Pekan Doa Wari I Tahun 2020 ; I Timotius 2 : 1

Teks             : 1 Timotius 2:1

Thema          : Sehkenlah Pertoton Safaat. (Naikanlah Doa Syafaat)

1.    Pendahuluan

Tahun ini kita telah tiba lagi pada Ibadah 10 hari Berdoa, 3 hari di laksanakan di tengah-tengah keluarga, dan satu Minggu (7 hari) di lakukan di tengah-tengah jemaat/persekutuan. Namun di tahun ini kita harus melalui Live Streaming, sebab pemerintahta lenga mengijinken guna beribadah ku rumah pertotonta. Walaupun demikian tidak mengurangi semangat kita untuk ikut ambil bahagian, tetap semangat walaupun dalam suasana di rumah aja. Thema 10 hari doa kita di tahun ini ialah NAIKANLAH DOA SYAFAAT

2.    Urian Teks

Rasul Paulus menyampaikan surat nya kepada Timotius yang sedang melayani Jemaat kota Efesus, tentunya kita tau bahwa Timotius yang dipercayakan untuk melayani, dia masih usia muda, namun ia di tuakan untuk melakukan tugasnya untuk melayani Jemaat yang kemungkinan usia Jemaat nya sudah tua.

Timotius bukan saja menghadapi Jemaat yang beragam latar belakang berbeda, namun juga menghadapi penguasa dan tokoh-tokoh Agama. Tentunya tidak lah gampang menghadapinya apa lagi menanamkan nilai-nilai ke kristenan bagi mereka. Dalam persoalan ini maka Rasul Paulus menegaskan kepada Timotius dan Jemaat untuk Berdoa. Dan pada renungan kita ini di harapkannya :

·         Naikan Permohonan

·         Doa Syafaat

·         Ucapkan Syukur untuk semua orang

Sebagai orang percaya tentunya kita wajib menaikan Permohonan kepada Allah, sebagai pemberi segala sesuatunya kepada kita manusia. Permohonan adalah merupakan suatu yang wajib kita sampaikan kepada Yesus, sebab kita ini adalah orang yang dikasiiNya, namun walaupun kita dikasihiNya bukan berarti Dia memberikan kepada kita tanpa kita menyampaikan permohonan pada Nya.

Bermohon berarti kita sadar maka segala seuatunya itu harus dimohonkan kepadaNya, sebab kita menyadari kita ini adalah orang-orang yang tidak mampu berbuat apapun, hanya bermohon padaNya. Permohonan adalah kita merasa rendah hati kepada Tuhan Sang Pemilik, secara pribadi, Doa Syafaat adalah permohonan kepadaNya yang dapat di ungkapkan secara Jemaat, dan kebersamaan. Biasanya Syafaat ini harus kita catat, mulai dari diri sendiri, keluarga, Jemaat, penguasa dan kejadian-kejadian yang terjadi di tengah-tengah kehidupan yang sedang berlangsung. Biasanya Syafaat ini di lakukan oleh orang berimaat, saat-saat ada kegiatan secara bersama (ibadah-ibadah) baik di Gereja maupun di tempat-tempat yang diaturkan Beribadah. Sebab orang-orang percaya saat ia bersekutu di sanalah diajak semua umat untuk menaikkan Syafaat kepada Allah yang mengetahui apa yang dibutuhkan oleh umat terhadap kehidupan yang berlangsung. Ucapan syukur merupakan kesukacitaan, yang dirasakan oleh umat Tuhan atas perbuatan Allah bagi kehidupan di setiap hari. Ucapan syukur juga menyatakan bagaimana perbuatan Allah atas kesehatan, berkat, dan penyertaan Tuhan kehidupan kita. Dan ucapan syukur ini juga kita nyatakan bagi setiap orang, sebab kita percaya bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan ini ada juga andil orang lain terhadap kita

3.    Pointer

a)    Dalam situasi Covid-19 ini kita tetap doa dan memohon pada Yesus agar segera terhenti.

b)   Doa bukan saja untuk diri kita namun juga bagi semuanya manusia, semua wajib kita doakan.

c)    Kekuatan doa adalah hal yang luar biasa, kita terus doa.

d)   Berdoalah dengan rendah hati.

e)    Semuanya yang terjadi, hanyalah sejauh Doa.

                                                                          Pdt. Andarias Brahmana

Ketua Klasis

Pekan Doa Wari VII : Yohanes 17 : 20-26

Invocatio      : “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yeremia 29:7).

Renungen     : Yohanes 17:20-26

Tema            : Berdoa syafaat untuk semua (Ertoto Sapaat Guna Kerinana)

·       Aktor membaca naskah skenario dengan teliti, berulang-ulang, sangat serius. Sampai benar-benar menjiwai, seolah-olah dialah sosok asli orang yang diperankannya. Dia melarutkan dirinya kepada orang yang diperankannya. Semua ini demi karier, demi popularitas atau ketenaran dan demi uang. Sedangkan kita hidup untuk Kristus, mengikut jejak Kristus dan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Kita membaca naskah firman Tuhan, mempelajari Yesus Kristus dan melakukan seperti Kristus lakukan. Dalam hal berdoa juga kita pelajari dari Kristus.

·       Sebagai apakah kita memperlakukan doa? Jangan-jangan kita berdoa untuk memberitahukan keinginan kita kepada Tuhan sehingga segala keinginan kita terjadi. Apakah Yesus berdoa kepada Bapa-Nya supaya semua permintaan-Nya dipenuhi sehingga Ia tinggal diam? Justru setelah Yesus berdoa, Ia bekerja keras melaksanakan kehendak Bapa-Nya. Yesus memaknai doa sebagai awal untuk melakukan pekerjaan.

·       Kristus sudah lebih dulu mendoakan kesatuan orang percaya. Suatu kesatuan rohani yang melampaui pemikiran kita. Kesatuan yang dibuka dan diarahkan Yesus yaitu orang-orang percaya dalam Perjanjian Lama yang mengharapkan kedatangan-Nya, orang Kristen mula-mula dan orang Kristen yang akan percaya. Hanya Yesus yang mampu menyatukan semuanya.

·       Doa Tuhan Yesus menembus ruang dan waktu. Oprasional doa Tuhan Yesus tidak terbatas bagi orang-orang pada zaman-Nya, menjangkau jauh ke depan. Orang-orang percaya kepada Yesus oleh pemberitaan mereka sudah di doakan Tuhan Yesus. Berarti sebelum mereka percaya, sebelum murid-murid berangkat memberitakan.

·       Tujuan Tuhan Yesus membawa semua orang percaya menjadi satu, bersatu di dalam kasih Tuhan yang sempurna. Dan Tuhan Yesus yang mengajarkan arti kasih yang sejati, kasih yang mengorbankan diri bagi sahabat-sahabat-Nya. Agar mereka benar-benar memahami dan merasakan kasih yang sejati, sehingga mereka bisa menghidupinya.

·       Apa yang Kristus doakan menjadi doa kita. Kita diharapkan untuk mendoakan dengan yakin bahwa kesatuan ini pasti terjadi. Karena Kristus mengerjakan apa yang Ia doakan. Sekarang kita juga mengerjakan yang kita doakan. Kalau kita berdoa supaya kami menjadi satu maka kita juga mengupayakan kesatuan itu. Kalau kita berdoa untuk kesejahteraan kota tempat kita tinggal maka kita pun mengupayakan kesejahteraan kota tersebut. Doa membawa kita kepada aksi yang nyata.

·       Apa yang menjadi dasar kesatuan Kristen yang benar? Pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus dan kemuliaan-Nya (ay. 2-5). Ia telah memberikan kemuliaan-Nya kepada kita. Di dalam diri semua orang percaya yang benar ada kemuliaan Allah. Keharmonisan Kristen tidak berdasarkan pada hal-hal lahiriah atau kedagingan, tetapi pada hal-hal batiniah dan kekal dari Roh Kudus yang tinggal di dalam manusia batiniah kita. Ketika kita bertumbuh di dalam Tuhan, kemuliaan di dalam kita mulai bertumbuh dan menyatakan diri melalui perkataan dan perbuatan kita. Pengkhotbah Puritan, Thomas Brooks, menulis: “Perselisihan dan perpecahan bukanlah kekristenan. Karena bila serigala menyakiti anak-anak domba, hal itu tidaklah mengherankan, tetapi bila anak-anak domba itu saling menyakiti, ini menunjukkan kondisi yang tidak wajar dan mengerikan”.

·       Salah satu hal yang paling mengesankan bagi dunia adalah cara orang Kristen saling mengasihi dan hidup bersama dalam keharmonisan. Kesaksian seperti itu dikehendaki Tuhan, “Supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (17:21). Jika mereka melihat kasih dan kesatuan, mereka akan percaya bahwa Allah adalah kasih. Jika mereka melihat kebencian dan perpecahan, mereka akan menolak berita Injil. Sebab seharusnya kebenaran tidak ber-kontradiksi, kebenaran menyatu dengan kebenaran. Beberapa orang Kristen lebih mirip jaksa penuntut dan hakim daripada sebagai saksi yang setia, dan ini hanya akan semakin menjauhkan orang-orang berdosa dari Juruselamat. Yesus menegaskan bahwa kebenaran dan kasih harus berjalan seiring (lihat Ef. 4:15). Kita telah mendengar perkataan bahwa kebenaran tanpa kasih itu kejam, tetapi kasih tanpa kebenaran itu munafik. Pikiran bertumbuh dengan menerima kebenaran, tetapi hati bertumbuh dengan memberi di dalam kasih. Pengetahuan tanpa kasih dapat membawa kepada kesombongan (1 Kor. 8:1), dan kasih tanpa pengetahuan dapat membawa kepada keputusan yang salah. Filipi 1:9-11 “Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah”.

·       Perlu juga kita pahami dalam doa kesatuan yang dikehendaki Kristus, bukan sekedar masalah bersatu, kalau kita bersatu dalam kepalsuan, kebohongan, kelicikan maka kita menuju celaka, maka kesatuan itu tidak ada artinya. Tuhan Yesus tidak pernah mau berkompromi dan menjalin persatuan dengan “kemunafikan dan kepalsuan”. Yesus menghendaki agar kita bersatu dalam kebenaran Firman Tuhan. Maka yang dimaksudkan bersatu di dalam iman kepada Yesus dan bersatu dalam kasih yang sejati.

·       Prioritas-prioritas rohani yang ada di dalam hati Juruselamat: kemuliaan Allah; kekudusan umat Allah; kesatuan gereja; pelayanan pemberitaan Injil kepada dunia yang terhilang. Adalah bijaksana kalau kita saat ini juga berpokus pada prioritas-prioritas yang sama. Maka yang perlu kita doakan dan upayakan seperti dikatakan Paulus dalam Efesus 4:13 “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”. Kesatuan itu menjadi nyata jika iman dan pengetahuan berpusat pada Yesus Kristus. Kesatuan gereja terwujud jika semua anggota gereja bertumbuh dalam kedewasaan dan kepenuhan Kristus. Amin.

Pdt. Sura Purba Saputra, M.Th

GBKP Harapan Indah

Pekan Doa Wari VI : 2 Tawarikh 1 : 1-12

Invocatio        : “Tetapi Carilah KerajaanNya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu” (Lukas 12 : 31)

Renungan     : 2 Tawarikh 1 : 1-12

Thema          : Berdoa Meminta Hikmat

Kisah Salomo dalam perikop 2 Taw. 1:1-9:31 merupakan masa pemerintahan Salomo. Perikop yang menjadi pembahasan kita pada saat ini merupakan masa awal pemerintahan Salomo menjalankan tugasnya sebagai seorang raja. Hal yang menarik di awal pemerintahan Salomo ialah memohon petunjuk kepada Tuhan dengan pergi beribadah ke Kemah Pertemuan Allah di Gibeon. Jika dilihat di ayat 1, penulis sebenarnya telah menjelaskan bagaimana pemerintahan Salomo pada awalnya yaitu kekuasaannya luar biasa. Namun, kemegahan ini tidak meruntuhkan sikap kerendah hatian  Salomo untuk tetap meminta petunjuk kepada Tuhan agar Tuhan membimbingnya. Pada ayat 2-6 menerangkan jika seluruh pasukan bahkan seluruh Israel diperintahkannya untuk ikut pergi bersama ke Kemah Pertemuan Allah. Tindakan Salomo yang begitu menarik ini membuat kita dapat berefleksi bahwa ia tetap setia kepada Tuhan dengan membawa seluruh keluarga, bangsa dan bahkan pasukannya untuk ikut berbakti kepada Tuhan. Tentu ini tidak terlepas dari peran Daud sebagai seorang ayah di tengah-tengah keluarga yang menuntun dan mengarahkan anaknya untuk tetap setia kepada Tuhan (1 Raj. 2:1-4). Mengutamakan Tuhan adalah sebuah tindakan utama yang harus dilakukan dan semuanya berpangkal pada sikap rendah hati seperti yang telah dilakukan oleh Salomo.

Puncak dari pada kisah Salomo dalam perikop ini ialah terjadi pada ayat 7-13. Peristiwa ini menjadi momen yang penting dan sangat berpengaruh pada pemerintahan Salomo dalam jangka panjang. Sikap dan hatinya yang mengutamakan Tuhan ternyata membawa dia kepada sebuah peristiwa di mana Allah menampakkan diri kepadanya. Meminta bukanlah sebuah hal yang mudah sebab, banyak orang meminta berdasarkan apa yang sedang dia butuhkan tetapi jarang orang melihat apa yang akan dia butuhkan. Pertanyaan Tuhan kepada Salomo merupakan sebuah tantangan bagi komunitas gereja beserta dengan umatnya, apakah kita mampu menjawab pertanyaan ini. Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu? Pertanyaan ini secara tidak langsung dapat dipahami dalam Yoh. 15:7 bagaimana kita dapat melihat Salomo mampu meminta kepada Tuhan. Sebagai seorang raja, Salomo tidak terpikir untuk meminta kekuasaan yang tangguh, kekayaan dan kemegahan ataupun meminta agar pemerintahannya bertahan lama. Salomo memikirkan apa yang lebih penting yaitu hikmat dan pengertian. Mengenai apa itu hikmat kita dapat membandingkan Amsal 8:22-36 yang sekaligus dapat terkait dan dijelaskan pada Injil Yohanes 1:1-5. Jika merujuk pada Ams. 3:19-20, maka kita dapat memahami bahwa Salomo tidak meminta sesuatu hal yang instan ataupun yang dapat diterima bersih atau diterima jadi olehnya, melainkan Salomo meminta sebuah hal yang dapat memproses dirinya agar mampu memahami setiap hal dalam persoalan yang akan ia hadapi.

Sebagai orang Kristen cara kita memohon ataupun meminta kepada Tuhan ialah dengan berdoa. Jika kita hendak meneladani apa yang dilakukan Salomo, maka dalam setiap pergumulan ataupun dalam setiap perayaan yang kita alami atau bahkan dalam setiap aktivitas hidup kita seharusnya diawali dengan memohon petunjuk kepada Tuhan. Memohon petunjuk menandakan kita butuh proses dalam menjalaninya, sehingga dalam proses menjalani tersebut kita diberikan Tuhan hikmat dan pengertian secara berproses (discernment) bukan dengan cara yang instan. Mintalah hikmat, hiduplah didalam hikmat maka hikmat itu akan menuntun dan membimbing kita (Kol. 2:3).

Pdt Abel Sembiring

Runggun  GBKP Tambun 

Info Kontak

GBKP Klasis Jakarta - Kalimantan
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate