Jadwal Kegiatan

Ibadah Umum - (08PM - 09PM)
Ibaadah Remaja - (09PM - 10PM)

Minggu Tgl 05 Juli 2020 : Bilangan 15 : 17 - 21

(Minggu IV Kenca Trinitatis/ Minggu Kerja Rani)

Invocatio    : “Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberepa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu” (Kejadian 8 : 20)  .

Bacaan       : Roma 12 : 1 - 2

Khotbah     : Bilangan 15 : 17 - 21 

Tema          : “PERSEMBAHAN KHUSUS BAGI TUHAN”

PENGANTAR

Ada tiga orang Pengusaha yang sanagat sukses yakni si A, B dan C. Mereka bercerita tentang berkat-berkat Tuhan yang mereka terima dari Tuhan dan juga bagaimana mereka mengungkapkan syukur mereka kepada Tuhan dalam bentuk persembahan. Si A menceritakan bahwa dia sangat bersyukur atas berkat Tuhan, oleh karena itu setelah menerima berkat Tuhan (dalam bentuk materi) dari usahanya, ia selalu membuat sebuah lingkaran yang besar. Setelah itu ia berdiri di dalam lingkaran itu kemudian ia melemparkan semua keuntungan usahanya keatas. Yang jatuh di dalam lingkaran itu menjadi mulik Tuhan dan dipersembahkan, dan yang jatuh di luar lingkaran itu menjadi miliknya. Kemudian si B menceritakan bahwa ia juga setelah memperoleh berkat Tuhan dari keuntungan usahanya ia selalu menarik sebuah garis lurus, kemudian ia berdiri ditengah garis dan melemparkan semua uang keuntungannya ke atas. Yang jatuh di sebelah kanan menjadi milik Tuhan untuk dipersembahkan, dan yang jatuh disebelah kiri menjadi miliknya untuk kebutuhan hidupnya. Lalu berkatalah si C, bahwa ia juga melakukan seperti yang dilakukan oleh teman-temannya. Ketika ia menerima keuntungen usahanya, ia mengambil semuanya dan melemparkannya ke atas. Yang tertinggal di atas menjadi milik Tuhan, dan yang jatuh ke bawah menjadi miliknya….

Ini mungkin hanya cerita belaka, tapi dalam kenyataan kehidupan ini masih banyak anak-anak Tuhan yang mengaku bahwa segala kehidupannya adalah milik Tuhan dan segala yang ia miliki Tuhanlah yang empunya namun dalam kenyataannya begitu berat dan sulit untuk mempersembahkannya kepada Tuhan. Banyak yang gagal memaknai dan memakai pemberian Tuhan di dalam kehidupannya. Padahal persembahan dan penyembahan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan orang percaya.

PENJELASAN TEKS

Invocatio : Kejadian 8 : 20

Setelah peristiwa air bah, Nuh mendirikan sebuah mezbah bagi Tuhan untuk mempersembahkan persembahan bakaran bahi Tuhan sebagai respon syukur Nuh atas kebaikan yang telah Allah nyatakan kepada Nuh dan kelurganya. Bentuk persembahan itu adalah berbagai hewan dan burung yang tidak haram. Bau dari persembahan itu menyenangkan hati Tuhan dan Tuhan pun membuat perjanjian dengan Nuh bahwa Allah tidak akan lagi mengutuki bumi oleh karena dosa dan kesalahan manusia (ay. 21 - 22).

Pembacaan Roma : 12 : 1 - 2

Dalam pasal ini Paulus menjelaskan tentang kewajiban iman dan hidup orang percaya; bagamaina seharusnya prilaku, cara dan sikap hidup yang benar sebagai anak-anak Allah yang telah menerima penebusan dan keselamatan dari Allah di dalam dan melalu Yesus Kristus (Hak istimewa sebagai anak-anak Allah senantiasa diikuti oleh kewajiban hidup). Ayat 1 merupakan akibat dari ayat dan pasal sebelumnya, khusunya dalam pasal 11 : 36 dikatakan “ Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia : Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Segala sesuatu yang ada dan terjadi dalam kehidupan ini, khususnya kehidupan orang percaya dan terlebih lagi menyangkut keselamatan yang telah Allah nyatakan melalui Kristus; karena itu kita harus mempersembahkan kehidupan kita kepada Allah sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Keselamatan yang telah Allah nyatakan bagi orang percaya sudah seharusnya direspon dengan memberikan kehidupan kita bagiNya sebagai ucapan syukur dan sukacita kita. Kita tidak boleh membiarkan dan memberikan diri kita untuk dikuasai dan dipakai oleh si iblis. Kemampuan kita untuk menguasai diri dan tidak hidup dalam keinginan daging yang menyesatkan serta membawa kita kedalam hal-hal yang tidak benar. Sekalipun keberadaan kita tetap ditengah-tengah dunia, dengan rupa-rupa tawarannya, kita tidak boleh serupa dengan dunia ini. Orang percaya seharusnya memiliki nilai lebih dari dunia ini, berbeda dengan dunia ini; seperti ikan di laut, sekalipun lautnya asin namun ikannya tidak ikut asin. Demikianlah orang percaya sekalipun dunia ini “semakin gelap dan jahat” tetapi kita tetap menujukkan kualitas iman kita kepada Tuhan, hidup dalam terang dengan setia kepada firman Tuhan, gidup bermakna dan berarti dalam kasik kepada orang lain. Hidup di dalam Tuhan, dengan penyertaan Roh Kudus akan membuat kita semakin diperbaharui di dalam kehidupan ini.

Khotbah : Bilangan 15 : 17 - 21

Pasal 15 Kitab Bilangan ini banyak memaparkan tentang peratutan kurban dalam ibadah keagamaan orang Israel, yang tujuannya adalah untuk “ menyenangkan hati Tuhan”. Persembahan kurban ini juga merupakan tanda kasih dan janji Allah bagi umatNya, dimana sekalipun bangsa Israel sering memberontak kepada Allah dan Allah memberikan teguran dan hukuman bagi mereka. Setehah nanti Israel memasuki tanah perjanjian yaitu Kanaan, Allah tidak lagi memberikan Manna sebagai makanan mereka. Tetapi bangsa Israel makan makanan yang tersedia dari tumbuh-tumbuhan yang ada di Kanaan dan hasil dari pekerjaan mereka. Oleh karena itu peraturan ini harus tetap dilaksanakan secara turun temurun. Bangsa Israel tidak boleh melupakan penyertaan Tuhan dalam kehidupan mereka baik ketika mereka lepas dari perbudakan di Mesir, di dalam perjalanan dengan berbagai tantangan dan ancaman yang ada namun Allah tetap menunjukkan kesetiaan dan penyertaanNya, demikian juga setelah bangsa ini masuk ke tanah Kanaan. Setelah bangsa ini nantinya masuk ke tanah Kanaan, ketika mereka akan makan roti hasil negeri itu (negeri yang dijanjikan dan diberkati Allah) haruslah mereka memberikan persembahan khusus bagi Tuhan. Artinya mereka tidak boleh melupakan bahwa semua itu boleh mereka terima dan nikmati oleh karena berkat penyertaan Tuhan; dan mereka tidak boleh melupakan Tuhan. Demikian juga di dalam tepung jelai mula-mula, Israel harus mempersembahkan persembahan berupa roti bundar sebagai persembahan khusus kepada Tuhan. Ini sama dengan perintah Tuhan dalam Ulangan 26 : 1 - 10, dimana bangsa Israel harus mempersembahkan hasil pertama dari hasil bumi yang mereka telah kumpulkan kepada Tuhan. Persembahan ini adalah ungkapan syukur Isarel atas segala kebaikan Tuhan bagi mereka.

APLIKASI

1.     Memberikan persembahan adalah perintah Allah, bukan sesuatu yang dibuat-buat di dalam kehidupan penyembahan/ peribadahan umat Allah dan gereja. Dengan demikian persembahan adalah sebuah keharusan (bukan dalam artian keterpaksaan) melainkan sebagai bentuk tanggungjawab iman orang percaya kepada Allah.

2.     Persembahan adalah ungkapan syukur kita atas segala berkat, kebaikan dan kasih Allah. Bukan hanya oleh karena Allah telah memberkati kehidupan kita (kesehatan, keluarga, pekerjaan, dsb) tetapi lebih dari itu oleh karena Kasih Karunia Allah yang telah dinyatakan bagi kita melalui keselamatan di dalam Yesus Kristus.

3.     Tema kita ‘Persembahan Khusus bagi Tuhan”. Dalam KBBI, khusus artinya spesial, tertentu, tersendiri. Jadi persembahan khusus bagi Tuhan adalah persembahan yang spesial yang dipersiapkan dengan baik dan benar bagi Tuhan.

a)     Persembahan itu seharusnya sesuatu yang dipisahkan dari semua yang berkat yang akan kita gunakan untuk kehidupan kita. Orang yang sungguh memuliakan Tuhan melalui berkat-berkat yang IA curahkan, akan senantiasa mengingat Tuhan dahulu.

b)     Persembahan bagi Tuhan seharusnya dipersiapkan dengan baik dan di doakan (labo dat-dat je, mekarus, ntah pe meros). Orang yang sungguh menghormati Allah, akan memberikan yang terbaik (labo lapungna, kerpe-kerpe, iba-iba, mbicara diut ndai simerigatna).

c)     Persembahan tujuannya adalah memuliakan Tuhan (Mazmur 50:23) bukan memuliakan diri sendiri, agar dilihat orang lain ataupun terlihat dermawan/ melumbar. Anak-anak Tuhan seharusnya menjauhkan motivasi yang tidak benar dalam memberi persembahan kepada Tuhan.

4.     Dalam kehidupan bangasa Israel dan kita umat Tuhan saat ini, kita mengakui bahwa Allah adalah pemilik segala yang ada (Mazmur 24 : 1) bahkan pemilik kehidupan kita. Jikalau Dia adalah pemilik semuanya, ketika kita menerima berkat Tuhan (rani ibas pendahinta) dan memberikan persembahan kita kepada Tuhan berarti kita hanya mengembalikan apa yang IA titipkan kepada kita. Seharusnya tidak ada lagi sikap yang bersungut-sungut, marah, kecewa atau terpaksa dalam diri kita. (bayangken : Mbicara lit tukang parkir e, sanga kita muat mobilta lako sibaba mulih tangis-tangis ras jungut-jungut akapndu ia, kuga? Padahal e mobilta, sititipken ndai ibas parkiren e tupung kita erbelanja. Bagem me pasu-pasu ras kinilitenta, la wajar kita jungut-jungut ntah pe merasa terpaksa adi man empuna nge siulihken).

5.     Hendaknya kita memberi persembahan bagi Tuhan itu dengan sukacita dan sukarela. Sukacita dan sukarela bukan hanya menyangkut tidak bersungut-sungut atau tidak merasa terpaksa tetapi juga sesuai dengan berkat yang kita terima dari Tuhan. (Ada 3 orang memiliki berkat/ uang, A = Rp. 1 juta, B = 10 juta, C = 100 juta….Masing-masing memberi Rp. 100.000,-…..Jikalau kita bertanya mana yang bersukacita, tentu ketiganya bersukacita, apalagi yang memiliki uang 10 jt dan 100 jt…namun mereke berdua memberi tidak sesuai dengan berkat Tuhan yang mereka terima)>

6.     Persembahan yang kita berikan bagi Tuhan itu haruslah diikuti oleh hidup benar di dalam Tuhan. Pesta Panen (Kerja Rani) adalah ungkapan syukur kita karena Tuhan memberkati kehidupan dan pekerjaan kita. Persembahan yang berkenan bagi Tuhan adalah persembahan yang berasal dari hidup dan pekerjaan yang benar, bukan dari hasil melakukan kejahatan. (Yesaya 1 : 13 “Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuah, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan).

Hidup kita yang benar adalah persembahan yang hidup bagi Allah. Namun bukan berarti kita mengabaikan perintah Allah yang lain. Ada yang berkata : yang terpenting kan mempersembahkan kehidupan kita? Ya benar, bahkan sangat benar. Tetapi kita harus ingat : orang yang berani dan mau     mempersembahkan kehidupannya pasti mau dan berani mempersembahkan apa yang dia miliki.!!

7.     Gereja GBKP melakukan ibadah Pesta Panen/ Kerja Rani sekali dalam setahun. Hasilnya 60% untuk mendukung program pelayanan di Runggun dan 40% disetorkan ke Kas Moderamen melalui Klasis untuk mendukung pelayanan GBKP secara Sinodal. Jikalau kita ingin memuliakan Tuhan melalui Persembahan Pesta Panen ini, hendaklah kita juga tidak menipu diri apalagi menipu Allah dalam pembagian persentase yang telah kita tetapkan bersama di GBKP ini. Hendaklah semangat saling menopang menjadi prinsip kita.

Pdt. Elba Pranata Barus, S.Th

GBKP Runggun Bandung Timur

Minggu Tgl 28 Juni 2020 : Amsal 4 : 1 - 9

Invocatio        : Ketika  Yesus  melihat orang  banyak itu, naiklah IA ke atas  bukit dan setelah Ia duduk, dalanglah murid-muridNya kepada Nya.  Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar  mereka, Kata-Nya. (Matius 5:1-2)

Ogen             : Yakobus 3:13-18

Khotbah         : Amsal 4:1-9

Tema            : mengasihi hikmat ( Kelengi kepentaren)/Love wisdom

A.   Pendahuluan

Tidak mudah menjadi seorang yang berhikmat. Hikmat dari Alkitab yang kita ambil hari ini adalah bagaimana seorang anak mendengar dan mengasihi hikmat/ajaran dari bapaknya. Mendengar dan melakukan hikmat dalam hidupnya tentu ini akan melewati proses dengan berbagai tantangan (dari dalam diri sendiri maupun dari luar/lingkungan) dan hasilnya akan baik jika dilakukan hikmat itu dengan sunguh-sungguh pula. Kita melihat dalam bacaan invocatio bagaimana Yesus sang sumber hikmat melihat dan peka akan kebutuhan para murid dan pengikut-pengikutNya. Sehingga ketika Yesus melihat orang banyak itu, Ia naik ke bukit (agar suara kedengaran karena tidak ada soundsistem). Dia duduk datanglah murid-murid. Maka Yesus mulai berbicara dan mengajar mereka (dengan penuh kuasa). Hikmat dari Tuhanlah yang kita pelajari dan lakukan

B. Pembahasan Teks Amsal 4:1-9:

Teks ini merupakan relfeksi atau pengalaman Salomo, yang mengatakan betapa pentingnya didikan dari orangtua, Nas : Ams 4:1-4

disini Daud yang memimpin bangsa Israel, sebagai orangtua yang mematuhi ajaran-ajaran Tuhan dan tetap mengingatkan pengajaran-pengajaran/didikan kepada Salomo. Hal itulah yang membuat Salomo menjadi Raja yang penuh hikmat didalam meneruskan memimpin bangsa Israel, Salomo tetap memegang didikan orangtuanya sewaktu dia memimpin bangsa Israel. Salomo meminta kepada Tuhan hikmat kebijaksanaan didalam memimpin bangsa Israel, walaupun Tuhan menawarkan kekalahan musuh kepada Salomo atau kekayaan atau umur panjang, tetapi Salomo bukan memilih semuanya itu tetapi Salomo memilih hikmat kebijaksanaan kepada Tuhan, maka Tuhan melihat permintaan Salomo itu sangat baik dan memberikannya kepada Salomo.

Ada dua pengertian mendengar dalam bahasa lnggris. Yang pertama to hear yang artinya mendengar tanpa perlu memberi perhatian, dan yang kedua adalah to listen atau mendengar dengan penuh perhatian, menyimak. Mendengar dalam arti menyimak (to listen), berarti memberi perhatian dan mengapresiasi, juga mendengar untuk melakukan.  Dan dalam teks ini : Amsal 4:1 : My child, listen closely to my teachings and learn commom sense: Anakku(“kecil/child”) dengarlah dengan seksama, menyimak ajaran2ku dan belajar berpikir sehat/memakai akal/nalar). Jadi, aktif untuk menyimak, tetapi juga aktif melakukan apa yang disimak. "Mendengar" sangatlah penting dalam pendidikan di Israel, baik dirumah atau keluarga maupun di sekolah. Ayah dan lbu di rumah keluarga, juga guru di sekolah, di sebut sebagai sang guru hikmat yang mendidik anak-anak atau murid-murid. Dalam kitab Amsal, "telinga" digunakan bukan saja untuk pendengaran, tetapi juga untuk kepatuhan. Karena itulah "mendengar" tidak hanya berarti mendengar, tetapi juga kepatuhan melakukan didikan. Anak atau murid memusatkan perhatian dan pendengaran pada hikmat termasuk menaati dan melakukan yang di dengar telinga. "Dengarkanlah dan perhatikanlah" menekankan agar anak-anak dalam keluarga atau murid-murid di sekolah menggunakan telinga mereka untuk memperhatikan dan menaati dengan sungguh-sungguh didikan sang guru hikmat (orangtua).

Anak-anak muda yang dianggap belum berpengalaman tentang suka duka kehidupan dan bagaimana menjalani kehidupan dengan baik, dididik, diperlengkapi dengan nasihat-nasihat, petunjuk-petuniuk agar mereka memperoleh pengertian bagaimana menjalani kehidupan dan berbagai masalah di dalamnya dengan baik.

Ayah dan lbu mengingatkan agar jangan melupakan, meninggalkan dan menyimpang dari didikannya, arena dari setiap didikan, petunjuk dan nasihat, ada hikmat dan pengertian.

Sumber hikmat adalah takut akan Tuhan.  Ketika kita mengasihi hikmat dan tidak menolaknya , maka hikmat akan menjaga kita. Jika kita menjunjungnya, maka akan ditinggikannya, dia akan menjadikan terhormat ketika kita memeluk hikmat tersebut.

Di hari ini, kita akan mendengar dan memperhatikan banyak hal. Marilah kita arahkan telinga dan perhatian kita pada didikan yang baik dan membangun. Mari kita menyimak dan melakukan berbagai petunjuk yang Tuhan berikan baik melalui firman-Nya maupun didikan orang tua agar dalam pengertian yang benar kita hidup di dalam hikmat Tuhan.

Ketika kita mengasihi Allah dan hikmatNya kita cari maka kita akan dipimpin/ diarahkan menjadi orang yang penuh hikmat dari atas. Berbeda dengan pengetahuan dari dunia yaitu perasaan iri hati (jealous) dan mementingkan diri sendiri (selfish). Hikmat dari Allah adalah hidup dalam kebenaran Allah, menjadi rendah hati dan bijak dalam sikap dan perlakuan. Hikmat dari Allah membawa hidup kita lebih murni, bersahabat, lemah lembut, arif/berakal sehat, baik, penolong, asli dan tulus.

C.   Kesimpulan

Ketika kita mengasihi hikmat/kebijaksanaan (love wisdom) berarti tampaklah dalam hidup kita buah darinya dalam pikiran, perkataan dan perbuatan kita.

1.  Menjadi berhikmat berarti hidup kita mau dipimpin oleh Allah, takut pada Allah dengan menjadi orang yang lebih rendah hati, mendengar/menyimak suara Tuhan atau mungkin orang lain yang dipakai Tuhan berbicara kepada kita, sehingga hidup kita sesuai kehendak Allah.

2.  Menjadi Berhikmat berarti hidup kita menjadi murni, bersahabat, lemah lembut, menggunakan akal sehat, menjadi orang yang baik, penolong dan tulus dalam melakukan apapun. Tidak menjadi orang munafik dan mencari muka. Mengasihi hikmat berarti menampakkan  teladan hidup Kristus di dalam hidup  kita.

3.  Mengasihi dan melakukan hikmat berarti memperoleh hidup dan umur panjang (Amsal 4:10), kekayaan (gloriuos crown), kehormatan (great honours).

 Pdt. Rosliana Br Sinulingga

GBKP Runggun Bumi Anggrek

Kenaikan Tuhan Yesus Kesorga : Markus 16 : 14 - 20

(Peringatan Tuhan Yesus Naik ke Surga)

Invocatio      : “Dan ketika IA sedang memberkati mereka, IA berpisah dari mereka dan

terangkat ke sorga" (Lukas 24:51)

Ogen            : Ibrani 11:1-6 

Kotbah         : Markus 16:14-20

Tema          : “Dia Diangkat Ke Surga, Beritakanlah”

Hidup ini dapat diandaikan sebagai sebuah perjalanan, sebagaimana seseorang hendak berpergian. Jika berencana untuk pergi, maka tempat yang dituju adalah tempat yang baik, menyenangkan dan pasti ada gunanya. Begitu pula pentingnya mempersiapkan berbagai yang diperlukan untuk tiba ke tujuan. Dalam memaknai  peringatan Kenaikan Kristus ke surga, setiap orang percaya menjadikan hidup penuh kesiapan dan tujuan. Karena melalui karya Yesus, kebangkitan dan kenaikanNya ke surga menjadi suatu hal yang menetapkan hati dalam iman dan pengharapan.

Yesus membuka jalan dan menjamin setiap orang percaya untuk turut diangkat dan ditinggikanNya. Hal ini harapan yang pasti, bahwa Kristus telah menyediakan tempat di pangkuan Allah Bapa bagi setiap orang yang setia dalam imna dan sungguh mencari Dia dalam hidupnya. Inilah kepastian yang kekal. Hari Kenaikan Yesus ke sorga merupakan peristiwa penting yang tiap tahunnya diperingati dan dirayakan oleh seluruh umat Kristiani. Peristiwa ini penting karena bagian dari sejarah keselamatan melalui Yesus Kristus. Kenaikan Yesus ke sorga merupakan puncak dari pada pengangkatan Kristus dalam kemuliaan Allah. Dia diangkat, ditinggikan dan dimuliakan oleh Allah dengan duduk disebelah kanan Allah (Markus 16:19). Maka demikianlah kita sebagai orang yang percaya kepadaNya telah diangkat statusya menjadi pewaris kerajaan Allah. Sehingga hendaknya orang-orang percaya menunjukkan citra diri warga kerajaan Allah, dengan menjadikan diri sebagai saksi Kristus di dunia ini dengan memberitakan Kabar Sukacita.

Markus 16:14–20 :

1.    Yesus mencela murid-murid (ayat 14)

Kematian Yesus di kayu salib, mengakibatkan timbul ketakutan dan keragu-raguan murid-murid menjalani kehidupan selanjutnya. Sebelumnya bersama Yesus para murid merasakan suatu kepastian namun sangat berbeda pada awal Yesus meninggalkan mereka dalam kematianNya. Karena itu, setelah bangkit dari antara orang mati, Yesus menampakkan diriNya kepada murid-muridNya. Ketika sedang makan, ke sebelas murid tersebut didatangi oleh Yesus, sambil mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka. Karena mereka tidak percaya kepada kesaksian orang-orang yang telah melihat Yesus sesudah kebangkitanNya.

2.    Yesus menampakkan diriNya untuk meneguhkan iman percaya murid-muridNya, agar mereka tidak tersesat dalam ketidakpercayaab. Peristiwa kebangkitan Yesus memang tidak mudah dan tidak mampu jika dipahami secara akal pikiran manusia. Tapi harus dibantu dengan iman percaya kepada Yesus sebagai penuntun memahami dan menghayatinya. Semua murid-murid Yesus telah melihat Yesus (bandingkan ucapan Yesus kepada Tomas dalam Yohanes 20:29) “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”.

3.    Pergilah keseluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk (ayat 15–16)

Pada saat Yesus berjumpa kembali, maka tidak hanya menetapkan hati para murid, namun juga memberikan tugas untuk memberitakan Injil. Tugas ini menjadi tugas semua murid Yesus, juga tugas semua orang percaya hingga saat ini dan masa yang akan datang. Memberitakan Injil bermodalkan kemampuan dan kekuatan yang datang dari Tuhan. Tugas ini tidak dapat dilakukan oleh orang yang penakut, yang ragu-ragu atau bimbang. Tapi haruslah dilakukan oleh orang yang teguh dalam iman. Dengan kuat kuasa dari Tuhan Yesus, setiap orang Kristen menjadi saksi-saksi Kristus yang militan, siapapun dia, apapun profesinya, kapanpun selalu siap sedia. Seorang Kristen sejati tidak menghalangi diri untuk tetap menunjukkan citra Allah dalam dirinya.

4.    Menerima Kuasa dari Tuhan Yesus (ayat 17–20)

Menjadi murid Yesus yang menyaksikan tentang karya Kristus akan menerima kuasa dariNya. Yesus berjanji akan menyertai perjalanan kehidupan setiap orang beriman dalam melakukan tugasnya (bdk. Matius 28 : 20b ” Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”).  Kuasa penyertaan Yesus nampak dalam tanda-tanda zaman yang nyata dalam kehidupan orang percaya. Melalui orang percaya nyata mujizat-mujizat Tuhan Yesus pada zaman ini, pengusiran setan-setan, penyembuhan penyakit-penyakit khususnya penyakit sosial di masyarakat masa kini seperti, kekerasan (termasuk kekerasan rumah tangga), judi, kemalasan, kebodohan, narkoba, prostitusi, korupsi dan lain sebagainya). Dalam tanda kuasaNya, kita diberikan kekuatan untuk tetap bersaksi bagiNya dimulai dari diri sendiri. Dengan pertolongan Tuhan dimampukan untuk meninggalkan kehidupan yang tidak berkenan dihadapanNya. Doa adalah dasar kekuatan dalam melakukan pelayanan pemberitaan tentang Kristus juga dalam menaklukkan segala tantangan dan pergumulan yang dihadapi.

IBRANI 11:1-6

Sebagai saksi Kristus, kita tidaklah hanya berdiam diri, melihat dan meratapi kenaikanNya, tapi pergi untuk memberitakan injil sampai kepada ahir Zaman. Kita turut menjadi saksi selama menanti dan menyambut kedatangan Yesus yang kedua kalinya, dengan kuasa Tuhan tetap setia bertekun dan sehati dalam doa. Mengalami makna kenaikan Yesus ke surga adalah dengan menjadi saksi yang berlandaskan iman percaya dan pengharapan bahwa janjiNya, ya dan amin. Iman menjadi dasar kuat dalam penantian akan harapan kemulianNya yang disaksikan dan menjadi bagian kita. Bahwa apa yang telah disaksikan kepada nenek moyang kita, telah dan akan terus disaksikan dalam ketekunan hingga harinya Tuhan datang. Iman menjadi pedoman untuk hidup berkenan bagiNya dan setia menyaksikan kebenaranNya.

Yesus naik ke surga dan akan kembali agar semua orang percaya kepadaNya juga akan bersama dengan Dia dalam kemuliaan untuk selama-lamanya. Kesanalah tujuan hidup kita. Tempat itu adalah kehidupan yang diharapkan karena memberi sukacita selama-lamanya (kehidupan kekal). Karena itu, kehidupan dan teladan Yesus menjadi  bagian kehidupan kita juga. Seumpama lampu mercusuar bagi kapal dimalam kelam di samudera luas. Bagaikan batu karang tempat berpijak  dikala hidup bagaikan perahu yang dibanting oleh amuk amarah samudera luas namun tetap tenang dan beroleh selamat. Jadilah kita sebagai saksi yang tangguh, yang tidak hanya menanti pasrah, tapi berbuat memberitakan kabar keselamatan dari pada Allah bagi dunia ini.  Untuk itu kita membutuhkan kekuatan/kuasa, dan hendaknya kita senantiasa bertekun dan sehati dalam doa. Kita akan menerima Kuasa Tuhan.

Dalam masa menanti kedatanganNya kita harus bekerja, bersaksi tentang Injil Kerajaan Allah itu melalui kata dan perbuatan. Kerinduan kita akan Kerajaan Surga harus nampak dalam sikap hidup sehari-hari kita, apapun pekerjaan/profesi kita. Dalam bekerja dan bersaksi, pengenalan akan Yesus semakin sempurna dan sukacita akan bertambah-tambah. Tak lupa, persiapan kita menyambut kedatanganNya yang kedua kali itu semakin mantap dalam iman yang sungguh mencari Dia. Karena sesungguhnya Tuhan memberi berkat bagi kita (Bdk invocatio, Luk 24:51)

PENUTUP

Siapapun pasti merindukan surga, sebagai tujuan hidup sesudah kematian. Setiap orang tidak akan mampu meraih Surga itu, tanpa iman dan pengharapan. Mengapa? Karena tempat itu terlalu indah, jauh lebih indah dari kota-kota tujuan wisata yang menarik. Jika melihat kehidupan yang dijalani, tentu sebenarnya kita tidak layak kesana karena dosa-dosa, kebimbangan, keragu-raguan iman percaya.

Kita dapat kesana, hanya karena Yesus yang membawa kita kesana (waktu kedatanganNya yang kedua kali). Karena itu nantikanlah kedatanganNya.  Menanti bukan berarti tidak berbuat apa-apa. Menanti dan bersaksi adalah satu kesatuan. Dalam keterbatasan (ketidakmampuan) manusia, Roh Kudus diberikan sebagai penolong dan penghibur. Setiap orang percaya senantiasa menerima Kuasa Tuhan melalui Roh Kudus yang menyertai perjalanan hidup menuju Surga – Rumah Bapa yang baka.

Setiap orang percaya dalam iman dan pengaharapan yang hidup adalah saksi Kristus yang rindu untuk meletakkan dasar hidup dan tanggungjawab tugas pelayanan pada keseriusan, kerendahan hati, kepatuhan dan kerelaan serta kesetiaan. Beritakanlah Dia yang telah diangkat ke surga, yang akan datang kembali bagi orang-orang yang dikasihiNya. Turutlah memberitakanNya mulai dari siri sendiri dengan sikap dan perbuatan, perkataan dan pikiran yang dijalankan sesuai dengan kehendakNya. Serta jadilah saluran berkat bagi orang lain dengan memberitakan kabar sukacita bagi semua. Amin

Pdt  Deci Kinata  br Sembiring

 

GBKP Rg  BalikPapan

 

Info Kontak

GBKP Klasis Jakarta - Kalimantan
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate