Kenaikan Tuhan Yesus Kesorga : Markus 16 : 14 - 20

(Peringatan Tuhan Yesus Naik ke Surga)

Invocatio      : “Dan ketika IA sedang memberkati mereka, IA berpisah dari mereka dan

terangkat ke sorga" (Lukas 24:51)

Ogen            : Ibrani 11:1-6 

Kotbah         : Markus 16:14-20

Tema          : “Dia Diangkat Ke Surga, Beritakanlah”

Hidup ini dapat diandaikan sebagai sebuah perjalanan, sebagaimana seseorang hendak berpergian. Jika berencana untuk pergi, maka tempat yang dituju adalah tempat yang baik, menyenangkan dan pasti ada gunanya. Begitu pula pentingnya mempersiapkan berbagai yang diperlukan untuk tiba ke tujuan. Dalam memaknai  peringatan Kenaikan Kristus ke surga, setiap orang percaya menjadikan hidup penuh kesiapan dan tujuan. Karena melalui karya Yesus, kebangkitan dan kenaikanNya ke surga menjadi suatu hal yang menetapkan hati dalam iman dan pengharapan.

Yesus membuka jalan dan menjamin setiap orang percaya untuk turut diangkat dan ditinggikanNya. Hal ini harapan yang pasti, bahwa Kristus telah menyediakan tempat di pangkuan Allah Bapa bagi setiap orang yang setia dalam imna dan sungguh mencari Dia dalam hidupnya. Inilah kepastian yang kekal. Hari Kenaikan Yesus ke sorga merupakan peristiwa penting yang tiap tahunnya diperingati dan dirayakan oleh seluruh umat Kristiani. Peristiwa ini penting karena bagian dari sejarah keselamatan melalui Yesus Kristus. Kenaikan Yesus ke sorga merupakan puncak dari pada pengangkatan Kristus dalam kemuliaan Allah. Dia diangkat, ditinggikan dan dimuliakan oleh Allah dengan duduk disebelah kanan Allah (Markus 16:19). Maka demikianlah kita sebagai orang yang percaya kepadaNya telah diangkat statusya menjadi pewaris kerajaan Allah. Sehingga hendaknya orang-orang percaya menunjukkan citra diri warga kerajaan Allah, dengan menjadikan diri sebagai saksi Kristus di dunia ini dengan memberitakan Kabar Sukacita.

Markus 16:14–20 :

1.    Yesus mencela murid-murid (ayat 14)

Kematian Yesus di kayu salib, mengakibatkan timbul ketakutan dan keragu-raguan murid-murid menjalani kehidupan selanjutnya. Sebelumnya bersama Yesus para murid merasakan suatu kepastian namun sangat berbeda pada awal Yesus meninggalkan mereka dalam kematianNya. Karena itu, setelah bangkit dari antara orang mati, Yesus menampakkan diriNya kepada murid-muridNya. Ketika sedang makan, ke sebelas murid tersebut didatangi oleh Yesus, sambil mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka. Karena mereka tidak percaya kepada kesaksian orang-orang yang telah melihat Yesus sesudah kebangkitanNya.

2.    Yesus menampakkan diriNya untuk meneguhkan iman percaya murid-muridNya, agar mereka tidak tersesat dalam ketidakpercayaab. Peristiwa kebangkitan Yesus memang tidak mudah dan tidak mampu jika dipahami secara akal pikiran manusia. Tapi harus dibantu dengan iman percaya kepada Yesus sebagai penuntun memahami dan menghayatinya. Semua murid-murid Yesus telah melihat Yesus (bandingkan ucapan Yesus kepada Tomas dalam Yohanes 20:29) “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”.

3.    Pergilah keseluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk (ayat 15–16)

Pada saat Yesus berjumpa kembali, maka tidak hanya menetapkan hati para murid, namun juga memberikan tugas untuk memberitakan Injil. Tugas ini menjadi tugas semua murid Yesus, juga tugas semua orang percaya hingga saat ini dan masa yang akan datang. Memberitakan Injil bermodalkan kemampuan dan kekuatan yang datang dari Tuhan. Tugas ini tidak dapat dilakukan oleh orang yang penakut, yang ragu-ragu atau bimbang. Tapi haruslah dilakukan oleh orang yang teguh dalam iman. Dengan kuat kuasa dari Tuhan Yesus, setiap orang Kristen menjadi saksi-saksi Kristus yang militan, siapapun dia, apapun profesinya, kapanpun selalu siap sedia. Seorang Kristen sejati tidak menghalangi diri untuk tetap menunjukkan citra Allah dalam dirinya.

4.    Menerima Kuasa dari Tuhan Yesus (ayat 17–20)

Menjadi murid Yesus yang menyaksikan tentang karya Kristus akan menerima kuasa dariNya. Yesus berjanji akan menyertai perjalanan kehidupan setiap orang beriman dalam melakukan tugasnya (bdk. Matius 28 : 20b ” Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”).  Kuasa penyertaan Yesus nampak dalam tanda-tanda zaman yang nyata dalam kehidupan orang percaya. Melalui orang percaya nyata mujizat-mujizat Tuhan Yesus pada zaman ini, pengusiran setan-setan, penyembuhan penyakit-penyakit khususnya penyakit sosial di masyarakat masa kini seperti, kekerasan (termasuk kekerasan rumah tangga), judi, kemalasan, kebodohan, narkoba, prostitusi, korupsi dan lain sebagainya). Dalam tanda kuasaNya, kita diberikan kekuatan untuk tetap bersaksi bagiNya dimulai dari diri sendiri. Dengan pertolongan Tuhan dimampukan untuk meninggalkan kehidupan yang tidak berkenan dihadapanNya. Doa adalah dasar kekuatan dalam melakukan pelayanan pemberitaan tentang Kristus juga dalam menaklukkan segala tantangan dan pergumulan yang dihadapi.

IBRANI 11:1-6

Sebagai saksi Kristus, kita tidaklah hanya berdiam diri, melihat dan meratapi kenaikanNya, tapi pergi untuk memberitakan injil sampai kepada ahir Zaman. Kita turut menjadi saksi selama menanti dan menyambut kedatangan Yesus yang kedua kalinya, dengan kuasa Tuhan tetap setia bertekun dan sehati dalam doa. Mengalami makna kenaikan Yesus ke surga adalah dengan menjadi saksi yang berlandaskan iman percaya dan pengharapan bahwa janjiNya, ya dan amin. Iman menjadi dasar kuat dalam penantian akan harapan kemulianNya yang disaksikan dan menjadi bagian kita. Bahwa apa yang telah disaksikan kepada nenek moyang kita, telah dan akan terus disaksikan dalam ketekunan hingga harinya Tuhan datang. Iman menjadi pedoman untuk hidup berkenan bagiNya dan setia menyaksikan kebenaranNya.

Yesus naik ke surga dan akan kembali agar semua orang percaya kepadaNya juga akan bersama dengan Dia dalam kemuliaan untuk selama-lamanya. Kesanalah tujuan hidup kita. Tempat itu adalah kehidupan yang diharapkan karena memberi sukacita selama-lamanya (kehidupan kekal). Karena itu, kehidupan dan teladan Yesus menjadi  bagian kehidupan kita juga. Seumpama lampu mercusuar bagi kapal dimalam kelam di samudera luas. Bagaikan batu karang tempat berpijak  dikala hidup bagaikan perahu yang dibanting oleh amuk amarah samudera luas namun tetap tenang dan beroleh selamat. Jadilah kita sebagai saksi yang tangguh, yang tidak hanya menanti pasrah, tapi berbuat memberitakan kabar keselamatan dari pada Allah bagi dunia ini.  Untuk itu kita membutuhkan kekuatan/kuasa, dan hendaknya kita senantiasa bertekun dan sehati dalam doa. Kita akan menerima Kuasa Tuhan.

Dalam masa menanti kedatanganNya kita harus bekerja, bersaksi tentang Injil Kerajaan Allah itu melalui kata dan perbuatan. Kerinduan kita akan Kerajaan Surga harus nampak dalam sikap hidup sehari-hari kita, apapun pekerjaan/profesi kita. Dalam bekerja dan bersaksi, pengenalan akan Yesus semakin sempurna dan sukacita akan bertambah-tambah. Tak lupa, persiapan kita menyambut kedatanganNya yang kedua kali itu semakin mantap dalam iman yang sungguh mencari Dia. Karena sesungguhnya Tuhan memberi berkat bagi kita (Bdk invocatio, Luk 24:51)

PENUTUP

Siapapun pasti merindukan surga, sebagai tujuan hidup sesudah kematian. Setiap orang tidak akan mampu meraih Surga itu, tanpa iman dan pengharapan. Mengapa? Karena tempat itu terlalu indah, jauh lebih indah dari kota-kota tujuan wisata yang menarik. Jika melihat kehidupan yang dijalani, tentu sebenarnya kita tidak layak kesana karena dosa-dosa, kebimbangan, keragu-raguan iman percaya.

Kita dapat kesana, hanya karena Yesus yang membawa kita kesana (waktu kedatanganNya yang kedua kali). Karena itu nantikanlah kedatanganNya.  Menanti bukan berarti tidak berbuat apa-apa. Menanti dan bersaksi adalah satu kesatuan. Dalam keterbatasan (ketidakmampuan) manusia, Roh Kudus diberikan sebagai penolong dan penghibur. Setiap orang percaya senantiasa menerima Kuasa Tuhan melalui Roh Kudus yang menyertai perjalanan hidup menuju Surga – Rumah Bapa yang baka.

Setiap orang percaya dalam iman dan pengaharapan yang hidup adalah saksi Kristus yang rindu untuk meletakkan dasar hidup dan tanggungjawab tugas pelayanan pada keseriusan, kerendahan hati, kepatuhan dan kerelaan serta kesetiaan. Beritakanlah Dia yang telah diangkat ke surga, yang akan datang kembali bagi orang-orang yang dikasihiNya. Turutlah memberitakanNya mulai dari siri sendiri dengan sikap dan perbuatan, perkataan dan pikiran yang dijalankan sesuai dengan kehendakNya. Serta jadilah saluran berkat bagi orang lain dengan memberitakan kabar sukacita bagi semua. Amin

Pdt  Deci Kinata  br Sembiring

 

GBKP Rg  BalikPapan

 

Kenaikan Yesus Ke Sorga tgl 21 Mei 2020 ; Markus 16 : 14-20

(Peringatan Tuhan Yesus Naik ke Surga)

Invocatio      : “Dan ketika IA sedang memberkati mereka, IA berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga" (Lukas 24:51)

Ogen            : Ibrani 11:1-6 

Kotbah         : Markus 16:14-20 

Tema          : “Dia Diangkat Ke Surga, Beritakanlah”

Hidup ini dapat diandaikan sebagai sebuah perjalanan, sebagaimana seseorang hendak berpergian. Jika berencana untuk pergi, maka tempat yang dituju adalah tempat yang baik, menyenangkan dan pasti ada gunanya. Begitu pula pentingnya mempersiapkan berbagai yang diperlukan untuk tiba ke tujuan. Dalam memaknai  peringatan Kenaikan Kristus ke surga, setiap orang percaya menjadikan hidup penuh kesiapan dan tujuan. Karena melalui karya Yesus, kebangkitan dan kenaikanNya ke surga menjadi suatu hal yang menetapkan hati dalam iman dan pengharapan.

Yesus membuka jalan dan menjamin setiap orang percaya untuk turut diangkat dan ditinggikanNya. Hal ini harapan yang pasti, bahwa Kristus telah menyediakan tempat di pangkuan Allah Bapa bagi setiap orang yang setia dalam imna dan sungguh mencari Dia dalam hidupnya. Inilah kepastian yang kekal. Hari Kenaikan Yesus ke sorga merupakan peristiwa penting yang tiap tahunnya diperingati dan dirayakan oleh seluruh umat Kristiani. Peristiwa ini penting karena bagian dari sejarah keselamatan melalui Yesus Kristus. Kenaikan Yesus ke sorga merupakan puncak dari pada pengangkatan Kristus dalam kemuliaan Allah. Dia diangkat, ditinggikan dan dimuliakan oleh Allah dengan duduk disebelah kanan Allah (Markus 16:19). Maka demikianlah kita sebagai orang yang percaya kepadaNya telah diangkat statusya menjadi pewaris kerajaan Allah. Sehingga hendaknya orang-orang percaya menunjukkan citra diri warga kerajaan Allah, dengan menjadikan diri sebagai saksi Kristus di dunia ini dengan memberitakan Kabar Sukacita.

Markus 16:14–20 :

1.    Yesus mencela murid-murid (ayat 14)

Kematian Yesus di kayu salib, mengakibatkan timbul ketakutan dan keragu-raguan murid-murid menjalani kehidupan selanjutnya. Sebelumnya bersama Yesus para murid merasakan suatu kepastian namun sangat berbeda pada awal Yesus meninggalkan mereka dalam kematianNya. Karena itu, setelah bangkit dari antara orang mati, Yesus menampakkan diriNya kepada murid-muridNya. Ketika sedang makan, ke sebelas murid tersebut didatangi oleh Yesus, sambil mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka. Karena mereka tidak percaya kepada kesaksian orang-orang yang telah melihat Yesus sesudah kebangkitanNya.

2.    Yesus menampakkan diriNya untuk meneguhkan iman percaya murid-muridNya, agar mereka tidak tersesat dalam ketidakpercayaab. Peristiwa kebangkitan Yesus memang tidak mudah dan tidak mampu jika dipahami secara akal pikiran manusia. Tapi harus dibantu dengan iman percaya kepada Yesus sebagai penuntun memahami dan menghayatinya. Semua murid-murid Yesus telah melihat Yesus (bandingkan ucapan Yesus kepada Tomas dalam Yohanes 20:29) “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”.

3.    Pergilah keseluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk (ayat 15–16)

Pada saat Yesus berjumpa kembali, maka tidak hanya menetapkan hati para murid, namun juga memberikan tugas untuk memberitakan Injil. Tugas ini menjadi tugas semua murid Yesus, juga tugas semua orang percaya hingga saat ini dan masa yang akan datang. Memberitakan Injil bermodalkan kemampuan dan kekuatan yang datang dari Tuhan. Tugas ini tidak dapat dilakukan oleh orang yang penakut, yang ragu-ragu atau bimbang. Tapi haruslah dilakukan oleh orang yang teguh dalam iman. Dengan kuat kuasa dari Tuhan Yesus, setiap orang Kristen menjadi saksi-saksi Kristus yang militan, siapapun dia, apapun profesinya, kapanpun selalu siap sedia. Seorang Kristen sejati tidak menghalangi diri untuk tetap menunjukkan citra Allah dalam dirinya.

4.    Menerima Kuasa dari Tuhan Yesus (ayat 17–20)

Menjadi murid Yesus yang menyaksikan tentang karya Kristus akan menerima kuasa dariNya. Yesus berjanji akan menyertai perjalanan kehidupan setiap orang beriman dalam melakukan tugasnya (bdk. Matius 28 : 20b ” Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”).  Kuasa penyertaan Yesus nampak dalam tanda-tanda zaman yang nyata dalam kehidupan orang percaya. Melalui orang percaya nyata mujizat-mujizat Tuhan Yesus pada zaman ini, pengusiran setan-setan, penyembuhan penyakit-penyakit khususnya penyakit sosial di masyarakat masa kini seperti, kekerasan (termasuk kekerasan rumah tangga), judi, kemalasan, kebodohan, narkoba, prostitusi, korupsi dan lain sebagainya). Dalam tanda kuasaNya, kita diberikan kekuatan untuk tetap bersaksi bagiNya dimulai dari diri sendiri. Dengan pertolongan Tuhan dimampukan untuk meninggalkan kehidupan yang tidak berkenan dihadapanNya. Doa adalah dasar kekuatan dalam melakukan pelayanan pemberitaan tentang Kristus juga dalam menaklukkan segala tantangan dan pergumulan yang dihadapi.

IBRANI 11:1-6

Sebagai saksi Kristus, kita tidaklah hanya berdiam diri, melihat dan meratapi kenaikanNya, tapi pergi untuk memberitakan injil sampai kepada ahir Zaman. Kita turut menjadi saksi selama menanti dan menyambut kedatangan Yesus yang kedua kalinya, dengan kuasa Tuhan tetap setia bertekun dan sehati dalam doa. Mengalami makna kenaikan Yesus ke surga adalah dengan menjadi saksi yang berlandaskan iman percaya dan pengharapan bahwa janjiNya, ya dan amin. Iman menjadi dasar kuat dalam penantian akan harapan kemulianNya yang disaksikan dan menjadi bagian kita. Bahwa apa yang telah disaksikan kepada nenek moyang kita, telah dan akan terus disaksikan dalam ketekunan hingga harinya Tuhan datang. Iman menjadi pedoman untuk hidup berkenan bagiNya dan setia menyaksikan kebenaranNya.

Yesus naik ke surga dan akan kembali agar semua orang percaya kepadaNya juga akan bersama dengan Dia dalam kemuliaan untuk selama-lamanya. Kesanalah tujuan hidup kita. Tempat itu adalah kehidupan yang diharapkan karena memberi sukacita selama-lamanya (kehidupan kekal). Karena itu, kehidupan dan teladan Yesus menjadi  bagian kehidupan kita juga. Seumpama lampu mercusuar bagi kapal dimalam kelam di samudera luas. Bagaikan batu karang tempat berpijak  dikala hidup bagaikan perahu yang dibanting oleh amuk amarah samudera luas namun tetap tenang dan beroleh selamat. Jadilah kita sebagai saksi yang tangguh, yang tidak hanya menanti pasrah, tapi berbuat memberitakan kabar keselamatan dari pada Allah bagi dunia ini.  Untuk itu kita membutuhkan kekuatan/kuasa, dan hendaknya kita senantiasa bertekun dan sehati dalam doa. Kita akan menerima Kuasa Tuhan.

Dalam masa menanti kedatanganNya kita harus bekerja, bersaksi tentang Injil Kerajaan Allah itu melalui kata dan perbuatan. Kerinduan kita akan Kerajaan Surga harus nampak dalam sikap hidup sehari-hari kita, apapun pekerjaan/profesi kita. Dalam bekerja dan bersaksi, pengenalan akan Yesus semakin sempurna dan sukacita akan bertambah-tambah. Tak lupa, persiapan kita menyambut kedatanganNya yang kedua kali itu semakin mantap dalam iman yang sungguh mencari Dia. Karena sesungguhnya Tuhan memberi berkat bagi kita (Bdk invocatio, Luk 24:51)

PENUTUP

Siapapun pasti merindukan surga, sebagai tujuan hidup sesudah kematian. Setiap orang tidak akan mampu meraih Surga itu, tanpa iman dan pengharapan. Mengapa? Karena tempat itu terlalu indah, jauh lebih indah dari kota-kota tujuan wisata yang menarik. Jika melihat kehidupan yang dijalani, tentu sebenarnya kita tidak layak kesana karena dosa-dosa, kebimbangan, keragu-raguan iman percaya.

Kita dapat kesana, hanya karena Yesus yang membawa kita kesana (waktu kedatanganNya yang kedua kali). Karena itu nantikanlah kedatanganNya.  Menanti bukan berarti tidak berbuat apa-apa. Menanti dan bersaksi adalah satu kesatuan. Dalam keterbatasan (ketidakmampuan) manusia, Roh Kudus diberikan sebagai penolong dan penghibur. Setiap orang percaya senantiasa menerima Kuasa Tuhan melalui Roh Kudus yang menyertai perjalanan hidup menuju Surga – Rumah Bapa yang baka.

Setiap orang percaya dalam iman dan pengaharapan yang hidup adalah saksi Kristus yang rindu untuk meletakkan dasar hidup dan tanggungjawab tugas pelayanan pada keseriusan, kerendahan hati, kepatuhan dan kerelaan serta kesetiaan. Beritakanlah Dia yang telah diangkat ke surga, yang akan datang kembali bagi orang-orang yang dikasihiNya. Turutlah memberitakanNya mulai dari siri sendiri dengan sikap dan perbuatan, perkataan dan pikiran yang dijalankan sesuai dengan kehendakNya. Serta jadilah saluran berkat bagi orang lain dengan memberitakan kabar sukacita bagi semua. Amin

Pdt  Deci Kinata  br Sembiring

GBKP Rg  BalikPapan

Sabtu Pengaharapan tgl 11 Februari 2020 ; Matius 12 : 38 - 42

Invocatio       :  Apabila kamu telah  mati  bersama-sama  dengan Kristus dan bebas dari Roh-roh dunia (Kolose 2:20a)

Bacaan          : Markus 15:42-43

Khotbah        : Matius 12:38-42

Thema          : Bertobat Dari Dosa

I.             Pendahuluan

Sabtu suci merupakan hari terakhir dalam Pekan Suci yang dirayakan oleh orang Kristen sebagai persiapan perayaan Paskah. Hari Sabtu Suci memperingati pada saat tubuh Yesus Kristus dibaringkan dikubur setelah pada hari Jumat Agung mati disalibkan. Keesokan harinya (Paskah) Yesus bangkit dari kematianNya. Yesus berada di dunia kematian jadi satu bentuk perjuanganNya untuk menyelamatkan kita dan menumbuhkan pengharapan kepada kita bahwa di dalam Kristus ada kebangkitan dan kehidupan yang kekal. Perjuangan Yesus janganlah menjadi sia-sia, marilah kita hargai dan kita jadikan sebagai penyemangat kepada kita untuk memperbaiki kehidupan kita dengan bertobat dari dosa.

II.           Isi

Bahan invocatio kita mengatakan jemaat Kolose telah mati bersama Kristus. Ini fakta yang telah terjadi pada jemaat Kolose dan bukan kondisional. Berdasarkan fakta ini sekarang jemaat Kolose tidak lagi berada di bawah kuasa roh-roh jahat. Dahulu, ketika jemaat Kolose belum percaya kepada Yesus, roh-roh dunia menguasai hidup mereka. Mereka hidup di bawah kendali roh-roh dunia. Akan tetapi, sekarang roh-roh dunia telah ditaklukkan dan kekalahannya telah dipertontonkan di muka umum. Roh-roh dunia tidak memiliki kuasa apapun atas orang Kisten. Karena jemaat telah mati bersama Kristus, maka mereka telah mati juga dari roh-roh dunia. Kematian membebaskan hamba dari kuasa tuannya. Demikian juga, kematian bersama Kristus membebaskan manusia dari cengkeraman roh-roh dunia.

Bahan bacaan kita menceritakan sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, hari menjelang Sabat. Karena Sabat dimulai sejak matahari terbenam, jenazah Yesus harus segera dikuburkan sebelum Sabat dimulai. Memindahkan dan menguburkan jenazah tidak boleh dilakukan pada hari Sabat. Karena itu, Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Hari telah malam dan besok adalah Sabat, hari ketujuh. Hari ini juga Yusuf harus menghadap Pilatus. Ia adalah anggota Sanhedrin, majelis yang menentukan kebijaksanaan atas diri Yesus. Tetapi besar kemungkinan penyaliban ini telah berlaku tanpa persetujuan Yusuf dari Arimatea. Sebagai anggota dewan kehormatan, Yusuf berada di posisi yang dapat membela Yesus. Tapi dia tampaknya tidak bisa (bnd. Yoh. 19:38). Publisitas Yusuf terjadi setelah penyaliban Yesus. Keberaniannya yang muncul terlambat beberapa jam. Namun dalam meminta tubuh Yesus, Yusuf mempertaruhkan reputasi dan kariernya. Dan dengan menyentuh jenazah, dia menajiskan dirinya, dan membuatnya tidak layak untuk ikut serta dalam perayaan Paskah, yaitu hari raya orang Yahudi yang paling ditunggu-tunggu. Yusuf orang Arimatea adalah orang kaya. Ia membaringkan mayat Yesus di kuburan miliknya sendiri, yang belum pernah dipakai, yang dilubangi pada dinding batu (bnd. Mat. 27:57-60; Yes. 53:9).

Kemunafikan orang Farisi terus diberitakan oleh Matius. Dalam bahan khotbah ini orang Farisi berpura-pura mau menjadi pengikut Tuhan Yesus yang masih mempunyai sedikit ganjalan. Tinggal sedikit lagi maka mereka akan menjadi murid Yesus, asalkan Yesus memberikan tanda. Ini pertanyaan yang menunjukkan kedegilan hati mereka. Apakah masih perlu tanda lagi? Benarlah apa yang dikatakan Paulus dan Yehezkiel. Orang Yahudi menghendaki tanda (1 Kor. 1:22) karena mereka bangsa yang tegar tengkuk (Yeh. 2:3-7). Setelah melihat tanda begitu banyak mereka masih minta tanda lagi. Tanda apakah yang mereka harapkan, dengan begitu banyaknya mujizat yang dibuat Tuhan Yesus? Itulah sebabnya Tuhan Yesus merespon mereka dengan mengatakan bahwa mereka adalah angkatan yang jahat dan tidak setia (ay. 39). Tuhan menegur mereka dengan teguran yang sangat keras. Mereka hanya akan mendapatkan tanda nabi Yunus. Apakah tanda Yunus itu? Tuhan Yesus menjelaskan bahwa tanda Yunus adalah bahwa Anak Manusia akan tinggal di perut bumi tiga hari tiga malam. Tetapi hal lain lagi yang sangat dimengerti oleh ahli Taurat dan orang Farisi adalah bahwa Yunus menjadi tanda penghakiman bagi Niniwe. Yunus menjadi alat menyatakan peringatan Tuhan bagi kota besar Asyur itu setelah dia keluar dari perut ikan besar yang menelan dia. Inilah peringatan yang secara implisit mau dinyatakan oleh Tuhan Yesus. Dia akan tiga hari ditelan oleh kematian, tetapi setelah itu Dia akan bangkit untuk menghakimi manusia. Penghakiman oleh Yunus terjadi setelah dia dikeluarkan dari perut ikan, dan penghakiman oleh Yesus terjadi setelah Dia dibangkitkan dari antara orang mati. Tanda yang dialami oleh orang Farisi dan ahli Taurat adalah bahwa setelah bangkit dari kematian Yesus akan menghakimi mereka. Kecuali mereka bertobat sama seperti Niniwe bertobat, mereka akan segera dijungkirbalikkan (Yun. 3:4). Tanda Yunus adalah adalah tanda penghakiman yang menuntut respon pertobatan dengan segera. Penghakiman segera akan datang, cepatlah bertobat.

Tetapi pada bagian ini Tuhan Yesus tidak mau meninggikan diriNya sendiri. Dia tidak mengatakan bahwa setelah tiga hari di perut bumi Anak Manusia akan menghakimi setiap orang. Siapa yang menolak Dia akan dihukum dengan berat. Dia tidak memberitakan itu tetapi Dia mengatakan bahwa yang akan bangkit adalah orang Niniwe dan ratu dari Syeba. Mengapa begitu? Karena baik orang Niniwe maupun ratu Syeba tidak tertarik kepada mujizat dan tanda-tanda. Orang Niniwe bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus. Mereka bertobat karena firman. Mereka tidak bertobat karena mujizat. Orang Yahudi menghina Yesus dan masih meminta tanda padahal Yesus jauh lebih berkuasa daripada Yunus. Jika Niniwe bertobat karena Yunus, apalagi jika mereka mendengar Yesus. Demikian juga Ratu Syeba mengadakan perjalanan yang sangat jauh untuk mencari hikmat Salomo. Dia tidak datang karena mendengar Salomo mampu mengerjakan tanda-tanda mujizat. Dia datang untuk mendengar hikmat Salomo. Itu sebabnya ratu ini pun akan menjadi ukuran bagi penghakiman untuk Israel. Isarel masih meminta tanda padahal Yesus jauh lebih berhikmat daripada Salomo. Jika hikmat Salomo saja membuat Ratu Syeba terkesan, apalagi jika ratu itu mendengar Yesus mengajar. Mereka dengan kebodohan yang luar biasa, menghina apa yang paling agung dan bernilai di bumi ini. Mereka menolak Anak Allah yang mempunyai kuasa dan hikmat melampaui semuanya. Celakalah mereka karena kebodohan mereka. Inilah tanda bagi mereka yang berpura-pura mau ikut Yesus.

III.         Refleksi

Sabtu Suci (Sabtu Pengarapen) adalah momen kita merenungkan arti kasih setia Tuhan melalui kematian Yesus Kristus. Kematian adalah hal yang sangat ditakuti manusia. Bahkan kalau membicarakan tentang kematian pun banyak orang takut untuk membicarakannya apalagi membicarakan tanda-tanda kematian itu sendiri. Dan tambah lagi hancurnya hati kalau orang yang kita kasihi meninggalkan kita. Yesus sudah masuk ke dunia kematian, dan mengalahkan kuasa kematian. Kematian pun tidak sanggup lagi memisahkan kita dari kasih setia Tuhan itu sendiri. Sampai dunia kematian pun kita diperjuangkanNya dan diselamatkanNya. Kematian Kristus membawa keselamatan kepada kita dan juga kepada semua orang yang sudah mati dalam Kristus. Khotbah Sabtu Suci (Sabtu Pengarapen) ini membawa kita untuk lebih lagi menghargai pengorbanan Kristus yang mati di kayu salib dan berjuang di dunia kematian untuk mengalahkan kuasa dosa agar kita mendapatkan keselamatan. Kita mengetahui dan kita merasakan bahwa kematianNya karena dosa-dosa kita, untuk menebus kita. Untuk itu harus ada di dalam diri kita dan terlihat dalam kehidupan kita seperti thema khotbah kita “Bertobat Dari Dosa”. Itulah tandanya kita menghargai kematian Kristus. Bertobat dari dosa membuat kita tidak lagi menjadi musuh Allah, tapi menyatu dengan Dia.

Pdt. Andarias Brahmana, S.Th

Ketua Klasis Jakarta-Kalimantan 

Info Kontak

GBKP Klasis Jakarta - Kalimantan
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate