Jadwal Kegiatan

Ibadah Umum - (08PM - 09PM)
Ibaadah Remaja - (09PM - 10PM)

Kebatian Pekan Keluarga Wari Pertama tahun 2021 : Kisah Para Rasul 2 : 43-47

Tema Umum  : Jabu si Mehuli

Invocatio      : “Berdoalah terus untuk kami; sebab kami yakin, bahwa hati nurani kami adalah baik, karena di dalam segala hal kami menginginkan suatu hidup yang baik. Ibrani 13:18

Ogen            :Daniel 1:8-17

Kotbah         : Kisah Para Rasul 2:43-47

Tema            : Bersekutu bersama dalam keluarga (Pulung Ersada ibas Jabu )

Kata pembuka

          Pada Pekan Kebaktian Keluarga tahun 2021 ini, kita akan kembali mempersiapkan diri membenahi kehidupan keluarga dari berbagai sisi. Mencakup spiritual, pendidikan, kumunikasi, kesehatan, berbudaya, menyambut natal dan tahun baru. Tentunya Firman Tuhan akan menuntun kita untuk semakin mengerti dan dapat mempraktekkan kehidupan Keluarga Yang Baik, seturut tema besar pekan keluarga tahun ini.

          Ditengah berbagai tantangan membina keluarga yang baik, spiritualitas tentu sangat penting dibangun sebagai tameng dalam keluarga. Karena dengan dasar iman yang kuat, setiap anggota keluarga mendapatkan hikmat membedakan yang baik dan yang buruk. Spiritualitas memberikan ketenangan dan sukacita yang memampukan seseorang tetap teguh menjalani kehidupan pada berbagai situasi. Tentunya keluarga menjadi wadah pertama dan utama membangun nilai spiritualitas seorang manusia.

Isi

Cara hidup dan persekutuan jemaat mula-mula, sering sekali digambarkan sebagai patokan gereja yang ideal. Karena dalam keadaan yang masih sedehana, para murid tetap melanjutkan pekerjaan pemberitaan Firman dengan kesehatian. Pola pelayanan dimulai dari persekutuan, sebagai sesama orang yang mengaku percaya kepada Kristus. Mereka dengan tekun mendengarkan pengajaran para Rasul, berkumpul sambil memecah roti dan berdoa (ay 42). Hal ini menjadi pondasi yang kuat dalam kehidupan beiman, saat jemaat belajar tentang Firman dan keteladanan Tuhan. Menyaksikan mujizat, menjadi percaya dan bersatu. Segala kepunyaan mereka menjadi milik bersama dan rela membagikan kepada yang memerlukan (ay 43-44). Tentunya pertumbuhan iman dapat dirasakan saat ‘gereja’ secara komunal bahkan dalam konsep terkecil yaitu pribadi masing-masing orang percaya, dapat mewujudkan persekutuan penuh kasih. Ada aplikasi nyata.

Persekutuan, tidak hanya membangun iman secara pribadi, tapi juga secara bersama-sama. Karena di dalam persekutuan mereka dapat saling mendukung pertumbuhan iman, saling mengasihi, peduli dan berbela rasa (ay 45). Persekutuan tidak membuat para murid menarik dan memisahkan diri dari orang lain disekitarnya, melainkan semakin kuat menjalin kebersamaan ke dalam dan keluar. Persekutuan tidak hanya dilakukan di rumah masing-masing bergiliran dan makan bersama, tapi juga berkumpul dalam Bait Allah (ay46).  Tidak hanya pada saat Sabat atau hari raya saja mereka belajar tentang Firman Tuhan, melainkan dalam setiap kesempatan dalam setiap tempat. Hal ini menjadi gambaran betapa indahnya persekutuan tanpa dibatasi ruang tertentu. Di rumah atau Bait Allah tetap menjadi tempat persekutuan dan beribadah. Dimana pun mereka turut menunjukkan rasa saling mengasihi selayaknya keluarga.

Dalam persekutuan, mereka bergembira dan dengan tulus hati memuji Allah (ay 47). Sehingga Tuhan membahkan bagi mereka kualitas dan kuantitasnya orang percaya. Ini menjadi suatu bukti bahwa persekutuan erat mereka tidak muncul begitu saja, melainkan kerinduan mengerjakan Firman Tuhan yang dipelajari dalam kesungguhan.

Jika dibandingkan dengan pengalaman Daniel dan teman-temannya, mereka pun memiliki keteguhan hati dalam imannya. Sekalipun diperhadapkan dengan pilihan hidup, makanan, minuman, jabatan yang enak dan nyaman. Bagi Daniel dan temannya, tawaran itu tidak sebanding dengan pentingnya persekutuan dengan Allah. Sehingga jelas mereka memilih untuk tetap menjalankan kehendak Allah dalam hidupnya. Hikmat Allah menuntun mereka untuk bersikap tepat dan tenang sekalipun ancaman datang. Bahkan Tuhan mengaruniakan berkat kepandaian, kesehatan dan keselamatan bagi mereka yang memilih untuk tidak meninggalkan kesetiaan pada Allah.

Refleksi

1. Keluarga pun adalah gereja. Dimana dalam keluarga kita dapat bersekutu bersama tiap anggota dan juga berjumpa dengan Tuhan. Mengapa penting membangun persekutuan dalam keluarga saat ini? Karena tantangan zaman, sangat rentan menghancurkan kesatuan hati rumah tangga. Banyak hubungan yang rusak antara suami dan isrti, orang tua dan anak, anak yang satu dengan lainnya sebagai saudara. Pertengkaran, perselisihan, perceraian dsb. Ruang persekutuan akan memberikan waktu bagi kita untuk berteduh hati, mencari hikmat Tuhan yang menuntun pada kesatuan dalam keluarga. Sehingga sekalipun ada tantangan yang datang, keluarga Kristen dapat tetap merasakan kasih dan kesatuan hati seperti jemaat mula-mula. Kasih persekutuan yang dilakukan bukan sekedar sebagai rutinitas dan kewajiban tanpa makna, melainkan dilakukan dalam ketulusan dan aksi nyata.

2. Persekutuan menjadi wadah berkat Tuhan bagi pribadi yang mau menerima pengajaran dan kebersatuan hati. Persekutuan tidak hanya menjadi perjumpaan dengan sesama tetapi juga dengan Tuhan. Sehingga sebagai orang yang percaya kepada Tuhan keluarga kita pun harus selalu rindu membangun persekutuan di dalamnya. Karena bukan kemampuan kitalah sehingga kasih dalam keluarga merekat. Melainkan melalui pertolongan Kuasa Roh Tuhan, kita merasakan keluarga kita selalu diberkati dan menjadi berkat, karena kuatnya persekutuan dengan Tuhan dalam keluarga.

3. Waktu berkualitas dengan keluarga adalah saat dimana anggota keluarga dapat melakukan persekutuan untuk beribadah dengan kesatuan hati. Sungguh sulit saat ini bagi keluarga mencari waktu bersama. Waktu teduh, berdoa, beribadah, bahkan makan bersama pun mungkin moment yang jarang terjadi karena kesibukan masing-masing. Anggota keluarga yang terpisah jarak. Dalam pekan keluarga ini, kita diajak untuk kembali menjalankan persekutuan yang indah bersama Tuhan dan keluarga, dengan hikmat Tuhan mengaturkan waktu yang tepat juga menemukan media yang tidak lagi menjadi pembatas bagi kita bersekutu bersama. Khususnya melalui masa pandemi covid, kita merasakan tantangan yang berat, namun tentunya sisi baik dapat dirasakan. Bahwa perbedaan ruang dan waktu tidak lagi menjadi penghalang bagi kita sehingga dapat bersekutu dan beribadah bersama. Saling meneguhkan dan mengasah kepedulian berempati. Semakin banyak latihan dan kesempatan kita untuk membuka rumah sebagai tempat beribadah bersama anggota keluarga. Tentunya itu menjadikan kita semakin merasakan kasih satu dengan yang lain.

Penutup

Semangat persekutuan akan menjadi berkat bagi diri kita, keluarga dan banyak orang jika benar-benar dijalankan dengan ketaatan dan sikap hidup yang sungguh dalam Tuhan. Persekutuan yang efektif bukanlah sekedar kehadiran fisiknya, melainkan juga hati dan pikiran. Sehingga mari kita membuka ruang untuk berjumapa dengan Tuhan dalam keluarga. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt Deci Kinita br Sembiring

Rg Studio Alam

Khotbah Minggu Tgl 28 November 2021 : 1 Tesalonika 3:9-13

Invocatio      :Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudu yang   diam di  dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri ? (1 Korintus 6:19)

Bacaan         :Yeremia 33:14-16 (Tunggal)

Kotbah         :1 Tesalonika 3:9-13 (Tunggal)

Tema            :Tak Bercacat dan Kudus Di Hadapan Allah (Serta Dingen Badia I Lebe-Lebe Dibata)

PENDAHULUAN

Minggu Advent merupakan saat kita menantikan kedatangan Yesus ke dunia. Sebagaimana orang Israel menantikan kedatangan Juruselamat yang dinubuatkan Allah, untuk melepaskan bangsaNya dari penderitaan. Demikian juga pada minggu ini, kita menantikan kedatangan Juruselamat, pertolongan Tuhan yang mampu membebaskan kita dari setiap penderitaan dan pergumulan hidup. Sikap hidup yang benar adalah tetap tabah dan setia dalam penantian, “Tuhan segera datang”. Melalui bahan khotbah minggu ini, kita akan menelisik bagaimana sikap hidup yang harus kita jalani pada masa penantian kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.

PEMBAHASAN TEKS :

1. INVOCATIO : 1 KORINTUS 6:19

Sebagai orang Kristen, tubuh kita adalah tempat tinggal Roh Kudus (bd. Roma 8:11, dimana Roh itu merupakan tanda dari Allah yang menyatakan bahwa kita menjadi milikNya). Karena itu, Roh itu tinggal di dalam diri kita dan kita menjadi milik Allah. Tubuh kita sama sekali tidak boleh dicemarkan oleh kenajisan atau kejahatan apapun, baik oleh pikiran, keinginan, dan tindakan dosa. Tetapi sebaliknya, kita harus hidup sedemikian rupa sehingga menghormati dan memuliakan Allah dengan tubuh kita (ay.20).

2. BACAAN : YEREMIA 33:14-16

Yeremia 33:14-16 ini merupakan janji pemulihan dari Allah bagi umat Israel dan Yehuda, yang akan hidup dalam perdamaian dan kemakmuran serta hidup dalam ketentraman. dan keutuhan rohani. Nubuat Yeremia tentang “Tunas keadilan” yang menubuatkan tentang kedatangan Mesias, yaitu Yesus Kristus yang berasal dari garis keturunan Daud. Penggenapan pertama dari nubuat ini  terjadi ketika IA datang pertama kali. Melalui kelahiran, kematian dan kebangkitanNya. IA menjadi Raja atas seluruh umat Allah di bumi. Penggenapan terakhir akan terjadi ketika IA datang kembali untuk kedua kalinya yaitu untuk “melaksankan keadilan dan kebenaran di seluruh bumi (Yeremia 23:5-6).

3. KHOTBAH : 1 TESALONIKA 3:9-13

Tesalonika adalah ibu kota provinsi Roma di Makedonia, yang terletak sekitar 160 km di sebelah Barat Daya Filipi; kota ini merupakan ibu kota dan pelabuhan yang paling terkemuka di Makedonia, sebuah propinsi Romawi. Tesalonika merupakan kota perdagangan dengan perekonomian yang terus meningkat sehingga menjadikan kota pertemuan dari berbagai budaya dan kepercayaan (multiple). Kebanyakan penduduk disini adalah penyembah berhala atau dewa-dewa. Banyak warganya yang menyembah berhala-berhala sebelum mereka menjadi Kristen (1:9). Melalui pelayanan misi yang dilakukan Paulus, akhirnya mereka menjadi orang yang setia kepada Tuhan, serta melalui mereka firman Tuhan telah tersebar di wilayah itu (1:7-8).

Paulus mendirikan jemaat Tesalonika dan dengan sukacita ia memuji jemaat Tesalonika atas semangat dan iman mereka yang tabah di tengah segala penderitaan (1:2-10; 2:13-16). Paulus menekankan perlunya dan pentingnya kekudusan dan kuasa dalam kehidupan orang Kristen. Orang percaya harus kudus (3:13; 4:1-8; 5:23-24) Tetapi, kemudian Paulus mendapat perlawanan dari orang-orang Yahudi yang merasa iri hati melihat keberhasilan pelayanan yang dilakukan oleh Paulus di tengah-tengah orang bukan Yahudi. Karena itu, Paulus terpaksa meninggalkan Tesalonika.

Selanjutnya, Paulus pergi ke Berea dimana sekali lagi pelayanan singkatnya yang berhasil, dihentikan oleh penganiayaan yang timbul karena orang Yahudi yang mengikuti dia dari Tesalonika (Kis.17:10-13). Paulus mengutus Timotius  kembali ke Tesalonika untuk menyelidiki keadaan jemaat yang ada di sana (3:1-5) sedangkan Paulus pergi ke Korintus (Kis. 18:1-17). Setelah menyelesaikan tugasnya, Timotius pergi ke Korintus untuk melaporkan kepada Paulus mengenai gereja di Tesalonika (3:6-8).

Ketika Paulus mendengar kabar dari Timotius tentang keberadaan jemaat yang ada di Tesalonika, bagaimana responnya (1 Tesalonika 3:9-13) ?

Bersyukur kepada Tuhan (ay.9)

Paulus sungguh-sungguh bersyukur kepada Tuhan, ia merasa senang bahwa orang-orang yang menjadi pengikutnya berdiri teguh. Sukacita yang dirasakannya seperti sukacitanya orangtua yang bangga akan anaknya yang telah melakukan sesuatu dengan sangat baik.

Mendoakan Jemaat Tesalonika (ay. 10-12)

Paulus membawakan jemaat Tesalonika ke dalam doanya. Bila kita tidak dapat melayani orang karena  berada jauh dari mereka, seperti yang terjadi pada Paulus, masih ada satu hal yang dapat kita perbuat, yaitu berdoa bagi mereka. Inilah yang dilakukan oleh  Paulus terhadap jemaat Tesalonika. Di dalam doanya, Paulus menyampaikan harapannya kepada Tuhan yaitu membukakan baginya jalan untuk dapat bertemu dengan jemaat yang ada di Tesalonika. Paulus berdoa kepada Allah agar Dia memampukan orang-orang Tesalonika memenuhi hukum kasih dalam hidup sehari-hari, agar mereka  bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang sama seperti Paulus mengasihi semua jemaat yang ada di Tesalonika. Di sini, kita dapat melihat bahwa peran Allah sangat penting dalam kehidupan kita, terlebih dalam menghadapi persoalan dalam kehidupan setiap hari. Tanpa pertolongan dari Allah kita tidak dapat menjalani kehidupan kita dengan baik.  

Doa Paulus agar jemaat “tak bercacat dan kudus” (ayat 13)

Paulus berdoa kepada Allah agar ketika kedatangan Kristus yang kedua kali, manusia akan berdiri dihadapanNya. Doanya, agar Allah memelihara umatNya di dalam kebenaran sehingga tidak dipermalukan pada hari Tuhan datang. Jalan satu-satunya untuk untuk menyiapkan pertemuan dengan Allah adalah menjalani hidup sehari-hari bersama Dia. Paulus sering berdoa dengan mengingat kedatangan Kristus (bd. Filipi 1:10). Dia menganggap sesuatu yang menyedihkan jikalau di gereja terdapat orang yang hidup dalam dosa atau kesuaman ketika Tuhan datang kedua kalinya. Kedatangan Kristus yang kedua kalinya harus disambut dengan keadaan “tak bercacat dan kudus”. Kita harus berserah sepenuhnya kepada Tuhan dan berpisah dari segala sesuatu yang tidak berkenan kepadanNya.

APLIKASI

Tema khotbah minggu ini adalah Tak Bercacat dan Kudus Di Hadapan Allah, menuntun kita menyadari bahwa sebenarnya kita adalah manusia yang tidak layak di hadapan Tuhan. Kita adalah manusia yang berdosa, dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma3:23) dan upah dosa adalah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Roma 6:23). Sebab karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usaha kita tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaan kita; semuanya adalah karena kasih karunia Allah dalam kehidupan kita sehingga kita dilayakkan untuk mendapatkan keselamatan. Dalam masa penantian kedatangan Kristus yang kedua kali, kita di dorong untuk tetap hidup setia kepadaNya serta hidup tak bercacat dan kudus di hadapan Allah.

Penantian yang kita lakukan, bukanlah yang hanya menunggu tanpa berbuat apapun, tetapi penantian yang tetap setia  melakukan kehendak Tuhan, yaitu :

 Kita harus menguatkan hati kita. Tetap sabar dalam menantikan kedatangan Kristus yang kedua kalinya, yang kita tidak tahu kapan waktunya. Ketika Tuhan datang didapatiNya kita tetap setia kepadaNya.

Tidak bercacat dan kudus.Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Petrus 1:16). Demikian juga dalam 1 Petrus 3:11-12 “Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha untuk mendapatkannya. Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telingaNya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.” Karena itu, “Usahakanlah dirimu supaya sempurna” (2 Korintus 13:11b). Tubuh kita sama sekali tidak boleh dicemarkan oleh kenajisan atau kejahatan apapun, baik oleh pikiran, keinginan, dan tindakan dosa. Tetapi sebaliknya, kita harus hidup sedemikian rupa sehingga menghormati dan memuliakan Allah dengan tubuh kita.

Tetaplah Berdoa. Mengucap syukur dalam segala hal, sebab itu yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kita (1 Tesalonika 5:17-18)

Pdt. Crismori V. Br Ginting Manik

GBKP Sitelusada

Khotbah Minggu Tgl 21 November 2021 : Masmur 90:1-12

Invocatio      : La lit ise pe si ngasup ngambati kematenna, ntah nuncun wari kematenna.     Enda me sada peperangen si la          tersilahken; penipu pe la terpulahisa bana i jenari (Peng. 8:8).

Ogen           : Ketangkasen 1: 4-8

Khotbah       : Masmur 90:1-12

Tema            : Ngerti Gendekna Umur Manusia (Bhs.Indo: Memahami betapa      terbatasnya usia manusia)

Pendahuluan

           “Dunia ini bukanlah rumahku, Semua yang ada hanya sementara, Tak ada satupun yang dapat kubawa Saat ku kembali pada-Nya, Ku sadari singkat hidup ini Seperti embun pagi yang datang dan pergi, Selama kuhidup senangkan hatiMu Ku yakin kembali pada-Mu” potongan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Maria Shandi dengan judul “Dunia ini bukanlah rumahku”.

          Lagu ini mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak ada yang abadi, tidak ada seorangpun yang mampu menolak dan menghindar dari kematian. Dalam kehidupan kita saat ini, saya rasa kita pernah melihat kematian orang lain atau kematian orang terdekat kita. Menyaksikan hal tersebut tidak menjamin bahwa manusia akan mengingat kematiannya atau kehidupan yang singkat.

Pendalaman Teks

Masmur 90:1-12

          Secara umum syair-syair dalam kumpulan Mazmur bertujuan sebagai doa dan pujian di tengah umat, digunakan secara personal maupun komunal, dan biasanya Mazmur ini dinaikkan dalam Bait Allah serta sebagai bahan liturgis dalam ibadah Isarel. Mazmur 90 adalah sebagai doa, keluhan dan permohonan Musa kepada Tuhan pada masa perjalanan Israel menuju ke tanah Kanaan. Mazmur ini ditulis sebagai pengingat bagi Israel bahwa mereka pernah memberontak kepada Tuhan, dan Tuhan tetap mengasihi walaupun dengan adanya konsekuensi.

          Kesadaran Musa akan cinta Allah menjadi pengingat bahwa di dalam kehidupan manusia yang diselimuti penderitaan dan fana, Allah menjadi jalan keluar dan jawaban satu-satunya sebagai tempat perlindungan yang tepat bagi manusia. Ada pengharapan baru bagi Musa di dalam kesesakannya. Mazmur ini khususnya dalam pasal 3-12 merupakan refleksi atas kesementaraan hidup manusia. Hal ini dilihat oleh pemazmur bahwa betapa mudahnya Allah “memusnahkan” manusia (ay 5), tetapi manusia sering lupa dengan terbatasnya hidup di dunia ini. Pemazmur juga mengatakan bahwa hidup yang bijaksana justru muncul jika kita bisa memperhitungkan kematian yang akan datang (ay 12). Kalau kematian itu sesuatu yang pasti akan datang, maka kehidupan yang baik dimulai jika kita memikirkan akhir daripada hidup itu. Akan tetapi hal ini yang menjadi sulit ketika diperhadapkan kepada manusia.

          Kehidupan manusia diperbandingkan dengan kekekalan Allah. Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami. Pemazmur mulai dengan menyebut keyakinannya akan kekekalan Allah (bdg. Ul. 33:27). Sesungguhnya, semua angkatan (versi LAI, turun-temurun) mengetahui bahwa hal itu benar. Tuhan bersifat kekal; sedang manusia bersifat fana. Tuhan tidak terikat pada waktu; manusia selalu terikat pada waktu. Tuhan ada dari kekal sampai kekal; manusia, seperti rumput, hidupnya singkat. Gaya bahasa kiasan pada ayat 4-6 bukan hanya menonjolkan betapa singkatnya atau rapuhnya hidup ini, melainkan juga ketergantungan manusia kepada Yang Kekal. Nasib manusia pasti ada di tangan Allah, kembali kepada debu atas perintah-Nya dan hilang bagaikan tersapu oleh air bah.

          Sama halnya dengan masa pandemi saat ini yang mempertontonkan bagaimana ringkih dan rapuhnya kehidupan manusia. Kita diperhadapkan dengan situasi yang tidak mampu kita kendalikan dan hindari, salah satunya adalah kematian orang-orang yang ada di sekitar kita. Walupun ini sangat dekat dengan kita, tetapi ini tidak menjamin bahwa kita akan menyadari kehidupan kita yang singkat ini, sehingga seringkali kita menutup mata bahwa kita membutuhkan tempat perlindungan yang kekal yaitu Allah (ay 1).

          Ketamakan, keegoisan, kekayaan duniawi seringkali membutakan kita terhadap hidup kita yang singkat ini. Seperti yang tertulis di dalam invocatio kita bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menunda kematian atau bahkan menghindarinya. Kematian merupakan bagian yang integral dari kehidupan manusia, itulah alasan mengapa manusia menjadi makhluk yang terbatas dan fana. Keterbatasan dan kefanaan manusia terlihat jelas dalam ketidakmamampuan kita hadir di berbagai tempat dalam waktu yang sama. Inilah yang pemazmur mau memberitahukan kepada  kita, bahwa waktu kita melihat pada kesementaraan hidup manusia, itu bukan sesuatu yang harus dilihat sebagai hal negatif. Itu sesuatu yang justru membuat kita lebih mengerti apa yang namanya: hidup.

          Dalam buku “Labirin kehidupan” yang ditulis oleh Joas Adiprasetya, dia menuliskan mengenai Ars Moriendi atau seni mati. Karya ini muncul pertama kali di abad ke-15, sebagai sebuah jawaban Imani atas pristiwa wabah serempak di Eropa pada tahun 1346-1353 yang kerap dijuluki “kematian hitam”. Pada saat ini percakapan mengenai kematian bukanlah menjadi hal yang kerap diperbincangkan dengan adanya kesadaran bahwa kematian itu menjadi realita dalam kehidupan manusia, sehingga kematian yang biasanya kita sangkal, pada saat ini bisa momen kita berdamai dengan kematian dan menghidupi kehidupan ini dengan baik.

Refleksi

          Terlepas dari siap atau tidak siap, mau atau tidak mau, besok, lusa, atau waktu ke depan, kematian akan menjadi bagian kita. Sebagai orang percaya kita bersiap diri untuk menghadapi kematian. Bagaimana caranya? Yaitu dengan menjalani hidup sebagaimana Tuhan kehendaki dan mengingat betapa singkatnya hidup di dunia ini. Hidup dalam kebenaran dan kasih antara seorang dengan yang lain. Cara ini mungkin akan memberikan cara pandangan kita terhadap kematian dan kehidupan yang singkat ini. Kematian tidak lagi menjadi ketakutan, melainkan dipahami sebagai akhir dari perjalanan hidup kita di dunia ini. Tidak ada cara untuk mengatasi kematian kecuali berdamai dan benar-benar memahami kenyataan bahwa kematian itu adalah bayang-bayang yang sudah ada sejak kita lahir dan menjalani hidup sehari-hari sebaik mungkin. Kalimat penutup yang saya pakai dari ungkapan Jeremy Schwartz dengan bijak mengatakan “Hiduplah setiap hari seolah-olah itulah hari terakhirmu, sebab suatu hari, hari itu sungguh-sungguh menjadi hari terakhirmu”. Bersukacitalah dengan memahami singkatnya hidup ini.

Det. Febi Melinda Br Tarigan-

  Perp. Purwakarta

Info Kontak

GBKP Klasis Jakarta - Kalimantan
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate