil Maria sebagai istrimu sebab anak yang didalam kandungannya adalah dari Roh Kudus”. Sehingga Yusuf akhirnya mengambil Maria menjadi Istrinya. Disini kita melihat akan ketaatan Yusuf dalam menanggapi rencana besar Allah bagi manusia. Mungkin berat untuk menerima tunangan yang sudah hamil untuk menjadi istri tetapi karena taat akan Tuhan dan percaya akan firman Tuhan sehingga Yusuf mengikuti perintah Tuhan melalui perkataan Malaikat.  Penekanan akan keturunan Daud pada Yusuf adalah  untuk memperlihatkan akan silsilah keturunan Yesus seperti yang dijelaskan di atas bahwa Yesus adalah keturunan Abraham dan Daud. Disamping itu ada beberapa kali mengatakan  “Roh Kudus” hal ini menunjukkan bahwa kelahiran Yesus tidak terlepas dari campur tangan Allah (adikodrati)

Malaikat berpesan agar nama anak laki-laki yang akan dilahirkan Maria adalah Yesus.  Yesus adalah padanan Yunani untuk kata Ibrani Yeshua (Yosua) yang artinya “Tuhan menyelamatkan”. Nama ini melukiskan tugas putra Maria ini pada masa yang akan datang. Yesus sebagai juruselamat”akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka” melalui kematianNya.  Hal ini terjadi supaya genaplah yang difirmankan TUhan oleh nabi “sesungguhnya anak dara itu akan melahirkan seorang anak laki-laki”.  Istilah “anak dara” (perawan) merupakan padanan yang tepat dari istilah Yunani Partenos  dan dalam bahasa Ibrani almah (Yes 7:14) yang dipakai oleh Yesaya menunjuk kepada seorang gadis yang sudah cukup umur tetapi tidak pernah dipakai untuk gadis yang tidak perawan lagi (bd kej 24:43, Kid 1:3). Hal ini menyatakan bahwa ibu Yesus adalah seorang perawan sama seperti nubuatan Yesaya.  Karena hanya melalui cara seperti inilah Yesus dapat lahir sebagai manusia tetapi tetap sepenuhnya Ilahi.

Dalam bacaan kita juga diingatkan oleh rasul Paulus agar jemaat hidup dalam pemahaman yang benar akan Tuhan Yesus.  Yesus adalah manusia, dibangkitkan dan diterima di surga, diberitakan dan diimani diantara bangsa-bangsa dan akan kembali dalam kemuliaan.enyatakan diri dalam rupa manusia “ merujuk pada seluruh pelayananNya. Artinya Yesus datang berkarya sebagai manusia untuk menyelamatkan kita manusia dan Dia bangkit dari antara orang mati dan dimuliakan di surga. Kita tidak perlu ragu untuk mengimani Yesus sebagai juruselamat.  

APLIKASI

1.    Tuhan menggenapi janjiNya

Mulai dari jatuhnya manusia ke dalam dosa, Allah sudah berjanji akan menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Dan janji Allah ini kembali dinubuatkan oleh nabi-nabi salah satunya adalah nabi Yesaya. Dan apa yang di janjikan Allah digenapi melalui kedatangan Yesus Kristus ke dunia ini. Hal ini sudah sewajarnya kita sambut dengan penuh suka cita. Artina apa yang Tuhan janjikan Dia genapi. Kita yang seharusnya mati karena Dosa tetapi karena kasih Allah yang bgitu besar sehingga Dia mau membebaskan kita (menyelamatkan kita) dari belenggu dosa

2.    Tuhan unik dalam jalanNya

Rancangan Tuhan bagi kehidupan ini terkadang sulit untuk kita pahami.  Misalnya ketika Yesus lahir dari anak dara (perawan) tetapi hal ini Allah lakukan karena punya rencana yang luar biasa agar Yesus sebagai manusia 100% tetapi Allah 100%.  Begitu juga dalam kehidupan kita, kita juga akan sulit memahami cara-cara Allah menyelamatkan kita.  Yang penting adalah percaya kepada rancangan Tuhan.

3.    Ketaatan dan percaya adalah respon bagi rencana Allah

Tuhan sudah mengenapi janjiNya kepada kita manusia. Yesus sudah lahir untuk menyelamatkan dunia dari dosa.  Yusuf dalam perikop kita menunjukkan ketaatannya kepada Tuhan walaupun dia mengalami pergumulan yang berat. Yusuf tetap mau mengambil Maria sebagai istrinya walaupun Maria sudah mengandung. Dia taat dan percaya akan perkatan Tuhan. kita belajar dari ketaatan Yusuf kepada Tuhan.  biarlah kita juga yang sudah diselamatkan Tuhan akan tetap taan dan percaya walaupun diperhadapkan akan suatu pergumulan yang berat dan tetap mengikuti akan perintah Tuhan. 

Pdt. Kristaloni

Runggun Yogyakarta

Info Kontak

GBKP Klasis Jakarta - Kalimantan
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate