Minggu 27 Desember 2020 ; Mazmur 148 : 1-14

Minggu Setelah Natal

(Warna Stola: Putih)

Invocatio     : “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36).

Bacaan        : Yesaya 61:10 - 62:3

Khotbah      : Mazmur 148:1-14 

Tema          : Langit dan bumi memuji Tuhan (Langit ras Doni Muji Tuhan)

I.      Pengantar

Proses penciptaan yang dilakukan oleh Allah memiliki maksud dan tujuan. Dalam proses penciptaan-Nya, Allah memberikan fungsi dan manfaat dari penciptaanNya.

1) Allah menciptakan langit dan bumi sebagai ungkapan kemuliaan, kemegahan, dan kuasa-Nya. Daud mengatakan, "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya" (Mazm 19:2; bd. Mazm 8:2). Dengan memandang seluruh alam tercipta ini -- dari cakrawala mahaluas dari semesta tercipta hingga keindahan dan tatanan alam -- kita mau tidak mau kagum akan kebesaran Tuhan Allah, Pencipta kita.

2) Allah menciptakan langit dan bumi untuk menerima kembali kemuliaan dan hormat yang layak diterima-Nya. Semua unsur alam -- mis. matahari dan bulan, pohon-pohon di hutan, hujan dan salju, sungai dan anak sungai, bukit dan gunung, hewan dan burung -- menyerukan pujian kepada Allah yang menciptakan mereka (Mazm 98:7-8; 148:1-10Yes 55:12). Betapa Dia lebih menginginkan dan menantikan kemuliaan dan pujian manusia!

3) Allah menciptakan bumi supaya menyediakan sebuah tempat di mana maksud dan tujuan-Nya bagi umat manusia dapat digenapi.

(a) Allah menciptakan Adam dan Hawa menurut rupa-Nya sendiri supaya manusia dapat mempunyai hubungan kasih pribadi secara abadi. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk tiga-unsur (tubuh, jiwa, roh), memiliki pikiran, perasaan dan kehendak agar dapat menanggapi-Nya dengan leluasa sebagai Tuhan dan menyembah serta melayani-Nya karena iman, kesetiaan, dan rasa syukur.

(b) Allah demikian menginginkan hubungan yang intim ini dengan umat manusia sehingga, ketika Iblis berhasil menggoda Adam dan Hawa untuk memberontak dan tidak menaati perintah-Nya, Allah berjanji akan mengutus seorang Juruselamat untuk menebus manusia dari dampak-dampak dosa. Dengan cara ini Allah bisa memiliki umat milik-Nya sendiri yang akan menikmati, memuliakan dan hidup di dalam kebenaran dan kekudusan dengan Dia (Yes 60:21; 61:1-3Ef 1:11-121Pet 2:9).

(c) Puncak dari maksud Allah dalam ciptaan tercatat di dalam kitab Wahyu di mana Yohanes melukiskan akhir sejarah dengan kata-kata ini, "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka" (Wahy 21:3).

II. Pendalaman Teks

Berbeda dengan Mazmur ini, Mazmur ini adalah sebuah pujian dan pengagungan terhadap Allah, Sang Pencipta. Bukan saja pujian pribadi namun juga sebuah ajakan kepada seluruh ciptaan baik yang bernafas maupun tidak, baik yang ada di surga, langit, bumi maupun yang di bawah bumi untuk memadukan puji-pujian bagi Allah. Pemazmur menyadari bahwa Tuhanlah Pencipta langit dan bumi, dan Dia layak menerima pujian dan penyembahan semua ciptaan. Tidak ada apapun dalam kolong langit yang tidak diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya hanya Allah sendirilah yang layak dipuji oleh seluruh ciptaanNya.

Sudahkah saudara menyembah dan memuji pribadi yang tepat untuk menerimaNya? Hari ini mungkin kita tidak menyembah gunung, kuburan, patung dan lain sebagainya, namun kadangkala manusia gagal melihat pemeliharaan Tuhan, sehingga bukan Tuhan yang dipuji tetapi para penyalur berkat Tuhan yang dipuji. Jika kita memuji dan mencoba menyenangkan mereka yang Tuhan pakai sebagai penyalur berkatNya, maka kita sedang menyembah dan memuji obyek yang salah. Hanya Allah sendiri yang layak mendapatkan puji-pujian umatNya.

Pemazmur sadar bahwa manusia tidak sendirian di semesta mahaluas ini. Ada banyak makhluk lain selain dirinya. Pemazmur juga sadar bahwa sebagai ciptaan, semua mempunyai kewajiban dasar untuk memuliakan Tuhan. Manusia tidak bisa sendirian memuji Tuhan. Hal itu harus dilakukan bersama oleh seluruh ciptaan. Sadar akan hal itu maka dalam mazmur 148 ini pemazmur mengajak seluruh alam, terwakili langit dan bumi, untuk memuliakan Tuhan. Itulah judul mazmur 148 ini: “Langit dan bumi, pujilah TUHAN.” Inilah mazmur Hallel ketiga. Mazmur ini terdiri atas 14 ayat. Untuk memahami dan menikmatinya, saya membagi Mazmur ini menjadi dua. Bagian I: ayat 1-7. Bagian II: ayat 8-14.

Pemazmur menyadari bahwa Tuhan bertahta di surga tinggi. Ia mengajak seluruh ciptaan untuk memuji Tuhan (ay 1). Pemazmur mengajak malaekat-Nya untuk memuji Tuhan. Disebutkan juga di sana bala tentara-Nya, yaitu benda-benda angkasa (matahari, bulan, bintang), semuanya diajak memuji Tuhan (ay 2). Benda langit itu diperjelas dalam ayat 3 sebab di sana secara khusus disebut benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang. Hal ini mengingatkan kita akan kidung Azarya dalam kitab Daniel. Juga mengingatkan kita akan puisi kosmis Fransiskus Asisi, Kidung Saudara Matahari. Dalam ayat 4, pemazmur mengajak langit yang mengatasi langit untuk memuji Allah. Saat penciptaan dulu, Allah memisahkan air yang di bawah dan air yang di atas. Nah, air yang di atas langit itu diajak pemazmur untuk turut dalam pujian alam semesta ini (ay 4). Pemazmur tidak sanggup menyebut satu persatu seluruh ciptaan. Karena itu ia mengajak semuanya untuk ikut dalam pujian kosmis ini (ay 5). Itu adalah kewajiban dasar seluruh makhluk sebab Tuhanlah yang menjadikan mereka, Tuhanlah yang menciptakan mereka sehingga mereka ada (ay 5). Mereka ada karena perintah-Nya, karena firman-Nya. Ayat 6 melukiskan bagaimana pada awal mula, dan itu juga menjadi alasan bagi pujian semesta ini, Allah membangun semuanya; hal itu berlaku untuk selamanya. Tuhan sudah menetapkan sebuah tata aturan bagi alam semesta ini yang tidak bisa dilanggar siapapun. Pelanggaran akan menimbulkan kekacauan ngeri (ay 6).

Setelah dalam bagian di atas tadi, pemazmur menengadahkan pandangan ke atas, ke angkasa raya, maka dalam bagian kedua (ay 7-14) mata pemazmur diarahkan ke bawah, ke bumi. Ciptaan di bumi ini harus ikut ambil bagian dalam pujian semesta. Secara khusus dalam ay 7 pemazmur mengajak ular naga dan segenap samudera raya. Karena di sini disebutkan samudera raya, maka ular naga yang dimaksudkan bukan ular naga biasa, melainkan ular naga penghuni dan penguasa palung laut kelam penuh misteri yang disebut Leviathan. Semua diajak ikut dalam kidung pujian kosmis ini. Pemazmur mengajak api, hujan es, salju, kabut, angin badai untuk ikut dalam pujian semesta ini. Yang menarik ialah bahwa pemazmur menyebut unsur-unsur ini sebagai pelaku firman Tuhan (ay 8).

Dalam ayat 9 pemazmur mengajak anasir alam seperti gunung, bukit, segala jenis pohon (buah-buahan dan pohon aras). Pemazmur juga mengajak binatang liar dan segala jenis hewan, binatang melata dan burung di udara (ay 10). Semuanya diajak memuji Tuhan. Dalam ayat 11-12 pemazmur mengajak manusia, baik penguasa dan pemerintah (raja, pembesar) maupun orang biasa dari segala umur (pemuda, pemudi, orang tua, orang muda). Semua diajak memuliakan Tuhan Allah, sebab hanya Nama Tuhan-lah yang mulia dan agung, yang sedemikian agung sehingga melampaui langit dan bumi (ay 13). Akhirnya dalam ayat 14 pemazmur khusus menyebut tindakan Tuhan bagi umat-Nya Israel. Tuhanlah yang menegakkan simbol-simbol kekuasaan dan kekuatan Israel (yaitu tanduk). Tindakan Tuhan seperti itu, menyebabkan umat kekasihNya memuliakan Dia. Tindakan itu mendatangkan sukacita dan selamat bagi Israel yang dikatakan dekat dengan Tuhan. Atas dasar semua itu, akhirnya mazmur ini, dipuncaki dengan pekik Halleluya juga. Pujilah Tuhan.

III.. Aplikasi

Melihat dari judul lagu yang dinyanyikan oleh Krisdayanti yaitu “Menghitung Hari” adalah hal yang tepat jika kita memposisikan diri kita di hari ini. Sepanjang tahun ini kita menghadapi situasi yang sulit untuk menghadapi Pandemi. Kekawatiran kesehatan, beban psikis, beban ekonomi menjadi tantangan kita. Bahkan kita kadang kala meragukan diri kita sendiri, apakah saya masih sehat? Dengan memuji Tuhan maka kita akan mengambil bagian dalam kemulian-Nya. Bernyanyi dapat memperbaiki pernafasan orang-orang yang mengalami gangguan paru dan membantu penderita demensia dalam mengatasi penyakitnya. Dalam dua dekade terakhir sejumlah peneliti telah berusaha menjabarkan mekanisme kejiwaan, fisik dan tingkah laku yang mengaitkan bernyanyi dengan kesehatan. Profesor Daisy Fancourt, dari University College London, mengatakan sejumlah perubahan terjadi di tubuh saat menyanyi, "Kegiatan ini di antaranya dapat mengurangi hormon stres seperti cortisol. Kami juga melihat perbedaan tingkat endorphin yang terkait dengan perasaan kita. Maka apa pun yang kita takutkan, kawatirkan maka kita harus bias memanajemen rasa tersebut dengan memuji Tuhan, salah satunya dengan bernyanyi.

Makalah tahun 2011 yang diterbitkan Canterbury Christ Church University, Inggris, menyebutkan bahwa "bernyanyi dapat membantu orang yang mengalami masalah jiwa dan fisik". Disaat kita masih diperhadapkan dengan masa New Normal di situasi pandemic ini, hal yang masih bias kita lakukan adalah memuji Tuhan. Ini menjadi kekuatan yang luar biasa bagi kita umat yang beriman. Tidak ada kekuatan yang melebihi dari kekuatan Tuhan, yang mampu memberkati umatNya (ay. 14).  Walaupun dimasa pandemic, kita masih bisa bersama-sama memuji Tuhan dengan kecanggihan teknologi.  Komposer dan konduktor pemenang Grammy Award, Eric Whitacre mengorganisir paduan suara maya seperti ini. Mereka bernyanyi dan mengunduh video mereka dari berbagai tempat. Kemudian hal ini disinkronkan dan disatukan ke dalam sebuah pertunjukan tunggal. Bahkan banyak hal yang mengikuti kegiatan ini, termasuk didalamnya Pendeta-pendeta GBKP.

Ketika kita memuji Tuhan dalam masa-masa sulit ini, percayalah bahwa hadirat Tuhan nyata ditengah-tengah kita. Mungkin perubahan tidak bisa kita lihat secara langsung atau segera, tapi percayalah bahwa hadirat Tuhan membuat perubahan dan mukjizat.

Pdt. Anton Keliat

GBKP Runggun Semarang

Minggu Tgl 20 Desember 2020 ; 2 Samuel 7 : 1 - 16

(MINGGU ADVENT IV)

Invocatio    : “Dialah yang kumaksud ketika kukatakan : Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” (Yohanes 1:30).

Bacaan       : Roma 16 : 25 - 27

Khotbah      : 2 Samuel 7 : 1 - 16

Tema           : TUHAN BESERTA KITA

1. PENDAHULUAN

Minggu ini kita masuk Minggu Advent yang ke IV dimana suasana Advent semakin kita rasakan dan imani di dalam memperingati hari kelahiran Sang Juruselamat kita, yaitu Kristus Yesus yang datang ke dunia ini untuk menyatakan kasih dan kemuliaan Allah dan menantikan kedatanganNya kembali pada akhir zaman. Pada masa-masa Advent ini sudah menjadi suatu kebiasaan kita sebagai umat Tuhan dan gereja disibukkan dengan persiapan-persiapan berbagai kegiatan dan perayaan untuk memeriahkan sukacita besar akan kasih Allah itu. Kita diajak untuk tetap bersiap menyambut kedatanganNya dengan hidup yang semakin setia dalam iman dan pengharapan akan kehidupan yang kekal, hidup sebagai anak-anak Allah yang telah menerima karunia keselamatan yang tampak nyata melalui sikap hidup kita sekalipun keadaan kehidupan kita saat ini “diwarnai” oleh berbagai situasi dan pergumulan. Kasih setia Allah yang telah IA nyatakan kepada kita dan dunia ini melalui Yesus Kristus menjadi jaminan yang semakin memantapkan kita untuk menjalani kehidupan ini bersama Dia. Kita yakin dan percaya bahwa tidak kehidupan kita yang terlepas dari rancangan dan rencana damai sejahtera yang Allah nyatakan bagi anak-anakNya. Dia adalah Imanuel, Allah yang akan senantiasa beserta kita, menolong, memberkati dan memperlengkapi dalam menghadapi segala keadaan kita. Dia adalah Allah yang setia, yang tidak akan pernah meninggalkan kita. Keadaan kita saat ini tidak akan mampu mengurangi semangat dan sukacita kita dalam memperingati kelahiranNya dan tidak mengurangi kesetiaan kita menanti kedatanganNya kembali dalam iman dan pengharapan.

2. ISI

Invocatio    : Yohanes 1 : 30

Menceritakan tentang Yohanes Pembaptis yang memberi kesaksian tentang Yesus Kristus yang di mulai dengan sebuah pernyataan bahwa IA adalah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia (ay. 29). Yohanes menggambarkan Yesus sebagai tanda pendamaian bagi dunia. Cukup banyak orang yang mengagumi Yohanes Pembaptis, tetapi Yohanes dengan tegas menyatakan bahwa bukanlah dia Mesias yang dinantikan itu. Yesus datang setelah Yohanes namun lebih tinggi darinya karena Ia telah ada sebelum Yohanes (ay. 30). Hal ini mengacu kepada pre-eksistensi Logos (Firman Tuhan) dalam Yohanes 1 : 1 - 3 dan berkaitan dengan status keilahian Yesus.

Yohanes seorang yang begitu rendah hati dan bersahaja, ia bukan pribadi yang senang mencuri kemuliaan Tuhan sekalipun pada waktu itu begitu banyak yang mengagumi dia. Sebaliknya ,ia dengan begitu bersukacita mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus Kristus bahkan memberi tempat yang lebih tinggi, agung dan mulia bagi Yesus Kristus (Yohanes 3 : 30).

Bacaan       : Roma 16 : 25 - 27

Bagian ini adalah akhir dari surat Paulus kepada jemaat di Roma yang berisi puji-pujian bagi Allah yang telah melayakkan dia untuk memberitakan Injil Keselamatan bagi bangsa-bangsa.

l  Paulus memuji kemuliaan Allah yang berkuasa memelihara kehidupan umat Tuhan, khususnya di Roma. Dipermulaan kitab Roma (Roma 1 : 16) Paulus telah menyatakan kuasa Allah yang menyelamatkan orang berdosa. Kuasa yang sama juga yang akan memelihara mereka yang telah diselamatkan untuk tetap tinggal teguh dalam iman mereka, hidup dalam kekudusan, menegakkan kebenaran dan hidup dalam kesatuan tubuh Kristus.

l  Paulus memuji kemuliaan Allah yang nyata dari Injil yang ia beritakan, yakni kabar baik tentang Yesus sebagai Juruselamat dunia.

l  Paulus memuji kemuliaan Allah yang oleh karena hikmatNya, karya keselamatan di dalam Kristus menjadi nyata bagi semua bangsa-bangsa. Kuasa Allah-Rencana Allah dan hikmat Allah membuat keselamatan yang kita miliki adalah hal yang pasti.

Khotbah      : 2 Samuel 7 : 1 - 16

Tabut Perjanjian yang bermakna kehadiran Allah telah di bawa ke Yerusalem dan hal ini telah mengesahkan dinasti pemerintahan Daud akan bangsa Israel. Namun hal ini tidahlak cukup bagi Daud, dalam ayat 1 dan 2 dijelaskan tentang latar belakang keinginan dan kerinduan Daud dalam membangun rumah bagi Tuhan. Daud telah menikmati penyertaan Tuhan yang membuat hidupnya nyaman, tetapi hati Daud gelisah karena menurutnya Tuhan harus “senyaman” dirinya juga. Oleh karena itu Daud ingin membangun rumah bagi Tuhan (baca : Bait Allah). Ide dan keinginan Daud ini juga dipandang baik oleh nabi Natan (ayat. 3). Namun tidak demikian bagi Tuhan sehingga Tuhan berfirman kepada Nabi Natan untuk menyatakan kehendak Tuhan bagi raja Daud bahwa bukan Daud yang akan mendirikan rumah bagi Tuhan tetapi keturunannya Salomo (ay. 12) dikarenakan tangan Daud telah banyak menumpahkan darah (bdk. 1 Taw. 22 : 8). Lebih dari itu Allah berjanji untuk mengokohkan kerajaan Daud melalui keturunannya. Sehingga jelas bahwa nubuat ini berbicara tentang keturunan Daud yang akan tetap menduduki tahta Kerajaan Israel dan juga tentang Kerajaan Mesias yang kekal, yang akan lahir dari keturunan Daud yaitu Yesus Kristus yang akan memerintah dunia dan surga. Penolakan Allah akan keinginan dan kerinduan Daud untuk mendirikan Rumah Tuhan adalah bentuk kasih tuhan kepadanya sebab dibalik penolakan itu Allah sedang merancang dan merencanakan sesuatu yang lebih besar bagi keturunan Daud, yakni kerajaan kekal sampai selama-lamanya melalui Yesus Kristus. Janji Allah bagi Daud begitu luar biasa. Allah yang biasanya mensyaratkan ketaatan dalam memberi berkat kini menjadi tanpa syarat dalam menganugerahkan kesejahteraan bagi Daud dan keturunannya. Ini adalah pernyataan kasih Allah yang mutlak, yang tidak tergantung dari tindakan manusia. Dan Kasih itu semakin nyata dalam diri Yesus yang memberi diriNya bagi keselamatan dunia ini. Namun ini tidak berarti bahwa ketaatan tidak diperlukan. Kasih Allah yang cuma-cuma itu tidak boleh terbuang percuma, namun harus direspon dengan kesetiaan dan ketaatan kepadaNya.

3. APLIKASI

1)   Marilah kita senantiasa mempersiapkan hati, kehidupan dan keluarga kita menjadi “palungan” tempat Yesus itu lahir, bertumbuh dan berkuasa. Bukan sekedar persiapan secara seremonial dan penampilan untuk sebuah perayaan tanpa adanya pertobatan akan cara hidup yang benar. Persiapkanlah “jalan” bagiNya, Allah yang agung, yang datang dalam rupa manusia untuk keselamatan dunia.

2)   Dalam kita menyambut Natal, Minggu Advent ini menjadi Minggu persiapan dan perenungan bagi kita tentang kasih setia Allah yang dinyatakan melalui Yesus Kristus yang datang kedunia dalam rupa manusia. Masih begitu banyak orang         yang mengaku anak-anak Tuhan bukan seperti Yohanes Pembaptis yang rela semakin kecil agar keagungan dan kebesaran Allah semakin di nyatakan, tetapi malah menjadikan diri sebagai pusat, menjadikan Natal sebagai ajang pamer dan menunjukkan keberadaannya. Masihkan Yesus Kristus itu menjadi pusat kehidupan kita? Masihkan perayaan Natal kita sungguh menghayati kasih Allah itu? Atau kita semakin memfokuskan diri kita akan penampilan dan perayaan kita tanpa pemaknaan. Inilah yang perlu kita persiapkan dan perbaiki dimasa Advent ini, segala pujian dan kemuliaan hanyalah bagiNya. (ula kari kita nari ngenca siakap meriah ras nggerak tapi si “tubuh” e enggom ateNa megogo natap kita…).

3)   Sebagai anak-anak Allah yang telah menerima Kasih KaruniaNya, kita        merespon itu dengan ketaatan dan kesetiaan untuk hidup dalam firmanNya untuk kemuliaanNya. Serta memberi diri untuk dipakai Tuhan menyatakan kasihNya bagi dunia ini dan memberitakan kabar sukacita tentang keselamatan dalam Yesus Kristus.

4)   Begitu banyak rancangan keinginan dan rencana yang kita buat dalam kehidupan kita, yang menurut kita itu baik, tetapi belum tentu baik bagi Tuhan. Oleh karena itu kita lebih menjalin keintiman dengan Allah sehingga kita semakin mengerti apa yang Allah inginkan dalam kehidupan kita.

5)   Sekalipun banyak keinginan dan rencana yang tidah tercapai (“tidak/belum Tuhan kabulkan”) dalam kehidupan kita, jangan kecewa dan hilang harapan karena apa yang Tuhan rancangkan dan rencanakan pasti lebih baik dari apa yang kita pikirkan (Roma 8 : 28 ). Rancangan Allah adalah rancangan damai sejahtera (Yeremia 29 : 11)

6)   Banyak tantangn dan pergumulan yang kita hadapi dalam menjalani kehidupan ini (sama seperti pergumulan dan proses yang Daud hadapi untuk menjadi      seorang raja), ingatlah bahwa Allah kita adalah Allah yang setia yang senantiasa ada bagi kita dalam segala keadaan kehidupan kita. Tidak ada satupun yang dapat memisahkan kita dari kasihNya. (Roma 8 : 37 - 39). Allah akan senantiasa mendengarkan doa umatNya dan pertolonganNya akan selalu tepat pada waktuNya (Yesaya 59 : 1; Yeremia 29 : 12-13). Kasih setiaNya akan tetap untuk selama-lamanya.

Pdt. Elba Pranata Barus, S.Th

(GBKP Rg. Bandung Timur)

Minggu Tgl 13 Desember 2020 ; I Tesalonika 5 : 16-14

 (MINGGU ADVENT III)

Invocatio   : “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting rantingnya.  Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku didalam dia, ia berbuah banyak, sebab diluar Aku kamu tidak dapat berbuat apa apa” (Yohanes 15:5).

Bacaan         : Mazmur 126:1-6

Kotbah         : I Tesalonika 5:16-24

Tema            : “Bersiaplah Untuk Kedatangan Tuhan”

Tahun gereja dimulai dalam Masa Advent (Latin : “adventus” : kedatangan), dengan menjalani empat Masa Advent sebelum tanggal 25 Desember.  Ada dua tujuan dalam Masa Advent yaitu mempersiapkan diri untuk kedatangan Yesus Kristus dalam kelahiranNya dan mempersiapkan kedatanganNya kembali untuk menjadi Hakim bagi orang yang hidup dan yang sudah mati (Kisah Para Rasul 10:42).  Dalam Minggu Advent Yang Ketiga Ini, kita diajak untuk mempersiapkan diri akan kedatangan Raja Yang Besar, Yang Membawa Kedamaian dan Menjadi Penebus Bagi Manusia Yang Berdosa.   Persiapan kita terlihat dari hati kita, ucapan, sikap dan tindakan kita dari kehidupan yang kita jalani setiap hari.  Firman Tuhan dalam Kebaktian Minggu ini, mengingatkan kita kembali bagaimana seharusnya kita untuk menghidupi kehidupan kita yang benar sebagai persiapan kita untuk mempersiapkan diri untuk kedatangan Tuhan Yesus Kristus.

I Tesalonika 5:16-24 yang menjadi bahan kotbah kita merupakan surat Rasul Paulus kepada jemaat Tuhan di Tesalonika.  Kota Tesalonika adalah ibukota provinsi dari Makedonia (jajahan Romawi) pada waktu itu.  Setelah Rasul Paulus mendirikan jemaat Tuhan di Tesalonika ini, datanglah perlawanan dari orang orang Yahudi yang tinggal di Tesalonika.  Mereka tidak suka dan menyenangi keberhasilan dalam pemberitaan Injil di Tesalonika.  Oleh karena itu Rasul Paulus meninggalkan Tesalonika kemudian Rasul Paulus mendapatkan informasi mengenai perkembangan jemaat Tuhan di Tesalonika dari Timotius.  Muncul permasalahan didalam jemaat yaitu mengenai konsep kedatangan Yesus kembali.  Pertanyaannya adalah mungkinkah orang Kristen akan mendapatkan kehidupan kekal jika seandainya dia telah meninggal dunia sebelum kedatangan Yesus kembali ? Kapankah Yesus akan datang kembali ?

Oleh karena itu dalam I Tesalonika 4:13-15:11, dijelaskan oleh Rasul Paulus mengenai kedatangan Yesus kembali.  Dalam teks Alkitab kita kali ini, Rasul Paulus juga memberikan sebuah ketetapan hati, semangat/spirit kepada jemaat Tuhan di Tesalonika agar mereka tetap kuat dan tegar dalam menghadapi berbagai tantangan dan penderitaan, Rasul Paulus juga memberikan penjelasan mengenai keraguan jemaat Tuhan di Tesalonika mengenai kedatangan Yesus kembali. Tetap bersukacita, tetap berdoa dan senantiasa mengucap syukur adalah teladan yang harus dilakukan sebagai orang Kristen yang diajarkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Tuhan di Tesalonika dan juga kepada kita.

Kita hidup dari anugerah Allah melalui PutraNya Yang Tunggal, Yesus Kristus.  Dia memberikan kehidupan yang kekal bagi orang yang percaya padaNya.  Melalui bahan bacaan kita merupakan gambaran mengenai kehidupan yang sudah dijalani (masa lalu) yang menjadi pelajaran yang penting dan berharga, kehidupan bangsa Israel pada masa pembuangan agar mereka tetap menjadi bangsa yang taat dan setia padaNya saja.

Yesus Kristus adalah landasan dari pengharapan bagi orang percaya, Dia telah memberikan keselamatan bagi manusia yang berdosa.  Pengharapan akan kedatanganNya kembali, memberi jalan bagi Allah bekerja dan berkuasa dalam kehidupan orang percaya.  Bersiaplah Untuk Kedatangan Tuhan” (Tema) dapat kita lakukan dengan cara bersukacita senantiasa, mengucap syukur dalam segala hal dan jangan menghalangi Pekerjaan Roh Kudus dan jangan anggap enteng akan Berita mengenai Maksud dan Kehendak Allah dalam kehidupan kita serta tetaplah hidup kudus, karena Dia adalah kudus.

“SELAMAT KITA MENANTI KEDATANGANNYA”

Pdt. Prananta Jaya Ginting Manik, S.Si (Teol) MM

GBKP Runggun Bogor Barat

Info Kontak

GBKP Klasis Jakarta - Kalimantan
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate