Jadwal Kegiatan

Ibadah Umum - (08PM - 09PM)
Ibaadah Remaja - (09PM - 10PM)

Sabtu Pengaharapan tgl 11 Februari 2020 ; Matius 12 : 38 - 42

Invocatio       :  Apabila kamu telah  mati  bersama-sama  dengan Kristus dan bebas dari Roh-roh dunia (Kolose 2:20a)

Bacaan          : Markus 15:42-43

Khotbah        : Matius 12:38-42

Thema          : Bertobat Dari Dosa

I.             Pendahuluan

Sabtu suci merupakan hari terakhir dalam Pekan Suci yang dirayakan oleh orang Kristen sebagai persiapan perayaan Paskah. Hari Sabtu Suci memperingati pada saat tubuh Yesus Kristus dibaringkan dikubur setelah pada hari Jumat Agung mati disalibkan. Keesokan harinya (Paskah) Yesus bangkit dari kematianNya. Yesus berada di dunia kematian jadi satu bentuk perjuanganNya untuk menyelamatkan kita dan menumbuhkan pengharapan kepada kita bahwa di dalam Kristus ada kebangkitan dan kehidupan yang kekal. Perjuangan Yesus janganlah menjadi sia-sia, marilah kita hargai dan kita jadikan sebagai penyemangat kepada kita untuk memperbaiki kehidupan kita dengan bertobat dari dosa.

II.           Isi

Bahan invocatio kita mengatakan jemaat Kolose telah mati bersama Kristus. Ini fakta yang telah terjadi pada jemaat Kolose dan bukan kondisional. Berdasarkan fakta ini sekarang jemaat Kolose tidak lagi berada di bawah kuasa roh-roh jahat. Dahulu, ketika jemaat Kolose belum percaya kepada Yesus, roh-roh dunia menguasai hidup mereka. Mereka hidup di bawah kendali roh-roh dunia. Akan tetapi, sekarang roh-roh dunia telah ditaklukkan dan kekalahannya telah dipertontonkan di muka umum. Roh-roh dunia tidak memiliki kuasa apapun atas orang Kisten. Karena jemaat telah mati bersama Kristus, maka mereka telah mati juga dari roh-roh dunia. Kematian membebaskan hamba dari kuasa tuannya. Demikian juga, kematian bersama Kristus membebaskan manusia dari cengkeraman roh-roh dunia.

Bahan bacaan kita menceritakan sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, hari menjelang Sabat. Karena Sabat dimulai sejak matahari terbenam, jenazah Yesus harus segera dikuburkan sebelum Sabat dimulai. Memindahkan dan menguburkan jenazah tidak boleh dilakukan pada hari Sabat. Karena itu, Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Hari telah malam dan besok adalah Sabat, hari ketujuh. Hari ini juga Yusuf harus menghadap Pilatus. Ia adalah anggota Sanhedrin, majelis yang menentukan kebijaksanaan atas diri Yesus. Tetapi besar kemungkinan penyaliban ini telah berlaku tanpa persetujuan Yusuf dari Arimatea. Sebagai anggota dewan kehormatan, Yusuf berada di posisi yang dapat membela Yesus. Tapi dia tampaknya tidak bisa (bnd. Yoh. 19:38). Publisitas Yusuf terjadi setelah penyaliban Yesus. Keberaniannya yang muncul terlambat beberapa jam. Namun dalam meminta tubuh Yesus, Yusuf mempertaruhkan reputasi dan kariernya. Dan dengan menyentuh jenazah, dia menajiskan dirinya, dan membuatnya tidak layak untuk ikut serta dalam perayaan Paskah, yaitu hari raya orang Yahudi yang paling ditunggu-tunggu. Yusuf orang Arimatea adalah orang kaya. Ia membaringkan mayat Yesus di kuburan miliknya sendiri, yang belum pernah dipakai, yang dilubangi pada dinding batu (bnd. Mat. 27:57-60; Yes. 53:9).

Kemunafikan orang Farisi terus diberitakan oleh Matius. Dalam bahan khotbah ini orang Farisi berpura-pura mau menjadi pengikut Tuhan Yesus yang masih mempunyai sedikit ganjalan. Tinggal sedikit lagi maka mereka akan menjadi murid Yesus, asalkan Yesus memberikan tanda. Ini pertanyaan yang menunjukkan kedegilan hati mereka. Apakah masih perlu tanda lagi? Benarlah apa yang dikatakan Paulus dan Yehezkiel. Orang Yahudi menghendaki tanda (1 Kor. 1:22) karena mereka bangsa yang tegar tengkuk (Yeh. 2:3-7). Setelah melihat tanda begitu banyak mereka masih minta tanda lagi. Tanda apakah yang mereka harapkan, dengan begitu banyaknya mujizat yang dibuat Tuhan Yesus? Itulah sebabnya Tuhan Yesus merespon mereka dengan mengatakan bahwa mereka adalah angkatan yang jahat dan tidak setia (ay. 39). Tuhan menegur mereka dengan teguran yang sangat keras. Mereka hanya akan mendapatkan tanda nabi Yunus. Apakah tanda Yunus itu? Tuhan Yesus menjelaskan bahwa tanda Yunus adalah bahwa Anak Manusia akan tinggal di perut bumi tiga hari tiga malam. Tetapi hal lain lagi yang sangat dimengerti oleh ahli Taurat dan orang Farisi adalah bahwa Yunus menjadi tanda penghakiman bagi Niniwe. Yunus menjadi alat menyatakan peringatan Tuhan bagi kota besar Asyur itu setelah dia keluar dari perut ikan besar yang menelan dia. Inilah peringatan yang secara implisit mau dinyatakan oleh Tuhan Yesus. Dia akan tiga hari ditelan oleh kematian, tetapi setelah itu Dia akan bangkit untuk menghakimi manusia. Penghakiman oleh Yunus terjadi setelah dia dikeluarkan dari perut ikan, dan penghakiman oleh Yesus terjadi setelah Dia dibangkitkan dari antara orang mati. Tanda yang dialami oleh orang Farisi dan ahli Taurat adalah bahwa setelah bangkit dari kematian Yesus akan menghakimi mereka. Kecuali mereka bertobat sama seperti Niniwe bertobat, mereka akan segera dijungkirbalikkan (Yun. 3:4). Tanda Yunus adalah adalah tanda penghakiman yang menuntut respon pertobatan dengan segera. Penghakiman segera akan datang, cepatlah bertobat.

Tetapi pada bagian ini Tuhan Yesus tidak mau meninggikan diriNya sendiri. Dia tidak mengatakan bahwa setelah tiga hari di perut bumi Anak Manusia akan menghakimi setiap orang. Siapa yang menolak Dia akan dihukum dengan berat. Dia tidak memberitakan itu tetapi Dia mengatakan bahwa yang akan bangkit adalah orang Niniwe dan ratu dari Syeba. Mengapa begitu? Karena baik orang Niniwe maupun ratu Syeba tidak tertarik kepada mujizat dan tanda-tanda. Orang Niniwe bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus. Mereka bertobat karena firman. Mereka tidak bertobat karena mujizat. Orang Yahudi menghina Yesus dan masih meminta tanda padahal Yesus jauh lebih berkuasa daripada Yunus. Jika Niniwe bertobat karena Yunus, apalagi jika mereka mendengar Yesus. Demikian juga Ratu Syeba mengadakan perjalanan yang sangat jauh untuk mencari hikmat Salomo. Dia tidak datang karena mendengar Salomo mampu mengerjakan tanda-tanda mujizat. Dia datang untuk mendengar hikmat Salomo. Itu sebabnya ratu ini pun akan menjadi ukuran bagi penghakiman untuk Israel. Isarel masih meminta tanda padahal Yesus jauh lebih berhikmat daripada Salomo. Jika hikmat Salomo saja membuat Ratu Syeba terkesan, apalagi jika ratu itu mendengar Yesus mengajar. Mereka dengan kebodohan yang luar biasa, menghina apa yang paling agung dan bernilai di bumi ini. Mereka menolak Anak Allah yang mempunyai kuasa dan hikmat melampaui semuanya. Celakalah mereka karena kebodohan mereka. Inilah tanda bagi mereka yang berpura-pura mau ikut Yesus.

III.         Refleksi

Sabtu Suci (Sabtu Pengarapen) adalah momen kita merenungkan arti kasih setia Tuhan melalui kematian Yesus Kristus. Kematian adalah hal yang sangat ditakuti manusia. Bahkan kalau membicarakan tentang kematian pun banyak orang takut untuk membicarakannya apalagi membicarakan tanda-tanda kematian itu sendiri. Dan tambah lagi hancurnya hati kalau orang yang kita kasihi meninggalkan kita. Yesus sudah masuk ke dunia kematian, dan mengalahkan kuasa kematian. Kematian pun tidak sanggup lagi memisahkan kita dari kasih setia Tuhan itu sendiri. Sampai dunia kematian pun kita diperjuangkanNya dan diselamatkanNya. Kematian Kristus membawa keselamatan kepada kita dan juga kepada semua orang yang sudah mati dalam Kristus. Khotbah Sabtu Suci (Sabtu Pengarapen) ini membawa kita untuk lebih lagi menghargai pengorbanan Kristus yang mati di kayu salib dan berjuang di dunia kematian untuk mengalahkan kuasa dosa agar kita mendapatkan keselamatan. Kita mengetahui dan kita merasakan bahwa kematianNya karena dosa-dosa kita, untuk menebus kita. Untuk itu harus ada di dalam diri kita dan terlihat dalam kehidupan kita seperti thema khotbah kita “Bertobat Dari Dosa”. Itulah tandanya kita menghargai kematian Kristus. Bertobat dari dosa membuat kita tidak lagi menjadi musuh Allah, tapi menyatu dengan Dia.

Pdt. Andarias Brahmana, S.Th

Ketua Klasis Jakarta-Kalimantan 

Jumat Agung tgl 10 April 2020 ; Matius : 27 : 45 - 56

Invocatio      : Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka muliutnya seperti anak domba    yang dibawa ke pembantaian; seprti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting  bulunya, ia tidak membuka mulutnya. (Yesaya 53:7)

Bacaan         : Ibrani 10:19-29   

Kotbah         : Matius 27:45-56

Tema           : “Eli, Eli Lama Sabakhtani”.

 Kata Pengantar

Setelah Yesus disalibkan pasukan Romawi dan ahli Taurat, orang farisi serta orang banyak yang telah dihasut imam-imam untuk meneriakkan penyaliban Yesus, mereka menjaga dan menyaksikan Yesus yang tersalib, dengan hati yang penuh tanda tanya dan membenarkan diri, apakah Yesus yang mengaku Anak Allah, raja orang Yahudi dapat turun dari salib itu. Apakah Allah akan datang menolong Yesus AnakNya itu. Menurut mereka Yesus telah gagal, mengaku diri Anak Allah tetapi tidak mendapat pertolongan dari Allah. Masakan Allah tidak peduli kepada keprihatinan yang dihadapi AnakNya? Mereka merasa telah berhasil membuktikan bahwa kesaksian Yesus tentang diriNya Anak Allah adalah palsu dan merekalah yang benar. Dengan menangkap mengadili dan menghukum Yesus mereka merasa dirinya jauh lebih mulia dan lebih kudus, mereka merasa berjasa memerankan dirinya sebagai penjaga dan yang menegakkan kebenaran.  Dengan menyalibkan Yesus diapit ke dua penjahat besar yang disalibkan di sebelah kanan dan kiri Yesus, mereka menyamakan  Yesus dengan penjahat yang penuh dosa. Saat saat penyaliban itu semakin menegangkan dan memprihatinkan.

Pembahasan dan pemberitaan

Mulai jam dua belas, saat saat dimana biasanya matahari persis berada di posisi atas dan bersinar bebas, dunia terang benderang tetapi tiba tiba  kegelapan meliputi semua wilayah itu sampai jam tiga sore hari. Peristiwa menjadi gelap itu tentunya sangatmencekam, mendebarkan hati dan menakutkan. Sepertinya dunia berkabung atas kejamnya manusia ciptaan Allah yang menyalibkan Tuhannya. Pastilah orang orang yang ada di situ menghubungkan kegelapan itu dengan peristiwa penyaliban Yesus. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu pastilah bertanya-tanyadan gelisah, apakah yang akan terjadi. Kira-kira jam tiga berteriaklah Yesus dengan suara nyaring “Eli, Eli lama sabakhtani?” artinya “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa engkau meninggalkan Aku?” Seruan Yesus itu bukanlah ucapan seperti orang yang mengigau karena menghadapi beratnya tekanan dan sakitnya penyiksaan. Tapi Firman Tuhan menjelaskan betapa beratnya beban dosa yang ditanggungkan kepada Yesus sebagai Juruselamat. Yesus  mengalami penderitaan fisik karena penyiksaan penyiksaan dan penyaliban. Ia juga mengalami penderitaan batin sebab dihianati dan di tinggalkan murid muridNya yang sudah mengatakan janji setia sampai mati dan juga karena orang banyak yang telah menikmati pelayanan Kerajaan Allah dari setiap pelayanan dan mujizat yang dilakukan Yesus yang meminta Yesus di salibkan dan Barabas di bebaskan. Yesus juga mengalami penderitaan rohani, bahwa dalam setiap pelaayananNya Yesus selalu disertai Bapa tetapi di atas kayu salib Allah Bapa meningalkan Yesus dan Ia harus menggung sendiri segala beban dosa dunia dari sepanjang jaman yang sangat berat dan mematikan yang harus dipikulnya, berjuang sendiri dan sampai kepada puncaknya Ia menyerahkan nyawaNya kepada Bapa.

Seruan Yesus “Eli, Eli lama sabakhtani?” adalah seruan betapa beratnya penderitaan rohani yang hanya dapat di mengerti dari pemahaman rohani yang dalam. Karena itu orang banyak tidak memahaminya, sebab mereka hanya melihat penderitaan fisik sehingga mereka mengira Yesus memanggil Elia untuk menolongNya. Alkitab jelas memberitakan Yesus berseru dengan suara nyaring, suara yang jelas dan pasti maka orang yang mengira Yesus memanggil Elia-lah yang salah mengartikan seruan Yesus itu.

Tidaklah mudah memahami penderitaan rohani yang ditanggungkan kepada Yesus sebab kecenderungan mata jasmani hanya memahami penderitaan fisik, penyaliban fisik dan kematian fisik. Firman Tuhan yang kita baca hendak membawa kita kepada pemahaman melampaui pemahaman penderitaan fisik dan batin, sebab jika demikian cukuplah manusia menanggapinya dengan berkata; “Sungguh berat penderitaan Yesus” atau “Kasihan Yesus”.

Penderitaan rohani adalah pengajaran kayu salib bagi orang percaya dan dunia. Oleh karena penderitaan rohanilah maka Yesus dari atas kayu salib memohonkan kepada Bapa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk. 23:34). Sebelum Yesus disalibkan, ketika perempuan-perempuan Yerusalem menangisi dan meratapi Dia, kepada mereka Yesus mengatakan “Hai putri-putri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiari dan anak-anakmu!” (Luk. 23:28).

Memahami perkataan Yesus “Eli, Eli lama sabakhtani?” kita dapat membandingkan dengan ketidak setiaan Israel, ketika mereka menyembah berhala dan hidup di dalam moral etika yang memberontak kepada Firman Allah, sehingga Tuhan Allah meninggalkan mereka. Bahwa karena begitu banyaknya dosa yang di tanggungkan kepada Yesus dan karena kejijikan dosa, maka Allah Bapa meninggalkan Yesus. Dosa menyebabkan kematian, dan kematian rohani adalah putusnya hubungan dengan Allah. Meski Yesus tidak berbuat dosa tetapi Allah memperlakukanNya sebagai orang berdosa, tetapi Yesus terus menjalaninya sebab ketaatanNya kepaada Allah Bapa.

Yesus mengalami kematian fisik sebab dosa dunia yang sudah di tanggungkan kepadaNya dan dosa telah dibayar lunas oleh kesetiaan Yesus di atas kayu salib. Karena itu kematian Yesus justru membuahkan kehidupan. Tabir Bait Allah terbelah dua dari atas sampai ke bawah; melambangkan bahwa hubungan manusia dengan Allah yang di gambarkan terputus, tertutup tirai antara ruang penyembahan dengan ruang maha kudus di dalam Bait Allah telah terhubung langsung. Dosa yang di tebus di dalam kematian Yesus menyebabkan hubungan manusia dengan Tuhan Allah dapat terjalin kembali di dalam Yesus Kristus. Pada peristiwa kematian Yesus terjadi gempa bumi dan yang menyebabkan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.

Peristiwa salib mengubah pemahaman jasmani menjadi pemahaman rohani. Kepala pasukan dan prajurit-prajurit yang menjaga Yesusbertanya-tanya kebenaran apakah Yesus anak Allah dan dengan mengalami goncangan gempa bumi oleh kematian Yesus akhirnya mereka mengakui dan berkata “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.” Kematian Yesus telah menyebabkan kehidupan rohani bagi kepala pasukan dan prajurit prajurit.

Penutup

Dosa adalah penyebab penderitaan dan kekacau balauan. Dosa membuat terputusnya hubungan dengan Allah dan dosa adalah penyebab kematian yang mengerikan seperti yang dialami Yesus. Persoalan dosa adalah perkara yang sulit dan tidak mungkin di selesaikan, tapi di dalam Yesus semua telah di atasi,  kekuatan dosa telah di lumpuhkan. Penebusan di atas kayu salib menjadikan generasi orang percaya menjadi generasi perjanjian baru adalah orang-orang yang telah dibebaskan dari kuasa dosa sehingga Allah  tidak akan meninggalkan anak-anak yang dikasihiNya. Kita tidak akan berteriak “Eloi, Eloi lama sabakhtani?” tapi kita akan terus memuji-muji Tuhan. Kita adalah generasi pemuji Tuhanyang dapat leluasa berdoa bersekutu dengan Allah dan membangun kehidupan rohani yang intim dengan Allah.

Melalui bacaan Firman Tuhan Ibrani 10:19-29 mengajar kita bahwa dengan penebusan oleh darah Yesus membuat kita dengan penuh keberanian dapat masuk ke tempat kudus Tuhan dan Yesus menjadi Imam Besarkita yang Agung. Kita harus menjaga kekudusan kita sebab jika kita sengaja berbuat dosa sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. (26). Kita harus menghidupkan kesetiaan Yesus di atas kayu salibdi dalam semua aspek kehidupan kita.

Tetap setia!

Pdt Ekwin W.Ginting  Manik

Ketua Klasis Bekasi – Denpasar 

Kamis Putih 09 Februari 2020 ; Matius 26 : 26 - 30

Invocatio    : Lalu  Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, kata-Nya : “ Pergilah, persiapkanlah perjamuan  Paskah bagi  kita  supaya  kita   makan (Lukas 22:8)

Bacaan         : Keluaran 12:24-28 

Kotbah         : Matius 26:26-30 

Tema           : “Persadan Si Badia”

1.    Matius menekankan kewajiban orang Kristen untuk makan dan minum perjamuan Tuhan dalam kepatuhan terhadap perintah Yesus. Bahkan perjamuan Tuhan menjadi bagian dari hukum Kristus.

2.    Nats ini menyatakan waktu kejadiannya begitu jelas yaitu “ketika sedang makan”. Ay. 21 Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan hidangan pendahuluan, kini mereka sedang makan hidangan utama perjamuan Paskah. Matius secara khusus menyisipkan nama Yesus di ay. 26 supaya membawa kembali Yesus sebagai pusat cerita setelah penyebutan nama Yudas di ay. 25. Yesus mengambil roti, mengucap berkat, dan memecah-mecahkannya. Kemungkinan roti yang dipakai adalah roti biasa bukan roti tidak beragi. Bahasa yang digunakan adalah artos bukan azumos (Ibr. matsah). Sejauh ini tidak ada sesuatu yang baru dari yang dilakukan Yesus beserta murid-Nya dari kebiasaan Yahudi. Hanya mereka tidak menggunakan roti tidak beragi seperti umumnya. Unsur baru terletak pada perkataan Yesus setelah roti itu dibagikan “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku” (terdapat juga di dalam Markus dan Lukas, hanya Lukas menambahkan lagi “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku”).

Perjamuan kudus mengingatkan kita akan “kerelaan memberi diri” Yesus (memecah roti yang adalah gambaran tubuh-Nya sendiri).

3.    Ay. 27, dalam Injil Matius dan Markus (14:23) dinyatakan bahwa segera sesudah pembagian roti, Yesus mengedarkan cawan (poterion). Perjamuan Paskah Yahudi umumnya memiliki beberapa cawan berisi anggur. Tetapi Markus dan Matius menyebut hanya satu cawan. Kemungkinan yang dimaksud ialah cawan ketiga dari acara tersebut. Atas cawan itulah orang mengucapkan berkat, karena cawan itu disebut “cawan pengucapan syukur” (1 Kor. 10:16 “poterion tes eulogias”). Cawan ketiga itu juga yang Yesus berikan kepada para murid-Nya disertai kata-kata “minumlah, kamu semua, dari cawan ini”.

4.    Ay. 28, Matius menyebutkan alasan “sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa”. Markus 14:24 tidak mencantumkan kata-kata “untuk pengampunan dosa”. Jadi pada waktu merayakan perjamuan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Nya Yesus memberi yang baru kepada dua unsur yang khas dari Paskah Yahudi yaitu roti dan anggur tersebut. Ketika Yesus mengatakan “ambillah, makanlah, ini tubuh-Ku”, Dia tidak sedang mengatakan bahwa “roti ini sama dengan tubuh-Ku”. Tetapi perlu kita pahami sesuai dengan makna perjamuan Paskah dalam lingkungan Israel. Pada setia perayaan Paskah roti tidak beragi membuat umat Israel teringat akan malam keluaran dari Mesir, akan mukjizat Allah, yaitu penyelamatan bangsa dari perbudakan di Mesir. Seolah-olah orang yang memperingatinya, dia sendirilah yang berada dalam peristiwa itu. Begitu pula Yesus menghendaki agar para murid mengingat bahwa pada waktu perjamuan Paskah terakhir bersama mereka Dia menciptakan kaitan erat antara roti yang dipecah-pecahkan dan dibagikan dengan tubuh-Nya. Yesus telah mengaitkan roti Paskah yang dipecah-pecahkan dan dibagikan itu dengan tubuh-Nya, bahkan dengan diri-Nya sendiri. Jadi tindakan tersebut bertujuan sebagai ingatan akan perkataan dan perbuatan Tuhan Yesus sendiri. Yang pasti adalah bahwa Yesus meminta kita untuk memperingati, bukan kelahiran-Nya, atau hidup-Nya, atau mukjizat-Nya, tetapi kematian-Nya.

Roti berarti Yesus sendiri, air anggur dikaitkan dengan “darah perjanjian-Ku” (bdk. Zak. 9:11). Darah itu “ditumpahkan untuk pengampunan dosa”, maka kata-kata itu menegaskan bahwa tindakan Yesus, yaitu kematian-Nya yang dialami-Nya dengan sukarela, meneguhkan perjanjian baru antara Allah dan umat Israel baru.

Perkataan Yesus mengenai cawan anggur berlatar belakang Yesaya 53:12 dan Yeremia 31:34 yang berisi nubuat mengenai Perjanjian Baru. Sehingga cawan anggur itu menjadi pengemban perjanjian baru itu. Darah Yesus ditumpahkan untuk pengampunan dosa, baik dosa bangsa-Nya sendiri maupun “banyak orang” (pollon). Itu berarti pengampunan terbuka bagi setiap orang karena Yesus sendiri memandang kematian-Nya sebagai korban persembahan bagi semua orang, bahkan sebagai tebusan bagi seluruh dunia.

5.    Menerima Yesus sebagai jalan manusia mendapat bagian dalam anugerah keselamatan. Tidak mungkin manusia dengan sendirinya menjadi umat Allah yang baru, dengan hanya mendaftarkan diri secara administratif. Dalam hal ini menerima roti dan anggur sebagai tanda kehadiran Yesus Kristus.

6.    Ay. 29 “mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai hari Aku meminumnya, yaitu yang baru”. Hal ini kita tidak bisa lepaskan dalam kerangka zaman akhir. Ayat ini menghubungkannya dengan kedatangan Kerajaan Allah kembali dengan sempurna. Pada waktu itu, segala sesuatu menjadi baru, dan pada waktu itu juga Yesus akan minum dari hasil pokok anggur “yang baru” (kainon) bersama-sama dengan para murid-Nya dan semua orang milik-Nya di Kerajaan Bapa-Ku (basilea tou patros mou). Melalui perjamuan tersebut nyata sebuah kesatuan antara “Aku – kamu – Bapa-Ku”. Sehingga melalui Perjamuan Kudus kita akan teringat akan kedatangan Yesus Kristus yang membawa pembebasan, yang mendirikan perjanjian baru antara Allah dengan umat-Nya oleh pengorbanan nyawa-Nya secara sukarela serta kesatuan antara Yesus Kristus, kita sebagai umat yang baru, dan dengan Bapa.

7.    Sebagaimana tindakan perjamuan ini mengingatkan kita akan peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir menuju tanah perjanjian. Maka Perjamuan kudus hari  ini mengingatkan kita supaya kita keluar dari “Mesir-Mesir” yang baru menuju tanah perjanjian mengingat umat Allah yang baru dibawa keluar dari perbudakan “Mesir” yang baru supaya dapat hidup di tanah “perjanjian” bersama dengan Allah.

8.    Pada saat orang Yahudi sibuk mempersiapkan anak-anak domba untuk Paskah, Yesus sendiri sebagai anak domba Paskah sejati siap untuk mempersembahkan diri-Nya sebagai korban yang sejati untuk penebusan dosa. Maka jika hari ini kita melakukan perjamuan maka hal tersebut menjadi peringatan (anamnesis) bagi kita akan penderitaan dan kematian-Nya yang membawa pendamaian dalam kerelaan.

9.    Ay. 30, naik ke bukit Zaitun “sesudah menyanyikan nyanyian pujian”. Kemungkian yang dinyanyikan adalah mazmur-mazmur pujian (Mzm. 113-118). Lagu-lagu yang dinyanyikan itu mempunyai tempat tersendri dalam acara Paskah Yahudi. Ketika Yesus merayakan perjamuan Paskah terakhir, Dia tetap berpegang pada acara yang wajib dipakai umat Yahudi, termasuk dalam hal nyanyian.

Bukit Zaitun tersebut masih dalam wilayah kota Yerusalem. Pada malam Paskah tersebut orang dilarang keluar dari wilayah kota. Jadi, dalam hal ini pun Yesus tidak melanggar kebiasaan Yahudi.

10. “Maundy Thursday” adalah hari Kamis terakhir sebelum hari Jumat Agung dan menjadi penutup masa Pra-Paskah, sebelum Triduum, yaitu Trihari Paskah yang meliputi: Kamis Putih - Jumat Agung - Sabtu Sunyi - Paskah. Istilah Maundy berasal dari bahasa Latin yang berarti “mandat” atau “perintah” dan menunjuk kepada perintah baru yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya untuk saling mengasihi dan saling melayani satu sama lain (“Mandatum Novum” atau perintah baru: “Aku memberi perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34). Dalam liturgi Kamis Putih gereja secara utuh menghayati dan mengenang peristiwa Perjamuan Malam Terakhir, penetapan sakramen Perjamuan Tuhan, dan sikap Yesus yang menekankan kasih-Nya sebagai seorang hamba dengan membasuh kaki para murid-Nya.

11. Salah satu hal yang dilakukan Yesus pada perjamuan terakhir adalah membasuh kaki para murid. Dan dalam beberapa tahun ini belakangan ini gereja kita juga melakukan hal yang sama meski masih banyak yang belum menghayati makna dari pembasuhan kaki tersebut. Tradisi Yahudi, membasuh kaki adalah salah satu bentuk penghormatan pada seseorang yang mempunyai status atau jabatan lebih tinggi. Kaki adalah anggota tubuh yang terletak paling bawah dan biasanya paling kotor. Membasuh kaki adalah kewajiban para pelayan. Yesus mau memberi teladan melayani. Dengan teladan pembasuhan kaki ini, Yesus juga ingin mengajarkan bahwa pada dasarnya semua manusia itu sama di mata Tuhan, memiliki hak dan martabat yang sama, sehingga karena persamaan itulah semua manusia diharap dapat saling melayani dengan penuh kasih. 

12. Mengingat adalah salah satu hal yang terpenting dalam teologi Kristen. Semboyan proklamator “jas merah” (jangan sekali-kali melupakan sejarah). Dalam Perjamuan Kudus? Apa yang perlu kita ingat? Tentu kebaikan Tuhan yang dengan sukarela menjadi persembahan Paskah yang sejati sekali untuk selamanya menebus dosa kita. Apa yang tidak perlu kita ingat-ingat? Kesalahan orang lain (elem-elem/ dendam)! sebagaimana Perjamuan Kudus memiliki mandat baru demikianlah kita kiranya saling mengasihi.

13. Perjamuan Kudus mengingatkan kita bahwa makan dan minum bukan hanya masalah perut saja. Tetapi kesatuan ataupun kebersamaan yang setara. Tidak seperti yang terjadi di jemaat Korintus, antara golongan kaya dan miskin (kaum budak) ada hieararki. Sudah jelas ketika melakukan perjamuan budak tidak tentu jam kedatangannya karena pasti menunggu izin dari tuannya untuk bisa hadir di perjamuan yang telah ditentukan. Tetapi golongan kaya tidak sabar akhirnya menghabiskan makanan dan minuman. Perjamuan kudus kembali mengingatkan kita untuk saling menerima satu dengan yang lain dan tidak ada tembok pemisah.

14. Perjamuan Kudus mengingatkan kita akan kebaikan Tuhan. Ditengah gampangnya kita melupakan kebaikan Tuhan, yang kita ingat adalah kebaikan diri kita. Memang seribu perbuatan Tuhan yang baik bagi kita tidak cukup menjadi alasan kita bersyukur kepada-Nya, tetapi satu hal yang Tuhan berikan tidak sesuai dengan hati kita sudah sangat cukup bagi kita untuk menyatakan Tuhan tidak adil. Mengingat kebaikan Tuhan mendorong kita mengucap syukur sebagaimana Yesus lakukan sebelum memecah roti tersebut. Dalam ungkapan syukur terkandung ingatan akan kebaikan Tuhan.

Pdt. Dasma Sejahtera Turnip, -

GBKP Rg. Palangka Raya

Info Kontak

GBKP Klasis Jakarta - Kalimantan
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate