Jadwal Kegiatan

Ibadah Umum - (08PM - 09PM)
Ibaadah Remaja - (09PM - 10PM)

Minggu 5 April 2020 ; Markus 11 : 1 - 11

Invocatio      : “Barangsiapa mengambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku” (Matius  10 : 40)

Bacaan         :  Yesaya  52 : 7 – 12 

Khotbah       :  Markus  11 : 1 – 11 

Tema           :  “Mengikut Yesus”

      Pendahuluan

Saudara-saudari yang terkasih, sebelum menerusken khotbah ini saya mau mengajak kita menyanyikan sebuah lagu rohani yang berjudul, “Mengikut Yesus Keputusanku” (I Have Decided to Follow Jesus).

Mengikut Yesus keputusanku  

Mengikut Yesus keputusanku

Mengikut Yesus keputusanku

Ku tak ingkar, ku tak ingkar

 

Tetap ku ikut walau sendiri

Tetap ku ikut walau sendiri

Tetap ku ikut walau sendiri

Ku tak ingkar, ku tak ingkar

Mengikut Yesus harus menjadi keputusan pribadi kita. Tidak boleh asal ikut, apalagi ikut-ikutan. Mengikut Yesus harus dengan penuh kesadaran. Tuhan tidak memaksa kita mengikuti-Nya. Dia mengajak manusia mengikuti-Nya. Dengan lembut Dia memanggil kita mengikuti-Nya. Ya, mengikut Yesus harus terus menjadi komitmen kita orang-orang percaya. 

      ISI

Dipanggil untuk mengikut Yesus dan memberitakan Injil (Matius 10:40)

      Yesus Kristus tidak hanya memanggil manusia untuk menjadi murid-murid-Nya dan mengikuti-Nya. Tetapi Ia juga mengutus mereka memberitakan Kerajaan Allah. Tuhan memberi missi bagi pengikut-Nya. Demikianlah ditunjukkan dalam ayat firman Tuhan sebelum invocatio Matius 10:40. Akan ada tantangan bahkan penderitaan dan penolakan ketika murid-murid memberitakan Injil. Pasti ada yang menolak baik dengan halus maupun dengan kasar. Tetapi pasti ada juga yang menerima pemberitaan mereka. Dalam hal ini Tuhan Yesus mengatakan bahwa siapa yang menerima mereka (murid-murid) dan beritanya mereka sebenarnya menerima Yesus Kristus. Siapa yang menerima Yesus sebenarnya mereka menerima Allah yang mengutus Yesus. Karena Yesus adalah Anak Allah sendiri, Yesus dan Allah adalah satus sebagaiman Allah, Yesus, dan Roh Kudus adalah satu. Yesus adalah Allah (Bdk. Yoh. 1:1-4, 14). Menerima Yesus yang adalah Allah berarti menerima pengampunan dan keselamatan dan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Jadi, tidak sekedar dan hanya menerima murid-murid dan beritanya saja tapi meneriman yang terpenting dan terbesar di dalam hidup manusia.   

      Mengikut Yesus ternyata disertai dengan perintah memberitakan berita sukacita yaitu berita keselamatan. Mengikut Yesus meminta ketaatan dan kesetiaan terus menerus. Dalam melaksanakan missi pasti ada hambatan, tantangan bahkan penderitaan. Tetapi yakinlah bahwa pasti ada juga yang menerimanya. Bagi yang menerimanya sebenarnya mereka menerima pemberian yang terbaik yang bisa mereka terima yaitu Allah di dalam Yesus yang adalah Juruselamat dunia. 

      Sukacita yang luar biasa atas keselamatan dari TUHAN (Yes. 52:7-12) 

      Dikalahkan, ditawan dan dibuang jauh dari keluarga, saudara, tetangga, dari sahabat dan teman sungguh suatu yang pilu sekali. Tinggal berpuluh-puluh tahun jauh terasing dari rumah sendiri, Rumah Tuhan/ pusat ibadah sendiri dan negeri sendiri sungguh sangat menyesakkan hati. Hancurlah hati, hilangah harapan dan mimpi. Inilah yang terjadi bagi kaum Yehuda yang di masa pembuangan Babel. Tetapi Tuhan tidaklah meninggalkan mereka. Yesaya kedua (Deutro Yesaya) menubuatkan keselamatan dari Tuhan bagi Sion (orang Yehuda). Betapa indahnya kelihatan kedatangan pembawa berita damai, kabar baik, berita selamat dari Tuhan bagi umat terjajah dan terbuang. TUHAN tampil sebagai Raja. Dia Raja segala raja. Dia datang kembali ke Sion. TUHAN telah menghibur umat-Nya, Dia telah menebus mereka. Dia menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan semua bangsa. Setelah 70 tahun TUHAN membawa mereka kembali ke Yerusalem. TUHAN berjalan di depan bangsaNya dan berjaga di belakang mereka.          

      Banyak orang yang hidup dalam kebimbangan, ketidakpastian dan keputusasaan. Ada yang yang tidak bisa melihat terang dalam hidupnya. Ada yang hilang pengharapan akan masa depan. Ada orang yang merasa terbuang dan terasing dalam hidupnya. Mereka sangat membutuhkan kehadiran kita para utusan Tuhan Yesus. Sebagai pengikut Yesus, marilah membawa kabar baik, terang bagi saudara-saudari kita yang membutuhkan. Biarlah mereka menerima keselamatan Tuhan Yesus melalui kita. 

              Yesus memasuki Yerusalem dan orang banyak mengikuti dan menyambut-Nya dengan sangat meriah (Markus 11:1-11)

             Dalam ketaatan-Nya kepada Bapa-Nya di sorga, Yesus pergi menuju Yerusalem tempat Dia akan ditangkap dan divonis mati. Dia tetap pergi kesana sekalipun maut menanti. Yesus datang kesana dengan mengendarai keledai muda yang adalah lambang kerendahan hati. Ia tidak menunggangi kuda lambang kekuatan dan kekuasaan. Orang banyak mengikuti Yesus menuju Yerusalem. Mereka menyambut Yesus yang datang dengan sorak-sorai dan sangat meriah. Hal itu terlihat dengan membuka baju mereka dam meletakkannya di jalan yang dilalui Yesus. Ada juga yang meletakkan ranting-ranting hijau di jalanan. Ada banyak orang yang dibelakang Dia dan di deban-Nya. Mereka berseru dan berkata-kata, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosanna di tempat yang maha tinggi!” Ternyata motivasi mereka menyambut dan mengikut Yesus mau menjadikan mereka sebagai mesias politis. Supaya Yesus melepaskan mereka dari penjajahan kerajaan Romawi. Mereka tidak bisa menangkap simbol yang dipakai Yesus dengan menunggangi keledai.         

 Mengikut Yesus haruslah dengan motivasi yang benar. Motivasi kita perlu dimurnikan dalam mengikut Yesus. Bukan untuk hidup duniawi saja tetapi terlebih untuk jiwani dan rohani kita. Mengikut Yesus untuk mengubah hati dan pikiran kita. Mengikut Yesus supaya hidup kita berkenan bagi Allah dan sesama.

 Penutup/ kesimpulan

·            Kita telah sampai ke Minggu Passion VII terakhir disebut juga Minggu Palmarum. Selanjutnya kita akan memasuki rangkaian ibadah pra Paskah yang dimulai dengan Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Pengharapan dan Paskah. Seperti Tuhan Yesus taat dan setia sampai akhir marilah kita tetap taat dan setia mengikut Yesus.

·            Mengikut Yesus artinya mengambil posisi dibelakang Yesus. Mengikut Yesus artinya meneladani-Nya baik pikiran, sifat/ karakter, melakukan perkataan-Nya, perbuatan dan  tujuan hidup-Nya. Jangan sekali-kali mendahului-Nya dan membelakangi-Nya. Mendahului-Nya maksudnya kita merasa tidak memerlukanNya. Membelakangi-Nya maknanya tidak menghormati-Nya.

·            Mengikut Yesus adalah keputusan dan tindakan tetap terus-menerus. Artinya, kita mengikut Dia dengan kesadaran dan komitmen. Kita tidak boleh asal-asalan ikut dan ikut-ikutan saja. selanjutnya mengikut Yesus adalah aksi atau tindakan tetap dan berkelanjutan. Setiap hari bahkan setiap saat kita harus mengikuti-Nya dengan taat dan setia. Mengikut Yesus sampai akhir hayat kita. 

·            Mengikut Yesus tidak boleh dengan syarat. Mengikut Yesus itu tanpa syarat. Artinya kalau sesuai keinginan kita kita mengikuti-Nya. Tetapi kalau berlawanan dengan kemaun, kita meninggalkan-Nya atau membelakangi-Nya. Justru barangsiapa mau mengikut Yesus, harus menyangkal diri, pikul salip dan mengikut Dia (Markus 8:34, 35). Supaya kita sanggup setia mengikut Yesus, kita harus tinggal di dalam Dia. Dengan tinggal di dalam-Nya maka kita akan dimampukan mengikuti-Nya dengan benar (bdk. Yoh. 15:5).

·            Walau ada konsekuensi mengikut Yesus misalnya: tidak populer, melawan kebiasaan yang ada, ada yang teringgung lalu  membekot (memboikot) dan memusihi kita namun mengikuti-Nya adalah yang terbaik bagi kita. Dengan mengikuti-Nya kita beroleh sukacita, kehidupan dan keselamatan kekal (bdk. Wahyu 2:10c).  

Pdt. Juris Tarigan, MTh; 

GBKP RG Depok - LA

Minggu 29 Maret 2020 ; 2 Petrus 1 : 1-7

Invocatio         : Tunjukkanlah kasih setiaMu yang ajaib, ya Engkau yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kananMu terhadap pembrontakan (Maz. 17:7)

Bacaan            :   Zefanya 2:1-3 

Khotbah           :   2 Petrus 1:1-9 

Tema               :   Mendapat bagian di dalam kemuliaan dan kebaikan Tuhan

          Segala hal yang dijanjikan Allah dalam firmanNya, bukan hanya untuk sekedar kita ketahui melainkan juga untuk kita alami. (2 Raja-raja 2:10). Seperti halnya Tuhan menyertaidan memberkati bangsa Israel melalui berkat-berkat rohani yang membuat bangsaNya tidak kekurangan dalan hal apapun. Semua ini bisa mereka terima jika bangsanya tetap dan selalu setia didalam mengikuti dan menjalankan perintah-perintahNya.

          Namun walaupun demikian fakta sejarah menyatakan sering sekali terjadi bahwa bangsa ini berpaling dari perintah Allah itu sendiri sehingga murka Allah yang mereka terima sebagai imbalan dari ketidak setiaan mereka. Tuhan sangat rindu akan pertobatan umatnya, kesempatan demi kesempatan Tuhan berikan agar Nama Tuhan dapat dinyatakan didalam kehidupan bangsaNya.

          Yang menjadi menjadi renungan bagi kita bagaimana sikap kita ataupun bangsaNya ketika hukum atas ketidaksetiaan mereka terima sebagai peringatan untuk meluruskan jalan dan sikap hidup yang sebenarnya dihadapan Tuhan ??

          Pasrah menerima keadaan bukanlah sikap yang tepat dalam menghadapi hukuman Allah yang begitu mengerikan (Zef. 2:1). Zefanya menekankan ajakan untuk bertobat. Allah akan menghukum manusia atas keberdosaannya. Tetapi penghukuman bukan akhir dari segalanya, jika kita/bangsaNya mencari hadirat-Nya, melakukan keadilan dan hidup dalam kerendahan hati agar terlindung dari kemurkaan Tuhan. Gampang-gampang susah jika kita melihat karakter manusia. Dibutuhkan waktu karena terkadang manusia tidak memahami dirinya secara integral.

          Zefanya mengundang dan memotivasi bangsanya yang acuh tak acuh agar memahami bahwa “pintu” kasih Allah masih terbuka lebar (band Zefanya 2:1-3)

          Sama halnya ketika Petrus mengingatkan kita tentang panggilan Tuhan yang harus kita kerjakan dengan sungguh-sungguh tidak ada kata setengah-setengah dalam menjalalankan kehidupan kekristenen. Sebaliknya kita harus mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar (Pilipi 2:12). Karena itu Petrus memberi nasehat agar berusaha dengan sungguh-sungguh. “ ….. untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuaan penguasaan diri dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, kasih akan semua orang (2 Petrus 1:5-7). Kata sungguh-sungguh berati melakukan dengan sepenuh hati, tidak asal-asalan atau main-main. Berusaha dengan sungguh-sungguh juga berati bahwa kita berusaha tidak dengan kekuatan sendiri dalam melakukan apa yang difirmankan tetapi mengacu pada respons kita terhadap panggilan Tuhan itu.

          Orang yang sudah dipilih adalah orang yang sudah menunjukkan citra Allah didalam dirinya dan berhak mendapat bagian didalam kemuliaan dan kebaikan Tuhan (band Tema).

          Daud selalu berdoa kepada Tuhan agar diberi penyertaan di dalam hidupnya karena Daud merasa banyak sekali pergumulan yang dihadapinya. Tetapi Daud percaya hanya Tuhanlah tempat yang paling aman untuk perlindungan yang mampu menjaga dan membebaskan segala ketakutan, kekhwatiran  bagi orang yang selalu berseru kepadaNya (Maz. 17:7)

          Tujuan kehidupan kita sebagaimana dirancang Allah ketika Ia mencipta manusia adalah :

·         Memuliakan Allah dan menikmati persekutuan denganNYA

·         Berhubungan baik dengan sesama

·         Bekerja

·         Berkuasa atas bumi

Lihatlah betapa Tuhan itu baik Ia tidak ingin kita hidup dalam penderitaan. Oleh karena itu didalam minggu Judika ini kita diingatkan kembali untuk selalu berdoa dan berserah kepada Tuhan, untuk meminta kekuatan dan penyertaan Tuhan agar kita mampu menunjukkan sikap hidup dalam keadilan dan kebenaran.

Sehebat dan sekuat apapun godaan dunia, orang yang setia di dalam iman dan pengharapan kepada Tuhan akan memperoleh kebaikan dan kemurahanNya untuk bisa tampil beda dengan orang lain. Tak satupun yang bisa kita banggakan selain “Hidupku bukannya aku lagi, tetapi hidupku ada di dalamMu”. Proses perubahan ke arah yang lebih baik akan terjadi di dalam diri kita, karena Tuhan itu menngasihi saya dan saudara.

Haleluya……. Amin    

Pdt. Neni Triana Sitepu

Runggun  GBKP Cisalak

Suplemen PJJ : Johanes 14 : 23-36 ; Tgl 16-22 Februari 2020

Ogen            : Johanes 14:23-26

Thema           : “Dibata Si Telu Sada”

Johanes 14:23-26 si jadi bahan PJJnta enda eme rangkaian pesan perpisahen Tuhan Jesus ras ajar-ajarNa. Ibas ayat 22 lit ije ikataken Judas (labo Judas Iskariot), “O Tuhan nggit Kam mpetandaken diriNdu man kami, janah la man doni enda?”. Emaka jawapen siiberekenNa man ajar-ajarNa eme, erkiteken kekelengen nge kerina. Ngkai maka bage? Ibas Tuhan Jesus masalah perjuangen Israel ngelawan kalak Roma eme sada hal si la perlu ituriken paksa sie. Isilahkenna sie janah mabai perhatianna, ras perhatianta, kempak sada hal silebih mbelin, eme uga carana kalak banci nggejapken penemani ras keleng ate Kristus. Tempa-tempa ajar-ajar e nungkun, “ngkai Kam la mpetandaken diriNdu man doni enda?”, tapi itafsirken Jesus penungkunen e alu erti “ngkai Kam mpetandaken diriNdu man kalak si patuh nandangi KataNdu?”. Emaka ulihi kami eme erkiteken kekelengenNa. Pangen akap Jesus e nuriken keleng ate Bapa man bana si ngkelengi Ia. Ia si patuh, si ngkelengi Ia, pasti ikelengi Dibata Bapa, alu cara si la terbatas kerna teori saja. Bentuk kekelengen e eme Tuhan Jesus ras Dibata Bapa pasti reh man bana si matuhi KataNa, janah ringan ras ia. Ibas konteks enda ungkapen “ringan ras ia” labo enda maksudna ulih hasil talenta sekalak jelma, tapi maksudna eme hasil kepatuhen. Teridah ijenda pasu-pasu e ibereken khusus man kalak si patuh, labo man tiap kalak si tubuh peduakaliken (lahir baru).

Kalak si nggejapken penemani Dibata eme kalak si patuh nandangi perintahNa janah ngelakokenca. Alu enda Kristus ncidahken maka kerina siikatakenNa ibas Johanes 14 enda man ajar-ajar la terjeng maksudna man kalak si genduari jadi pengikutNa, tapi pe man kerina kalak si tek man baNa erkiteken pemberitanna. Emaka ibas Johanes 14:23-26 enda, lit ije: kewajipen kalak si ngaku sebage ajar-ajar Tuhan Jesus. Kenca ngaloken perintah-perintah Kristus, kita harus ngalokenca. Sebage kalak si idilo ras ngaku Kristen, kita nggo ngaloken perintah Kristus, siibegi ras sioge. Kita ndatken pemeteh kerna perintahNa e. Tapi, sie saja la bias. Adi kita memang mbuktiken diri jadi Kristen, kita harus matuhi perintahNa. Lit ije martabat kalak si ngelakoken kewajipen sekalak ajar-ajar. Kristus natap ia kerina sebage kalak singkelengi Ia. Labo kalak si beluh ndai, tapi kalak si ngikutken perintahNa. Perlu siperdiateken, bukti si pasti kal kerna kekelengenta man Kristus eme kepatuhen kempak perintah Kristus.

Emaka kai ka upah siiberekenNa man kalak si bage. Upahna luar biasa. Kekelengen man Kristus la pernah sia-sia. Ialokenna me kekelengen Bapa: kalak si ngkelengi Aku, ikutkenNa kap katangKu. Alu bage ikelengi BapangKu me ia. Kita la ngasup ngkelengi Dibata adi la ibereken pasu-pasu man banta guna ngkelengi Ia. Ialokenna me kekelengen Kristus. Kristus pe ngkelengi ia. Sebage Bapa, Dibata ngkelengi manusia, janah Tuhan Jesus pe ngkelengi sebage senina, sebage anak sintua.

Kalak situhu-tuhu ngkelengi Jesus janah tuhu-tuhu patuh nandangi rananNa pasti nggejapken kehadiren ras kekelengen langsung arah Bapa ras Anak. Bapa ras Anak reh man kalak si tek arah Kesah Si Badia. Erkiteken Jesus mpetandaken diri man kalak si tek si patuh arah Kesah Si Badia si mpetandaken kehadiren pribadi Jesus ibassa bagepe nemani kalak si ngkelengi Ia. Kesah Si Badia mereken kesadaren man banta kerna rembakna Jesus ras kinata kekelengenNa, pasu-pasuNa ras penampatNa. Hal enda termasuk dahin utama Kesah Si Badia. Kinatana maka Kristus ndeheri kita arah Kesah Si Badia seharusna erbanca kita menanggapi alu kekelengen, penembahen, ras kehamaten. Emaka perlu siperdiateken maka kekelengen Bapa tergantung ibas kekelengenta man Jesus ras kesetianta kempak KataNa.

Kalak si la matuhi ajaren Kristus lalit kekelengenna man Kristus e janah adi lalit kekelengenna kinitekenna pe labo lit (bnd. 1 Joh. 2:3-4). Sikataken maka kalak tetap selamat amin pe ia ngadi ngkelengi Kristus janah mulai ka nggeluh alu la mehuli, sie bertentangen ras ranan Jesus kerna kekelengen, kepatuhen, ras Kesah Si Badia si ringan ibas kalak si tek.

Kai nge pengakun ntah pe dalil ajaren paling sentral ibas kiniteken kalak Kristen? jawapna: Dibata Si Telu Sada, Dibata si mpetandaken diri sebage Bapa, Anak, ras Kesah. Ija nge bagin ibas Pustaka Si Badia si nuratken ajaren Dibata Si Telu Sada enda? Situhuna, lit piga ayat-ayat ibas Pustaka si ngataken Dibata, Jesus, Kesah Si Badia, tapi lalit ayat secara eksplisit ngataken maka telu pribadi enda eme Dibata Si Telu Sada. Adi bage, kai nge dasar gereja ibas kerina aliren radu ras ngakuken Dibata Si Telu Sada? Adi siperdiateken ibas Padan Simbaru, khususna ibas Johanes 14 si jadi oratenta, kai si tersirat ibas Padan Simbaru teridah ibas penjelasen Jesus maka Ia labo erdahin sisada. “O Pilipus, la kin kam tek maka Aku ersada ras Bapa, janah Bapa ersada ras Aku? Kerina si enggo Kukataken man bandu, labo ibas Aku nari saja. Bapa si ersada ras Aku e me si ndahiken kerina si e” (Joh. 14:10). “Kusuruh pagi Penampat si reh ibas Bapa nari ndahi kam. Ia kap Kesah si ncidahken kebenaren Dibata. Adi enggo pagi Ia reh, Ia kap si ersaksi kerna Aku” (Joh. 15:26). Lebih konkrit ka adi siperdiateken Matius 28:19, “Laweslah ku kerina bangsa manusia, bahanlah ia jadi ajar-ajarKu: Peridiken ias ibas gelar Bapa, gelar Anak, ras gelar Kesah Si Badia”.

Emaka sekitar seratus tahun kenca erbage-bage penggelaren kerna Dibata e ibukuken ibas Pustaka Si Badia, Tertullianus (160-220) Tunisia nari mulai meneliti, membahas, ras nuratken bahan-bahan ajaren si mengimani maka Dibata erdahin ibas diri Jesus ras KesahNa. Ajaren e igelari “Tritunggal” ntah pe “Trinitas”. Ajaren enda isampati ras iterusken Origens (185-254) Mesir nari. Kenca arah erbage-bage pertimbangen, ajaran e ialoken gereja. Kedungenna ajaren enda ibahan Athanasius (296-373) lebih eksplisit, bagi irumusken ibas Pengakun Kiniteken Nicea-Konstantinopel. Ije lit kalimat, “Aku tek man sada Dibata, Bapa si la ersibah kuasaNa ... Aku tek man sada Tuhan, Yesus Kristus, Anak Dibata si Tonggal ... Aku tek man Kesah si Badia ... si reh ibas Bapa ras Anak nari, siraduken Bapa ras Anak e isembah dingen imuliaken ...”

Emaka kenca sada abad nggo lit Pengakun Kiniteken Nicea-Konstantinopel si merumusken ajaren Dibata Si Telu Sada ndai, ikembangken Augustinus (354-430) i Aljazair nari si irumusken ibas Pengakun Kiniteken Athanasius, si rulih-ulih irevisi gereja seh abad waluh. Gelar Athanasius ijadiken judul amin pe ia nggo mate piga puluh tahun sebelumna. Pengakun enda bagenda nina, ibas bahasa indonesia suratken kami, “... Sang Bapa adalah Allah, Sang Putra adalah Allah, dan Sang Roh Kudus adalah Allah; namun tidak ada tiga Allah, melainkan hanya ada satu Allah ... Bapa tidak berasal dari siapa pun, tidak diciptakan dan tidak diperanakkan; Putra berasal dari Bapa saja, tidak dijadikan atau diciptakan melainkan diperanakkan; Roh Kudus berasal dari Bapa dan dari Putra, tidak dijadikan atau diciptakan, melainkan dipancarkan ... Dalam ketritunggalan ini tidak ada yang lebih dulu, atau yang lebih kemudian; tidak ada yang lebih tinggi, atau yang lebih rendah, ...”. Rumusen Pengakun Kiniteken Nicea-Konstantinopel (selanjutna igelari Niceanum) ras Pengakun Kiniteken Athanasius (selanjutnaa igelari Athanasium) ialoken kerina gereja i doni enda. Apakah rumusen pengakun kiniteken e final ras mutlak? Lang! Kerina dogma ntah pe dalil ajaren agama eme produk manusia fungsina sebage alat sinampati kita guna erban ungkapen (mengungkapkan) kai si iteki kita.

Apakah alu pengakun kiniteken enda misteri Dibata Si Telu Sada nggo jelas? Tentu lang. Kerina dogma ntah pe dalil ajaren nadingken tanda tanya guna generasi selanjutna. Pengertinta kerna Dibata tuhu-tuhu terbatas seh maka terjeng meremang saja siidah. Nina Paulus, “Sabap pemeteh ras nubuatta labo dem. Kai siidah kita genduari enda bali ras awih si meremang-remang ibas cermin tembaga; tapi pagin kerina siidah alu petala-tala. Pemeteh si lit ibas aku genduari langa dem; tapi pagin pemetehku e jadi kuh dingen serta me, bali ras pemeteh Dibata kerna aku kuh dingen serta kap” (1 Kor. 13:9,12). Emaka alu bage, apakah ajaren Dibata Si Telu Sada perlu sibela? Lang! Keyakinenta kerna Dibata labo perlu ibela. Tuhu-tuhu arogan kal kita adi kita merasa ngasup mewakili Dibata guna mbela Ia. Adi bage, kai siharus silakoken? Ngataken bujur kita janah terus siperjelas kinitekenta kerna Dibata Si Telu Sada. Ngataken bujur kerna kiniulin Dibata seh maka nggit Ia hadir alu telu cara si akap kami tuhu-tuhu kreatif. Sebaga Dibata Bapa, Ia mpekena-kena ras memulihken kita. Sebage Anak, Ia ngalemi ras nemani kita. Sebage Kesah, Ia mbersihken ras mereken pengaruh ibas pusuhta. Kai ertina e, labo sieteh, tapi banci sigejapken ras siungkapken.

Bapa, Anak ras Kesah Si Badia lalap radu ras hadir ras ndahiken dahin si seri (penciptaan, penyelamatan, dan penebusan) masing-masing alu peran ras tugas si jadi porsina guna erbahan dahin e jadi nyata. Ibas karya penciptaan, misalna: Sang Bapa adalah penciptaan, Sang Anak membuat karya penciptaan itu menjadi nyata, dan Roh Kudus memampukan ciptaan itu menyadari keberadaanNya sebagai ciptaan Allah dan karena itu menjalani kehidupannya menurut teladan yang ditunjukkan Allah kepadanya. Dalam hal keilahian, tidak ada pribadi Allah yang di depan, pribadi Allah yang di tengah, dan Allah yang di belakang. Ketiga pribadi itu sama-sama di depan dan sama-sama di belakang. Pribadi ilahi yang satu hanya mau dikenal dalam kebersamannya dengan dua pribadi yang lainnya sebagai satu Allah.

Sipelajari Doktrin Trinitas (Dibata Si Telu Sada) eme guna kita ncidahken usahanta membahasaken Dibata alu telu kata eme Dibata e lebih mbelin asangken kata-kata manusia janah kerina bentuk usahanta guna erban gambaren keberadan Dibata. Nina Karl Barth, “Allah ada di surga dan kita di bumi”. Augustinus pe ngataken, “Allah adalah pencipta dan kita hanyalah ciptaan”. Kata-kata ntah pe bahasa siipake kita guna erban gambaren kerna Ia pe tuhu-tuhu terbatas. Uga ka mungkin bahasanta si terbatas enda banci menampung Dibata situhu-tuhu la terbatas? Johanes Calvin ngataken hal si seri, tapi ibas ungkapen si berbeda ibas bahasa Latin: finitum non capac infiniti, si terbatas la banci menampung si la terbatas (yang terbatas tidak dapat menampung yang tak terbatas). Enda labo berarti maka usahanta membahasaken Dibata merupaken sada spekulasi. Lang! Bahasanta memang terbatas. Dibata si la terbatas tuhu-tuhu tehna kerna keterbatasenta, tapi ibas kiniulinNa nggit Ia makeken bahasanta si terbatas guna mengkomunikasiken diriNa. Enda sada pasu-pasu si harus sikataken bujur. Salah sada bentukna eme makeken bahasanta si terbatas e guna mberitaken Dibata si la terbatas alu kesadaren maka kai siikataken kerna Dibata la pernah ngasup erban gambaren Dibata e alu sempurna. Gambarenta kerna Dibata lalap merupaken gambaren si lenga dung, tapi harus lalap iulih-ulihi. Karl Barth erban gagasen si menarik kerna hal enda, eme, “Mengatakan hal yang sama dalam kata-kata yang lain”. Ngataken hal si seri alu kata-kata sideban seh telu kali.

Gereja ibas usahana situhu-tuhu guna menanggapi Dibata simpetandaken diri, ngaku tek man Dibata sebage “Tuhan yang ada di atas kita”. Ia lebih mbelin asangken kerina gagasen, perukuren ras pandangenta. “Tuhan di atas kita” sie me si nepa kita ras erbahan kerinana jadi lit. Pengakun enda irumusken secara konkret ibas pengakun kiniteken man “Dibata selaku Bapa”. Ibas pengalamen pergaulen ras Dibata, gereja minter menyadari maka pengakunna nandangi Dibata sebage “Tuhan di atas kita” kepeken lenga bias. Dibata selaku “Tuhan di atas kita” tuhu-tuhu seh kal dauhna. Pengalamen manusia ras Dibata sibagenda la bage, eme ndauh ras la terdeheri. Dibata sinidatas e tuhu-tuhu ndeher ras manusia. Ia labo terjeng lit sebage Bapa. Lebih asa sie, Ia pe igejapken sebage senina. Erkiteken pengalamen enda, gereje terdorong guna mbelasken mulihi pengakun kinitekenna. Sebage penegasen pengakun kerna Dibata sebage Tuhan sinidatas, gereja negasken ka maka Dibata e radu ras eme “Tuhan di antaras kita”. Ia labo saja ndauh ras mesera ndeherisa, tapi pe Ia lit itengah-tengahta, jadi salah sada diantara kita. Pemahamen kiniteken enda lit ibas pengakun kerna “Dibata Anak”. Anak e me sierbanca sitandai pendahin Bapa. Adi sedekah enda Bapa e terbuni. Ibas Anak e lanai Bapa e terbuni. Anak e me wujud diri Bapa si sempurna. Ertina, icidahken Anak e man banta ise Bapa e. Ibas diri, kegeluhen, ras dahin Anak e banci me siidah Bapa e. Emaka ikataken me Anak e Imanuel: Dibata itengah-tengahta. Uga kin pe iulih-ulih pengakun kerna Dibata si sada ibas dua kata tuhu-tuhu teridah nggo sikap. Gereja tetap merasa lit kal kerna Dibata e si lenga terakomodasi. Lit dimensi sideban silenga ikataken kerna Dibata e adi pengakun ndai ngadi ije. Pengalamen pergaulen manusia ras Dibata ncidahken maka Dibata pe ringan ibas kita. Erdahin Ia labo terjeng ras kita, tapi pe ibas kita guna nalihken kelemahen ras keterbatasenta jadi gegeh ras kesempurnan. Ibas kesadaren enda me gereja sekali nari ngakuken kiniteken si seri man Dibata alu kata-kata sideban. Iakukenna me Dibata e sebage “Tuhan di dalam kita”. Dibata Kesah Si Badia jadi kata kunci guna dimensi sipeteluken arah pengakun gereja kerna Dibata. Ise nge Kesah Si Badia e? Ia me pribadi peteluken ibas Dibata Si Telu Sada. Dibata Kesah Si Badia eme pribadi si lalap bergerak ndarat ibas Bapa menuju kempak Anak janah arah Anak nari menuju Bapa. Ibas keberadanna enda, Dibata Kesah Si Badia eme persadan antara Bapa ras Anak. Dibata Kesah Si Badia eme sirkulasi ntah pe geraken siigelari ibas Dibata Si Telu Sada. Ibas pengalamen perjumpanna ras Dibata, gereja mengalami maka Dibata reh man bana labo terjeng ibas sada cara, tapi telu cara. Dibata mpetandaken diri man gereja sebage Bapa Anak, ras Kesah Si Badia, ntah pe ibas ungkapen si lebih akrab ibas cuping kalak Indonesia: Allah di atas kita, Allah di antara kita, dan Allah di dalam kita.

Pdt. Asnila Br. Tarigan

GBKP Rg. Cijantung

Info Kontak

GBKP Klasis Jakarta - Kalimantan
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate